Kisah perjalanan Baginda Nabi Muhammad ﷺ saat berusia 12 tahun menuju Syam adalah salah satu fragmen sejarah yang paling menggetarkan hati. Di sana, kita melihat bagaimana tanda-tanda kebesaran Allah menyertai Sang Yatim, bahkan sebelum risalah resmi turun.

Berikut adalah uraian penuh hikmah mengenai peristiwa tersebut:

1. Kesetiaan dan Kasih Sayang Sang Paman

Abu Thalib sangat mencintai keponakannya. Ketika kafilah dagang Quraisy bersiap menuju Syam (Suriah), Abu Thalib awalnya berniat meninggalkan Muhammad kecil di Mekkah. Namun, rasa rindu dan tak tega melihat kesedihan di mata sang keponakan membuatnya luluh.

Pelajaran: Cinta kasih dalam keluarga adalah pondasi kekuatan. Allah menitipkan Nabi-Nya kepada paman yang penuh kasih untuk menunjukkan bahwa meskipun yatim piatu, beliau tidak pernah sendirian.

2. Awan yang Menaungi .

Dalam perjalanan yang terik di padang pasir, para saksi melihat keajaiban: ke mana pun Muhammad ﷺ melangkah, kumpulan awan selalu bergerak memayunginya.

 Ini Hadis (Potongan Riwayat Bahira):

فَلَمَّا دَنَوْا مِنَ الصَّوْمَعَةِ، رَأَى بَحِيرَا فِي الْغَمَامَةِ أَنَّهَا تُظِلُّهُ مِنْ بَيْنِ الْقَوْمِ، ثُمَّ نَزَلُوا فِي ظِلِّ شَجَرَةٍ، فَنَظَرَ إِلَى الْغَمَامَةِ حِينَ أَظَلَّتِ الشَّجَرَةَ، وَهَصَرَتْ أَغْصَانُ الشَّجَرَةِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ اسْتَظَلَّ تَحْتَهَا

"...Maka ketika mereka (kafilah) mendekat ke kuil, Bahira melihat awan tersebut menaungi beliau di antara orang-orang tersebut. Kemudian mereka singgah untuk berteduh di bawah sebuah pohon, lalu Bahira melihat awan tersebut tetap menaungi pohon itu, dan dahan-dahan pohon itu merunduk (condong) menaungi Rasulullah ﷺ saat beliau berteduh di bawahnya."

(HR. At-Tirmidzi, No. 3620)

3. Pertemuan dengan Pendeta Bahira

Sesampainya di Bushra, seorang pendeta Nasrani bernama Bahira melihat keanehan pada kafilah tersebut. Ia mengundang seluruh anggota kafilah untuk makan siang—sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.

Bahira memperhatikan Muhammad ﷺ dengan saksama. Ia memeriksa tanda kenabian (Khataman Nubuwwah) di antara kedua pundak Nabi dan bertanya tentang kebiasaan tidur serta keseharian beliau. Semuanya cocok dengan catatan di kitab suci terdahulu.

Hikmah: Kebenaran akan selalu menemukan jalannya. Ilmu yang tulus (seperti yang dimiliki Bahira) akan membimbing seseorang untuk mengenali cahaya kebenaran, meskipun ia datang dari luar kelompoknya.

4. Pesan Bahira kepada Abu Thalib

Bahira berpesan kepada Abu Thalib:

ارْجِعْ بِابْنِ أَخِيكَ إِلَى بَلَدِهِ وَاحْذَرْ عَلَيْهِ الْيَهُودَ فَوَاللَّهِ لَئِنْ رَأَوْهُ وَعَرَفُوا مِنْهُ مَا عَرَفْتُ لَيَبْغُنَّهُ شَرًّا فَإِنَّ لِابْنِ أَخِيكَ هَذَا شَأْنًا عَظِيمًا.

"Bawalah keponakanmu ini pulang. Jagalah dia dari orang-orang Yahudi. Demi Allah, jika mereka melihatnya dan mengetahui apa yang aku ketahui, mereka akan mencelakainya. Keponakanmu ini akan memegang urusan yang besar."

Abu Thalib pun segera menyelesaikan urusannya dan membawa Muhammad ﷺ kembali ke Mekkah demi keselamatannya.

Pelajaran Hidup untuk Kita:

  • Kesabaran dalam Perjalanan: Hidup adalah perjalanan panjang (safar). Seperti Nabi yang tetap tenang di bawah terik, kita harus yakin bahwa perlindungan Allah selalu ada bagi mereka yang jujur.
  • Kepekaan Hati: Jadilah seperti Bahira yang mampu membaca "tanda-tanda" kebaikan pada diri orang lain dan berani menyuarakan kebenaran.
  • Perlindungan Ilahi: Jika Allah sudah menetapkan kemuliaan bagi seseorang, tak ada satu pun makhluk yang bisa menghalanginya.

 

Abu Sultan Al-Qadrie