Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, salah satu hambatan eksternal yang paling sering menjebak kita dalam kemandekan adalah keterbatasan waktu. Tuntutan pekerjaan, urusan keluarga, atau keharusan menyelesaikan tanggung jawab harian pasca-ujian hidup sering kali menyita seluruh energi kita. Secara ilmiah dalam ilmu manajemen modern, hambatan ini bukan karena waktu kita kurang—sebab semua orang sama-sama memiliki 24 jam—melainkan karena ketiadaan struktur dan prioritas yang konsisten.

Islam memberikan solusi yang sangat indah: disiplin waktu dan kepatuhan pada komitmen kecil yang konsisten. Dengan membuat jadwal tetap, misalnya mengkhususkan waktu di awal pagi sebelum kesibukan dunia dimulai, atau di keheningan malam hari, kita sedang menyuntikkan keberkahan ke dalam aktivitas harian kita.

Allah Subhanahu wa Ta'ala bersumpah demi waktu untuk mengingatkan manusia akan pentingnya memanfaatkan setiap momentum:

وَٱلْعَصْرِ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ

"Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." (QS. Al-'Asr: 1-3)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga sangat mencintai amalan yang dilakukan secara terjadwal dan terus-menerus meskipun jumlahnya sedikit:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

"Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling fana/konsisten (terus-menerus) meskipun sedikit." (HR. Bukhari)

2. Pelajaran dan Pesan

Mari kita renungkan kisah seorang ayah sekaligus kepala lembaga pendidikan yang seluruh siang dan sorenya habis terkuras untuk mengurus pemulihan fasilitas yang rusak, melayani masyarakat, dan mencari nafkah untuk keluarganya. Ketika malam tiba, tubuhnya teramat lelah, tulang-tulangnya terasa linu.

Namun, di saat seisi rumah sudah terlelap, dalam kesunyian malam yang dingin, beliau menyalakan lampu meja kecilnya. Dengan mata yang memerah menahan kantuk, beliau membuka lembaran kitab dan buku catatan, memaksakan akalnya untuk tetap membaca dan menulis demi menjaga amanah ilmu. Di sudut sajadahnya, beliau berbisik lirih sambil meneteskan air mata, "Ya Allah, siangku telah habis untuk makhluk-Mu, maka berkahilah sisa malam yang sedikit ini untuk menatap cahaya ilmu-Mu." Sungguh, air mata kelelahan di tengah malam itu jauh lebih mulia daripada waktu lapang yang terbuang sia-sia dalam kelalaian.

Sahabat, bayangkan seember air yang dituangkan sekaligus dalam jumlah besar ke atas sebuah batu karang yang keras. Air itu akan langsung mengalir hilang, dan batunya tetap utuh tak berubah. Tetapi, bayangkan jika air itu dikumpulkan dalam sebuah wadah bocor yang meneteskan airnya setetes demi setetes, secara konsisten jam demi jam, hari demi hari, tepat di satu titik batu tersebut. Apa yang terjadi? Batu karang yang keras sekalipun lambat laun akan berlubang.

Begitulah jadwal belajar yang tetap. Kita tidak perlu meluangkan waktu langsung 5 atau 6 jam sehari sampai meninggalkan kewajiban lain. Cukup bentangkan waktu 30 menit di waktu fajar atau sebelum tidur, namun lakukan itu setiap hari tanpa putus. Komitmen kecil yang "menetes" konsisten itulah yang akan melubangi kerasnya dinding kebodohan dan hambatan hidup kita.

Ada seorang pemuda yang selalu beralasan sibuk kerja sampai tidak pernah punya waktu untuk ikut majelis ilmu atau membaca buku. Dia mengeluh kepada seorang syekh, "Syekh, waktu saya benar-benar tersita 24 jam, tidak ada celah sama sekali!"

Sang syekh tersenyum lalu bertanya, "Kalau begitu, kapan kamu punya waktu untuk bermain gawai dan melihat video pendek?" Si pemuda menjawab, "Oh, kalau itu biasanya di sela-sela waktu makan, di sela-sela waktu istirahat, atau saat di kamar mandi, Syekh." Sang syekh tertawa kecil dan berkata, "Luar biasa! Ternyata waktumu tidak tersita oleh pekerjaan, tapi perhatianmu yang tersita oleh layar. Berarti solusinya mudah: besok, bawalah buku ilmumu ke kamar mandi, agar setidaknya ada ilmu yang masuk sebelum urusanmu keluar!"

Candaan ini menampar kita: waktu itu sebenarnya ada, hanya saja sering kali ia bersembunyi di balik alasan-alasan "merasa sibuk" yang kita buat sendiri.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia, hambatan berupa waktu yang tersita bukanlah alasan untuk berhenti tumbuh dan belajar. Solusinya terletak pada ketegasan kita dalam membuat jadwal yang tetap dan menghormati komitmen tersebut. Jadikan waktu pagi setelah subuh yang penuh berkah, atau waktu malam yang tenang, sebagai saat sakral kita bersama ilmu. Ketika kita menghargai waktu yang sedikit itu untuk kebaikan, Allah akan melipatgandakan keberkahan dalam seluruh urusan dunia kita yang lain.

Mari kita kunci waktu kita untuk ilmu, sebelum waktu kita habis di dunia ini secara sia-sia.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie