Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Sahabat yang dirahmati Allah, salah satu faktor utama yang menyebabkan tingginya angka putus sekolah atau macetnya proses belajar di daerah-daerah pasca-ujian hidup adalah kelelahan fisik akibat perjalanan. Secara psikologi pendidikan dan ergonomi, anak-anak atau penuntut ilmu yang harus berjalan kaki berjam-jam melewati medan berat sebelum sampai ke tempat belajar, akan kehabisan energi di jalan. Akibatnya, daya konsentrasi mereka menurun drastis saat menerima materi.
Islam memandang masalah ini secara komprehensif. Solusi nyata dari hambatan eksternal ini adalah dengan menyediakan bantuan transportasi atau memfasilitasi tempat penginapan (asrama/pondok) yang dekat dengan pusat ilmu. Membantu meringankan beban fisik perjalanan para penuntut ilmu bukan sekadar kedermawanan sosial, melainkan pilar penting untuk menyelamatkan potensi intelektual dan spiritual umat.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman mengenai perintah untuk saling mendukung dan memfasilitasi kebaikan bagi sesama:
وَٱفْعَلُوا۟ ٱلْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat keberuntungan." (QS. Al-Hajj: 77)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga menjanjikan bahwa siapa saja yang menyingkirkan kesulitan saudaranya di dunia, maka Allah akan menyingkirkan kesulitannya di hari kiamat:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
"Barangsiapa yang meringankan satu kesulitan seorang mukmin dari kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan meringankan darinya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan hari kiamat. Dan barangsiapa yang memberi kemudahan kepada orang yang kesulitan, niscaya Allah akan memberi kemudahan kepadanya di dunia dan di akhirat." (HR. Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Mari kita bayangkan seorang anak perempuan di sebuah desa terpencil. Setiap fajar, saat embun masih dingin menusuk tulang, ia sudah harus berjalan kaki sejauh sepuluh kilometer, melewati jalan setapak yang becek dan menyeberangi jembatan bambu yang lapuk demi menuju sekolah. Sering kali ia tiba di kelas dengan baju yang basah oleh keringat, kaki yang lecet, dan perut yang keroncongan.
Hingga suatu hari, sebuah lembaga sosial atau seorang hamba Allah yang dermawan datang membawa sepeda untuknya, atau menyediakannya sebaris kamar asrama sederhana di dekat sekolah agar ia tidak perlu pulang-pergi setiap hari. Saat anak itu menerima kunci kamar atau memegang stang sepedanya, ia memeluk benda itu erat-erat. Air matanya menetes pelan sembari berbisik, "Terima kasih ya Allah, sekarang kakiku tidak perlu berdarah lagi untuk bisa membaca buku." Sungguh, air mata syukur anak itu adalah untaian doa yang mengetuk pintu arsy.
Sahabat, bayangkan sekelompok burung kecil yang ingin bermigrasi ke sebuah pulau subur yang penuh dengan makanan. Pulau itu berada di seberang lautan yang luas dan berangin kencang. Burung-burung kecil itu memiliki semangat yang luar biasa, tetapi sayap mereka terlalu kecil dan lemah. Jika dipaksakan terbang sejauh itu tanpa henti, banyak di antara mereka yang akan kelelahan, jatuh ke laut, dan tenggelam sebelum sampai tujuan.
Namun, bayangkan jika di tengah lautan itu ada sebuah kapal besar yang berhenti, menggelar deknya agar burung-burung kecil itu bisa hinggap, beristirahat semalam, dan memulihkan tenaga mereka. Keesokan harinya, burung-burung itu bisa terbang lagi dengan segar hingga sampai ke pulau tujuan dengan selamat.
Bantuan transportasi atau penyediaan penginapan adalah "kapal besar" di tengah samudera ujian hidup. Ia mengistirahatkan fisik-fisik yang lelah, agar kepakan sayap cita-cita para penuntut ilmu tidak patah di tengah jalan.
Ada seorang santri yang rumahnya sangat jauh di atas bukit, dan dia sering terlambat datang ke majelis ilmu karena tidak ada angkutan. Suatu hari, seorang donatur menghadiahkannya sebuah sepeda motor tua agar dia bisa datang tepat waktu.
Esoknya, dia datang paling awal, tapi wajahnya tampak tegang dan bajunya penuh debu. Sang guru bertanya, "Wah, alhamdulillah kamu tidak terlambat lagi. Bagaimana rasanya naik motor baru?" Santri itu menjawab dengan gemetar, "Alhamdulillah Ustadz, waktu perjalanannya memotong waktu 2 jam. Tapi masalahnya, motor tua ini remnya blong! Jadi sepanjang jalan saya tidak sempat membaca zikir, saya hanya sempat teriak takbir 'Allahu Akbar' setiap kali mau menabrak pohon!"
Kita tersenyum mendengarnya, tetapi hikmahnya sangat berharga: fasilitas transportasi dan akomodasi itu mutlak diperlukan untuk memberi ketenangan, agar para pencari ilmu bisa fokus mengisi dadanya dengan ilmu, bukan mengisi perjalanannya dengan senam jantung!
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan sauadari yang berbahagia, hambatan eksternal berupa akses geografis yang jauh dan menyulitkan dapat kita urai bersama jika komunitas dan para dermawan mau peduli. Solusinya jelas: jika ada kelapangan harta, mari gotong royong menyediakan Bantuan Transportasi atau Fasilitas Penginapan bagi mereka yang membutuhkan. Meringankan beban fisik para pencari ilmu adalah investasi peradaban yang pahalanya akan terus mengalir kepada kita selama ilmu yang mereka pelajari diamalkan dan diajarkan kembali.
Mari kita mudahkan langkah kaki mereka di dunia, agar Allah memudahkan langkah kaki kita menuju surga-Nya.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie