Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
, Sahabat yang dirahmati Allah. Jika kita membuka lembaran sejarah dari zaman Nabi Adam AS hingga Hari Kiamat kelak, kita akan mendapati sebuah kesimpulan ilmiah yang menggetarkan jiwa: tidak ada satu pun krisis, konflik, pertumpahan darah, atau kesengsaraan yang terjadi di lima benua di bumi ini, kecuali disebabkan oleh tindakan manusia yang menyimpang dari jalan Allah. Dan ketahuilah, akar tunggal dari segala penyimpangan tersebut murni adalah Ketidaktahuan (Jahalah/Kebodohan).
Manusia yang berilmu dan mengenal Tuhannya tidak akan sudi merusak bumi. Sebaliknya, kehancuran terjadi saat manusia bertindak tanpa panduan wahyu. Allah SWT berfirman mengenai asal-mula kerusakan ini:
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
(QS. Ar-Rum : 41)
Penyebab utama dari perbuatan tangan manusia yang merusak itu adalah karena mereka berpaling dari peringatan Allah akibat ketidaktahuan mereka, sebagaimana disindir oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:
وَإِنَّ اللَّهَ يَبْغَضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ فِي الأَسْوَاقِ جِيفَةٍ بِاللَّيْلِ حِمَارٍ بِالنَّهَارِ عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا جَاهِلٍ بِأَمْرِ الآخِرَةِ
"Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandir lagi sombong, suka berteriak di pasar, menjadi bangkai di malam hari (tidur tanpa ibadah), menjadi keledai di siang hari (hanya tahu kerja dunia), dia berilmu tentang urusan dunia namun bodoh tentang urusan akhirat." (HR. Al-Baihaqi)
2. Pelajaran dan Pesan
Pelajaran berharga bagi kita adalah bahwa kemiskinan materi tidak akan menghancurkan sebuah peradaban, namun kemiskinan ilmu dan spiritual pasti akan membinasakannya. Ketika Jahalah (ketidaktahuan) merajalela, manusia kehilangan kompas moralnya; yang haq dianggap batil, dan yang batil dianggap sebagai kemajuan.
Mari kita merenung sejenak pada tragedi kemanusiaan pertama di bumi: kisah Qabil yang membunuh saudara kandungnya sendiri, Habil. Mengapa petaka itu terjadi? Karena ego yang diselimuti oleh Jahalah.
Kejadian yang menyedihkan itu memuncak ketika Habil sudah terbujur kaku menjadi mayat. Qabil tercengang, menangis, dan kebingungan di tengah hutan karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukan pada jasad saudaranya. Al-Qur'an merekam betapa ia baru tersadar setelah melihat seekor burung gagak menggali tanah. Qabil meratap pilu: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini?" Itulah air mata ketidaktahuan—air mata yang terlambat datang setelah petaka besar telanjur terjadi akibat menuruti kebodohan jiwa.
Untuk memahami betapa berbahayanya ketidaktahuan, mari kita buat tamsilan sederhana. Bayangkan ada seorang bayi yang merangkak mendekati colokan listrik bertegangan tinggi. Di tangan bayi itu ada sebuah paku besi. Apakah bayi itu punya niat jahat untuk bunuh diri? Tidak. Apakah dia benci pada orang tuanya? Tidak. Dia mendekati colokan itu sambil tersenyum lucu, murni karena dia tidak tahu (Jahil) bahwa benda itu mematikan.
Ketika paku itu dicolokkan... BZZZTTT! Gosonglah si bayi.
Nah, manusia-manusia di lima benua yang berbuat maksiat, korupsi, membajak hak orang lain, dan menyulut konflik, persis seperti bayi tadi. Mereka mengira sedang mencari kesenangan, padahal karena Jahalah, mereka sedang mencolokkan diri mereka ke dalam murka Allah. Bedanya, bayi itu dimaafkan karena belum mukallaf, sedangkan kita orang dewasa yang malas mengaji akan berakhir "gosong" di akhirat karena sengaja memelihara kebodohan!
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia , sebagai kesimpulan, ketidaktahuan bukanlah musuh yang pasif; ia adalah mesin penghancur massal yang telah menciptakan krisis di muka bumi sejak zaman Nabi Adam AS. Jika kita ingin menghentikan petaka dalam hidup kita, keluarga kita, dan bangsa kita, maka tidak ada jalan lain kecuali mengangkat bendera perang terhadap Jahalah.
Mari hiasi sisa umur kita dengan menuntut ilmu syar'i. Datangi majelis ilmu, dengarkan nasihat para guru, dan terangi jiwa kita dengan cahaya wahyu agar kita tidak menjadi pelaku sejarah yang merusak bumi karena kebutaan hati.
. والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie