Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Penganaatar

Sahabat yang dirahmati Allah, salah satu penyebab mengapa metode pengajaran terasa tidak efektif adalah karena adanya jarak yang jauh antara isi kurikulum dengan realitas hidup yang dihadapi oleh siswa. Secara ilmiah dalam teori sosiologi pendidikan dan contextual teaching and learning (CTL), materi pelajaran yang terlalu abstrak dan tidak membumi akan ditolak oleh sistem kognitif siswa karena dianggap tidak memiliki fungsi praktis dalam kehidupan mereka. Akibatnya, siswa belajar hanya demi angka di atas kertas, bukan demi pemahaman jiwa.

Islam sangat menekankan pentingnya menyampaikan ilmu sesuai dengan kapasitas akal, latar belakang, dan konteks lingkungan masyarakat yang dihadapi. Solusi nyata dari hambatan ini adalah dengan menyelaraskan atau mengadaptasi kurikulum agar relevan dengan kearifan lokal, kondisi lingkungan pasca-ujian hidup, serta potensi nyata yang ada di sekitar siswa. Ketika kurikulum berbicara tentang realitas hidup mereka, ilmu akan terasa hidup dan fungsional.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang bagaimana Dia mengutus para rasul dengan bahasa dan konteks yang dipahami oleh kaumnya agar pesan-Nya menjadi jelas:

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِۦ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ

"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka." (QS. Ibrahim: 4)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga mendidik umatnya dengan selalu memperhatikan konteks dan kondisi orang yang diajak bicara. Beliau bersabda:

أُمِرْنَا أَنْ نُكَلِّمَ النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُولِهِمْ

"Kami diperintahkan untuk berbicara kepada manusia sesuai dengan kadar kemampuan akal mereka." (HR. Dailami)

2. Pelajaran dan Pesan

Mari kita bayangkan sebuah ruang kelas di sebuah daerah yang masyarakatnya hidup dari sektor pertanian dan perkebunan, namun baru saja bangkit dari ujian ekonomi yang berat. Di sana, seorang guru dipaksa mengajarkan kurikulum kaku yang berbicara tentang teori gedung pencakar langit, manajemen industri robotik global, dan teknologi mutakhir yang tak pernah mereka lihat.

Anak-anak itu duduk tercengang dengan tatapan kosong. Salah seorang anak memandang keluar jendela ke arah hamparan lahan pertanian milik orang tuanya yang terbengkalai, seraya meneteskan air mata. Ia merasa ilmu di sekolah terlalu tinggi dan asing, sedangkan urusan perut dan masa depan keluarganya di bumi nyata sedang terancam. Ia merasa sekolah tidak bisa membantunya hidup. Sungguh menyedihkan ketika kurikulum menjadi menara gading yang mengasingkan anak-anak dari tanah kelahiran mereka sendiri.

Namun, suasana berubah haru dan indah ketika sang guru berinisiatif mengubah konteks: ia memasukkan materi matematika melalui hitungan hasil panen, dan mengajarkan sains lewat biologi pertumbuhan tanaman lokal. Anak itu kembali menegakkan kepalanya, matanya berbinar, karena ia sadar ilmu yang ia pelajari hari itu bisa ia gunakan untuk membantu ayahnya besok pagi.

Sahabat, analoginya seperti membagikan sepasang sepatu kepada anak-anak di sebuah kampung. Jika kita membagikan sepatu bot musim dingin yang sangat tebal, berlapis bulu, dan berukuran raksasa kepada anak-anak petani yang hidup di daerah tropis yang hangat, apa yang terjadi? Sepatu itu tidak akan pernah dipakai. Ia hanya akan disimpan di sudut lemari menjadi pajangan yang berdebu, sementara anak-anak itu tetap bertelanjang kaki melewati jalanan tanah.

Kurikulum yang tidak relevan adalah "sepatu musim dingin" itu. Ia kelihatan mewah di atas kertas, tapi tidak pas di kaki siswa kita. Solusinya, buatlah kurikulum itu seperti sepatu yang pas: ringan, sesuai dengan medan jalanan yang mereka lalui sehari-hari, dan melindungi kaki mereka secara nyata. Ubah materi pelajaran agar membumi dan menyentuh kebutuhan lokal mereka.

Ada kisah jenaka tentang seorang anak sekolah di pesisir pantai yang sedang diuji oleh gurunya dalam pelajaran geografi. Sang guru bertanya, "Budi, coba jelaskan apa yang dimaksud dengan erosi tanah di daerah pegunungan dan bagaimana dampaknya bagi masyarakat kota?"

Budi berpikir keras, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu menjawab dengan polos, "Maaf Guru, saya kurang tahu kalau erosi di gunung. Tapi kalau erosi di laut, saya tahu betul. Dampaknya adalah kalau air pasang naik, ikan asin buatan ibu saya hanyut ke rumah tetangga, dan dampaknya bagi saya adalah saya tidak bisa makan siang karena lauknya hilang!"

Seluruh kelas tertawa. Namun di balik kelucuan itu, ada hikmah mendalam bagi para perumus kebijakan dan guru: akal anak-anak kita akan selalu mengaitkan informasi baru dengan apa yang mereka lihat di depan mata mereka sendiri. Jangan salahkan anak yang tidak mengerti, tapi evaluasilah seberapa membumi kita dalam menyajikan materi pembelajaran.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia, metode pengajaran tidak akan pernah efektif selama kurikulum yang digunakan mengawang-awang di atas awan. Solusi terbaik dari hambatan eksternal ini adalah keberanian para pendidik untuk menyesuaikan kurikulum dengan konteks dan realitas hidup siswa. Masukkan unsur kearifan lokal, potensi alam sekitar, dan kebutuhan nyata masyarakat ke dalam ruang kelas. Ketika kurikulum menjadi relevan, belajar bukan lagi menjadi beban hafalan yang menyiksa, melainkan menjadi petualangan ilmiah yang menyejukkan jiwa dan mendatangkan maslahat yang nyata.

Mari kita bumikan ilmu di bumi tempat kita berpijak, agar ia tumbuh menjadi pohon berkah yang buahnya dinikmati oleh umat.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie