Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Sahabat yang dimuliakan Allah, sering kali mata kita tertipu oleh dekorasi dunia. Kita hidup di era di mana status sosial seseorang sering diukur dari tempatnya bekerja, keharuman ruangannya, atau kemewahan seragamnya. Kita cenderung menghormati mereka yang berdasi di gedung-gedung tinggi, dan menutup mata dari mereka yang berpeluh keringat di sudut-sudut sepi.
Namun, mari kita bersihkan kacamata iman kita. Kepahlawanan seorang mukmin yang sejati adalah ketika ia mampu melihat menembus batas-batas fisik tersebut. Di mata Allah SWT, kemuliaan sebuah profesi sama sekali tidak ditentukan oleh keindahan lokasinya, melainkan oleh kehalalan esensinya dan bagaimana profesi itu menjaga kehormatan serta ketaatan kepada-Nya.
Mari kita tadaburi firman Allah SWT mengenai kepalsuan kesenangan duniawi yang sering kali menipu pandangan mata:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
"Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. Ali 'Imran: 185)
Sebaliknya, Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bekerja keras demi menjaga diri dan keluarganya dari meminta-minta, meskipun pekerjaan itu terlihat kasar di mata manusia. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang sangat menyejukkan jiwa para pekerja keras:
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
"Tidak ada seseorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik daripada ia memakan hasil dari usaha tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Dawud Alaihissalam dahulu selalu makan dari hasil usaha tangannya sendiri." (HR. Bukhari)
2. Pelajaran dan Pesan
Pesan moral yang sangat tinggi dari hakikat ini adalah: Kemuliaan sejati terletak pada rida Allah, bukan pada pandangan kagum manusia. Sebuah toko yang mewah, ber-AC dingin, berlantai marmer mengilap, dan harum semerbak, namun di dalamnya terdapat kemaksiatan—seperti mengeksploitasi penampilan wanita seksi demi menarik pelanggan atau melakukan transaksi culas—sejatinya adalah jalan yang mulus menuju murka Allah dan neraka-Nya.
Sebaliknya, sebuah bengkel mobil yang kumuh di gang belakang, suasananya berisik oleh hantaman martil, udaranya panas, dan lantainya penuh dengan tumpahan minyak hitam, asalkan dijalankan dengan kejujuran dan menjaga batas syariat, adalah sebuah madrasah ketakwaan dan jalan tol menuju rida Allah SWT.
Mari kita kenang sebuah peristiwa yang sangat mengharukan dalam sirah nabawiyah. Suatu ketika, Rasulullah SAW baru saja kembali dari Perang Tabuk. Beliau melihat tangan salah seorang sahabat bernama Sa'ad al-Anshari. Tangan Sa'ad tampak melepuh, kulitnya legam, kasar, dan pecah-pecah karena setiap hari membelah batu dan mencangkul tanah demi menafkahi keluarganya.
Melihat tangan yang kasar itu, Rasulullah SAW tidak menjauh atau merasa risih. Sebaliknya, beliau justru meraih tangan Sa'ad al-Anshari, menggenggamnya dengan penuh rasa hormat, lalu mencium tangan kasar tersebut di hadapan para sahabat lainnya.
Sambil memegang tangan Sa'ad, Rasulullah SAW bersabda dengan suara yang menggetarkan jiwa: "Inilah kedua tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka."
Bayangkan, tangan yang kotor oleh tanah dan batu justru menjadi tangan yang paling mulia karena kehalalannya. Ini adalah tamparan keras bagi kita yang sering kali malu memiliki pekerjaan yang kasar, padahal di situlah letak pandangan kasih sayang Allah.
Bayangkan Anda melihat dua buah botol. Botol pertama adalah botol parfum kristal yang sangat indah, ukirannya menawan, dan diletakkan di lemari kaca yang mewah. Namun, tahukah Anda apa isinya? Isinya adalah cairan racun mematikan yang jika terminum sedikit saja akan menghancurkan organ tubuh.
Di sebelahnya, ada sebuah botol plastik kecil yang buram, kusam, berminyak, dan diletakkan di kotak obat yang berdebu. Tetapi, di dalam botol plastik itulah tersimpan cairan obat herbal penawar penyakit yang bisa menyelamatkan nyawa manusia.
Manusia yang cerdas pasti tidak akan memuji botol parfum kristal itu dan mengabaikan botol plastik obat. Begitulah dunia. Jangan sampai kita mengejar "botol kristal" pekerjaan mewah yang beracun bagi iman kita, dan meremehkan "botol plastik" pekerjaan kasar yang justru menjadi obat keselamatan akhirat kita.
Zaman sekarang ini memang banyak paradoks yang menggelitik. Ada orang yang kalau ditanya oleh calon mertuanya, "Nak, kerjamu di mana?"
Dengan bangga dan dada membusung dia menjawab, "Saya manajer operasional di pusat hiburan malam paling hits di kota ini, Om. Ruangannya wangi, pakaian saya selalu necis, dan tiap hari ketemu artis!" Sang calon mertua pun langsung tersenyum lebar dan memberikan restu.
Sementara di sudut lain, ada pemuda shaleh yang kalau ditanya pekerjaan, dia menjawab pelan sambil garuk-garuk kepala, "Saya cuma buka bengkel las dan servis motor di gang belakang rumah, Om. Tiap hari muka saya hitam kena jelaga, baju saya bau oli, dan kuku saya tidak pernah bersih." Sang calon mertua langsung batuk-batuk kecil dan mencari alasan untuk menyudahi obrolan.
Padahal kalau kita pakai kalkulator akhirat, pemuda bengkel itu setiap kali tangannya terkena oli sambil berzikir, dosa-dosanya ikut luntur bersama tetesan oli tersebut. Sedangkan pemuda di pusat hiburan malam, setiap kali dia melihat kemaksiatan, "pajak" dosanya terus menumpuk walau badannya wangi parfum impor! Jadi, buat apa punya menantu yang pakaiannya wangi di dunia, tapi di akhirat nanti "bau gosong" karena murka Allah?
3. Kesimpulan dan Penutup
Sahabat sekalian, mari kita tata kembali standar kesuksesan hidup kita. Sukses itu bukan tentang seberapa wangi ruangan kerja kita, bukan tentang seberapa kilap lantai tempat kita berpijak, dan bukan pula tentang seberapa dihormatinya jabatan kita di mata manusia. Sukses hakiki adalah seberapa bersih harta yang kita bawa pulang ke rumah untuk menyuapi anak dan istri kita.
Jangan pernah minder dengan pakaian yang kotor oleh minyak, jangan pernah malu dengan wajah yang lelah karena mencari yang halal. Selama jalan yang kita tempuh lurus di atas syariat Allah, tegakkan kepala Anda. Sebab, bisa jadi keringat Anda yang berbau oli di bumi itu, justru beraroma seharum minyak kesturi di hadapan para malaikat di langit.
. والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie