Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Sahabat yang dirahmati Allah, banyak di antara kita menunda belajar atau membaca karena menunggu datangnya "waktu luang" yang panjang. Padahal, di tengah kepungan kesibukan harian, waktu luang yang berjam-jam itu hampir tidak pernah ada. Secara neurosains dan psikologi kognitif modern, ada sebuah metode efisien yang disebut micro-learning—yaitu memanfaatkan pecahan-pecahan waktu kecil yang sempit untuk menyerap informasi dalam jumlah sedikit, namun dilakukan secara berulang dan rutin. Otak manusia justru lebih mudah mengikat memori jangka panjang melalui stimulasi berkala ini daripada dipaksa menerima informasi sekaligus dalam jumlah besar.
Islam sejak 14 abad yang lalu telah mengisyaratkan konsep ini melalui anjuran berzikir dan mengingat Allah di setiap helaan napas dan kondisi, sekecil apa pun celah waktunya. Ilmu tidak menuntut kita menjadi pengangguran yang seharian hanya membaca, melainkan menuntut kita menjadi hamba yang pandai menyisipkan kebaikan di setiap sela aktivitas.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang hamba-hamba pilihan yang memanfaatkan setiap perubahan kondisi dan waktu untuk berpikir:
ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ
"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi." (QS. Ali 'Imran: 191)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan peluang sekecil apa pun sebelum kesempatan itu hilang:
ٱغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ ... وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ
"Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara... (salah satunya) waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu." (HR. Al-Hakim)
2. Pelajaran dan Pesan
Mari kita bayangkan seorang pekerja kasar, atau seorang ibu yang harus berjuang mengurus rumah tangga pasca-bencana melanda tempat tinggalnya. Dari pagi buta hingga malam hari, tangannya penuh dengan cucian, puing-puing, dan urusan dapur. Lelah fisik tidak perlu ditanya lagi.
Namun, jika kita perhatikan dengan saksama, di dekat meja dapur atau di saku bajunya yang lusuh, terselip beberapa lembar kertas kecil berisi catatan satu ayat Al-Qur'an atau satu hadis pendek. Saat menunggu air mendidih, matanya melirik kertas itu. Saat duduk melepas lelah selama tiga menit, lisannya melafalkan baris ilmu tersebut. Air matanya menetes pelan, bukan karena meratapi nasibnya yang penat, melainkan karena rasa syukur yang buncah; di tengah himpitan dunia yang melelahkan, ia masih diizinkan Allah mencuri waktu untuk memberi makan ruhaninya. Sungguh, itu adalah pemandangan yang menyentuh hati sekaligus tamparan bagi kita yang memiliki banyak waktu luang namun habis untuk kesia-siaan.
Sahabat, bayangkan sebuah celengan bambu yang kosong. Jika kita menunggu memiliki uang langsung satu juta rupiah untuk dimasukkan ke dalamnya, celengan itu mungkin akan selamanya kosong karena uang sebesar itu jarang kita miliki sekaligus.
Tetapi, bagaimana jika setiap kali kita memiliki sisa uang receh—seratus rupiah, lima ratus rupiah, atau seribu rupiah yang tercecer di saku—kita masukkan ke dalam celengan itu setiap hari? Tanpa kita sadari, dalam beberapa bulan, saat celengan itu dibongkar, isinya sudah penuh dan menjadi bukit yang menyelamatkan kita.
Waktu kecil kita adalah "uang receh" kehidupan. Membaca satu halaman buku saat menunggu antrean, menghafal satu kosakata saat berada di kendaraan, atau mendengarkan lima menit rekaman ilmiah adalah solusi micro-learning yang nyata. Recehan waktu yang kita kumpulkan itu, lambat laun akan menjelma menjadi samudera ilmu yang luas.
Ada seorang murid yang mengeluh kepada seorang ulama, "Guru, saya mau sekali membaca kitab yang tebal ini, tapi tebalnya seribu halaman! Saya tidak punya waktu luang sebanyak itu."
Sang guru tersenyum lalu mengambil sebilah pisau kecil dan memotong kitab itu menjadi sepuluh bagian tipis-tipis. Sang murid kaget, "Guru, kenapa kitabnya dirusak?" Sang guru menjawab, "Kitab ini tidak dirusak, tapi sedang 'dikunyah'. Sekarang, kantongi satu bagian yang tipis ini ke dalam saku jubahmu. Setiap kali kamu pergi ke pasar atau menunggu makanan dihidangkan, baca dua lembar saja. Kalau belum habis, jangan berani-berani makan siang!"
Ternyata, dalam beberapa bulan, sang murid berhasil mengkhatamkan kitab tebal tersebut tanpa merasa terbebani. Hikmahnya jelas: gajah yang besar sekalipun tidak akan bisa kita telan langsung dalam satu suapan, melainkan harus dipotong kecil-kecil agar bisa dinikmati dengan selamat!
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia , hambatan berupa kesibukan yang menyita waktu dapat diurai dengan kecerdasan membagi fokus melalui micro-learning. Jangan pernah meremehkan waktu lima menit yang kita miliki di sela-sela rutinitas harian. Solusinya sederhana: bawalah buku kecil, simpan materi digital di gawai Anda, lalu bacalah sedikit-sedikit namun rutin setiap hari. Keberkahan ilmu tidak terletak pada seberapa lama kita duduk diam di perpustakaan, melainkan pada seberapa konsisten kita menjaga kedekatan dengan ilmu di setiap rekahan waktu yang Allah berikan.
Mari kita ikat waktu-waktu kecil kita dengan tali ilmu, agar hidup kita senantiasa bernilai ibadah.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie