Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Sahabat Medsos yang berhati mulia, tahukah Anda apa salah satu keindahan terbesar dalam Islam? Islam adalah agama yang sangat egaliter. Islam tidak mengenal sistem imamat, kasta suci, atau hak prerogatif spiritual yang hanya dimiliki oleh golongan tertentu. Di hadapan Allah, tidak ada "darah biru" dalam hal keimanan.
Secara ilmiah dan teologis, inti sari dari agama ini adalah kedekatan mutlak antara hamba dan Penciptanya tanpa perantara kasta. Siapa pun Anda—apakah Anda seorang pejabat, pengusaha kaya, driver ojek online, atau petugas kebersihan—Anda memiliki peluang dan hak yang sama persis untuk menduduki kasta tertinggi di sisi Allah, yaitu menjadi seorang Waliullah (Kekasih Allah). Syaratnya bukanlah pangkat atau nasab, melainkan iman dan takwa yang tertanam di dalam dada.
Allah SWT menegaskan sistem egaliter yang menyejukkan jiwa ini dalam Al-Qur'an:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al-Hujurat: 13)
Rasulullah SAW juga mempertegas bahwa penampilan fisik dan status sosial sama sekali tidak punya nilai di hadapan Allah dibandingkan dengan hati dan amal:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal-amal kalian." (HR. Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Pesan moral yang sangat mahal dari prinsip ini adalah: Jangan pernah merasa rendah diri di hadapan manusia karena miskinnya harta, dan jangan pernah merasa sombong di hadapan manusia karena tingginya jabatan. Di dunia, kita dibagi-bagi berdasarkan kelas sosial. Namun di langit, satu-satunya hal yang membuat nama kita disebut oleh para malaikat adalah ketulusan hati kita kepada Allah.
Mari kita kenang sebuah kisah mengharukan di zaman Rasulullah SAW tentang seorang sahabat bernama Julaibib. Ia adalah seorang pria yang mohon maaf, wajahnya tidak tampan, miskin, tidak punya nasab mulia, dan hidupnya luntang-lantung di sudut Madinah. Di mata masyarakat, Julaibib adalah orang yang "tidak dianggap".
Namun, ketika Julaibib gugur dalam sebuah pertempuran, Rasulullah SAW mencarinya secara khusus. Ketika jasadnya ditemukan, Rasulullah memangku kepala Julaibib yang penuh debu dan darah, lalu beliau menangis terisak-isak sambil berkata, "Dia adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian darinya." Manusia bumi melihat Julaibib sebagai orang pinggiran yang menyedihkan, tetapi Rasulullah—sang kekasih tertinggi—menyatakan Julaibib adalah bagian dari dirinya. Itulah potret Waliullah sejati yang tersembunyi dari pandangan manusia.
Supaya kita bisa mencerna ini dengan senyuman, mari kita bayangkan sebuah Aplikasi Tiket Bioskop Online atau aplikasi ojek online.
Kalau kita mau pesan tiket VIP lewat aplikasi tersebut, apakah aplikasinya bakal nanya: "Maaf, Anda anak siapa? Muka Anda ganteng atau tidak? Anda punya gelar profesor atau tidak?" Nggak, kan? Aplikasi itu tidak peduli wajah Anda mirip aktor Korea atau mirip talenan dapur. Yang dia peduli cuma satu: Anda punya saldo yang cukup atau tidak untuk beli tiket itu. Kalau saldonya cukup, klik, Anda langsung dapat kursi VIP!
Nah, jalur menjadi Waliullah itu persis seperti sistem aplikasi digital yang egaliter ini. Allah tidak butuh kartu nama kita, tidak butuh foto profil kita yang penuh filter. Yang Allah lihat adalah "saldo" iman dan takwa di dalam hati. Jadi, lucunya, banyak orang di dunia berebut cari "orang dalam" dan koneksi pejabat demi sukses dunia, padahal untuk jadi Kekasih Penguasa Semesta Alam, jalurnya terbuka lebar buat siapa saja tanpa perlu modal orang dalam!
3. Kesimpulan dan Penutup
Sahabat sekalian, kesimpulannya, Islam menghancurkan semua tembok kasta spiritual. Menjadi Waliullah bukanlah sebuah profesi yang butuh sertifikat atau pakaian khusus. Waliullah adalah gelar cinta dari Allah untuk setiap hamba yang berbisik dalam sepinya malam, yang jujur dalam perdagangannya, yang ikhlas dalam pekerjaannya, dan yang menjaga hatinya dari kemaksiatan.
Maka, mulai hari ini, jangan batasi diri kita. Jangan berpikir bahwa kesalehan dan kedekatan dengan Allah hanya milik orang-orang di dalam pesantren atau mereka yang berjubah besar. Anda, di mana pun Anda berada dan apa pun profesi Anda hari ini, berhak dan mampu menjadi kekasih Allah. Bersihkan hati, luruskan niat, dan ketuklah pintu rahmat-Nya.
. والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie