Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Sahabat yang dirahmati Allah, … Sering kali kita merasa cemas, takut, dan tak berdaya ketika harus berhadapan dengan tekanan situasi yang mencekam, atau ketika harus menghadapi sosok manusia yang memiliki otoritas dan watak yang keras. Rasa takut adalah hal yang manusiawi. Namun, bagi seorang mukmin yang memiliki kedalaman hikmah, ia tahu persis bagaimana cara memotong rasa takut kepada makhluk, yaitu dengan cara membesarkan rasa takut dan tawakalnya hanya kepada Allah SWT.
Ketika kepasrahan kepada Allah sudah mencapai puncaknya, maka rumus-rumus logika manusia akan patah. Allah SWT berkuasa penuh untuk membalikkan hati manusia yang paling keras sekalipun, mengubah singa yang siap menerkam menjadi kucing yang patuh, dan mengubah kebencian yang membara menjadi penghormatan yang mendalam.
Mari kita tadaburi janji Allah SWT bagi hamba-Nya yang menyerahkan segala urusannya hanya kepada-Nya:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهِ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
"Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." (QS. At-Talaq: 3)
Rasulullah SAW juga mengajarkan kepada kita bahwa jika kita menjaga hak-hak Allah dalam kondisi lapang, maka Allah akan menjaga kita dalam kondisi paling sempit sekalipun. Beliau bersabda:
احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
"Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau memohon (meminta), mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah." (HR. Tirmidzi)
2. Pelajaran dan Pesan
Pesan moral yang sangat tinggi dari sunnatullah ini adalah: Jangan pernah mengemis rida kepada makhluk dengan cara menggadaikan prinsip kebenaran. Orang yang bijaksana tidak akan membiarkan hatinya dijajah oleh rasa takut kepada manusia yang sama-sama bernyawa dan sama-sama akan mati. Ketika kita meletakkan Allah sebagai satu-satunya tempat berlindung, maka semua ancaman manusia di dunia ini hanyalah seperti gertakan angin lalu yang tidak memiliki daya apa-apa tanpa izin-Nya.
Mari kita saksikan sebuah fragmen sejarah yang menegangkan sekaligus mengharukan. Ulama besar tabiin, Imam Hasan al-Basri, menyampaikan kritik tajam terhadap kebijakan gubernur Irak yang sangat kejam dan tangan besi, Al-Hajjaj bin Yusuf al-Thaqafi. Mendengar kritik tersebut, Al-Hajjaj murka luar biasa. Ia segera memanggil algojo, menyiapkan pedang, membentangkan kulit tempat eksekusi mati, dan memerintahkan pengawal untuk menyeret Hasan al-Basri ke istananya.
Ketika Hasan al-Basri masuk ke dalam ruangan, melihat pedang sudah terhunus dan algojo sudah siap memenggal lehernya, suasana menjadi sangat mencekam. Orang-orang di sekitar menahan napas, mengira hari itu adalah hari terakhir bagi sang ulama.
Namun, apa yang dilakukan Hasan al-Basri? Beliau tidak menangis, tidak pucat, dan tidak berlutut meminta maaf. Beliau melangkah dengan tenang, menggerakkan kedua bibirnya membaca sebuah doa tawakal yang memotong seluruh rasa takutnya:
اللَّهُمَّ يَا مَلَاذِي عِنْدَ كُرْبَتِي، وَيَا صَاحِبِي عِنْدَ شِدَّتِي، اجْعَلْ نِقْمَتَهُ عَلَيَّ بَرْدًا وَسَلَامًا كَمَا جَعَلْتَ النَّارَ بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ
"Ya Allah, wahai tempat perlindunganku dalam kesusahanku, wahai temanku dalam kesulitanku, jadikanlah kemarahannya kepadaku menjadi dingin dan keselamatan, sebagaimana Engkau telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Ibrahim."
Seketika itu juga, sebuah keajaiban terjadi. Begitu Hasan al-Basri mendekat, Allah membalikkan hati Al-Hajjaj secara total. Singa yang tadinya mengaum murka mendadak gemetar. Al-Hajjaj berdiri dari kursi kebesarannya, menyambut sang ulama dengan ramah, mendudukannya di samping takhtanya, bahkan meminta nasihat agama. Sebelum pulang, Al-Hajjaj justru memberikan wewangian terbaik pada janggut sang ulama dan mengantarnya dengan penuh hormat.
Setelah keluar dari istana, sang algojo yang kebingungan bertanya, "Wahai Imam, tadi aku dipanggil untuk memenggal kepalamu, tapi mengapa yang terjadi justru sebaliknya?" Hasan al-Basri tersenyum dan membuka rahasia kekuatan doanya. Sebuah kejadian yang membuktikan bahwa kendali hati manusia ada di tangan Allah, bukan pada kilatan pedang penguasa.
Bayangkan Anda sedang menonton sebuah pertunjukan boneka robot yang digerakkan menggunakan remote control. Boneka robot itu tampak sangat besar, berwajah seram, dan memegang senjata mainan yang diarahkan kepada Anda. Orang yang tidak mengerti akan ketakutan dan lari terbirit-birit melihat boneka seram tersebut.
Namun, orang yang cerdas tidak akan melihat ke arah boneka itu. Pandangannya akan langsung mencari siapa orang yang sedang memegang remote control-nya. Ia akan mendekati pemegang remote tersebut dan meminta agar boneka itu dimatikan atau diubah gerakannya.
Manusia yang zalim, bos yang kejam, atau situasi yang mengancam kita, sejatinya hanyalah "boneka-boneka" di panggung dunia. Remote control hati dan nasib mereka sepenuhnya berada di tangan Allah SWT. Jangan sibuk mengemis pada "boneka", tapi mendekatlah kepada Sang Pemilik Remote, maka Dia akan mengubah situasi dalam sekejap mata.
Kita ini kadang kalau urusan takut memang suka salah alamat. Ada orang yang kalau mau menghadap bosnya untuk mempertahankan idealisme atau melaporkan kecurangan, gemetarnya seperti orang terserang demam panggung. Jantung berdebar-debar, keringat dingin bercucuran, sampai salah pakai sepatu sebelah kanan dan kiri.
Pas ditanya, "Kamu takut banget, emangnya bos kamu bisa mencabut nyawamu?"
Jawabannya, "Nggak sih Ustadz, tapi saya takut kalau jabatannya digeser atau tunjangannya dipotong."
Tapi lucunya, giliran menghadap Allah dalam shalat subuh, jalannya santai sekali seperti tidak punya beban hidup. Datangnya telat, shalatnya kilat mirip gerakan senam, dan setelah salam langsung kabur tanpa zikir. Kita super takut kepada bos yang kalau dia bersin saja harus pakai tisu, tapi kita tidak punya rasa takut dan hormat kepada Allah yang memegang napas kita setiap detik! Ingat, bos Anda itu tidak punya kunci surga, dan tidak bisa menyelamatkan Anda kalau nanti "tunjangan" nyawa Anda dihentikan oleh Malaikat Maut. Jadi, kalau mau menghadap manusia yang punya kuasa, baca doa, tegakkan dada, karena bos yang paling galak sekalipun kalau perutnya mulas tetap saja harus lari ke kamar mandi!
3. Kesimpulan dan Penutup
Sahabat sekalian, keteguhan jiwa Hasan al-Basri mengajarkan kita sebuah pelajaran abadi: ketika kita berani berpihak kepada Allah, maka Allah akan memaksa dunia untuk bertekuk lutut di hadapan kita. Jangan pernah biarkan rasa takut kepada makhluk membuat kita mundur dari jalan kebenaran. Potonglah rasa takut itu dengan pisau tawakal, bentengi jiwa dengan doa yang tulus, dan yakinlah bahwa tidak ada satu pun makhluk yang bisa membahayakan kita jika Allah telah menuliskan keselamatan untuk kita.
Semoga Allah SWT senantiasa mengaruniakan keberanian para nabi dan keteguhan hati para ulama ke dalam dada kita semua.
. والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie