Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Pembukaan

Sahabat yang dirahmati Allah, ….Pernahkah Anda merasakan suatu hari di mana ibadah terasa sangat nikmat, air mata mudah menetes saat berdoa, dan hati begitu tenang? Namun, di hari lain, mendadak iman terasa hambar, salat terasa berat, dan pikiran gampang terdistraksi oleh urusan dunia? Jika Anda pernah merasakannya, jangan berkecil hati dan merasa menjadi orang paling munafik sedunia.

Sebab, manusia biasa di luar para nabi akan selalu mengalami fase pergantian atau fluktuasi dalam kestabilan spiritualnya. Momentum kedekatan batin, ketenangan, dan pancaran cahaya Ilahi sangat dipengaruhi oleh tingkat konsistensi ketaatan kita. Iman itu dinamis; ia bukan benda mati yang selalu diam di satu titik.

Secara psikologis dan spiritual, kondisi batin manusia memang dirancang memiliki ritme (spiritual rhythm). Fluktuasi ini adalah sunnatullah agar manusia tidak sombong dan selalu merasa butuh untuk bersandar kepada Allah SWT. Dalam ilmu akidah, para ulama merumuskan bahwa karakteristik dasar iman manusia adalah Yaziidu wa Yanqush—ia bisa bertambah seiring dengan ketaatan, dan bisa berkurang seiring dengan kelalaian.

Allah SWT menegaskan tentang sifat iman yang bisa bertambah kuat ketika mendengar ayat-ayat-Nya di dalam Al-Qur'an:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karena ayat-ayat itu), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal." (QS. Al-Anfal: 2) (QS. Al-Anfal: 2)

Dinamika pasang surut iman ini juga pernah diadukan oleh para sahabat terbaik kepada Rasulullah SAW. Nabi SAW memberikan penawaran solusi yang sangat menyejukkan melalui sabdanya:

وَٱلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ تَدُومُونَ عَلَىٰ مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي ٱلذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ ٱلْمَلَائِكَةُ عَلَىٰ فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ، وَلَٰكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kamu sekalian terus-menerus berada dalam keadaan sebagaimana ketika bersamaku dan dalam berzikir, niscaya malaikat akan menyalami kalian di atas tempat tidurmu dan di jalan-jalanmu. Akan tetapi, wahai Hanzalah, lakukanlah sesaat demi sesaat (ada waktunya)." (HR. Muslim) (HR. Muslim)

2. Pelajaran dan Pesan

Mari kita menengok sebuah drama batin yang luar biasa di jalanan kota Madinah. Suatu hari, Sahabat Hanzalah RA berjalan sambil menangis tersedu-sedu. Beliau meratapi dirinya sendiri sambil berteriak pilu, "Hanzalah telah munafik! Hanzalah telah munafik!"

Mendengar ratapan itu, Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq RA terkejut dan bertanya, "Subhanallah, apa yang engkau katakan?"

Hanzalah menjawab dengan air mata berlinang, "Wahai Abu Bakar, ketika kita duduk di majelis Rasulullah SAW, beliau mengingatkan kita tentang surga dan neraka seolah-olah kita melihatnya dengan mata kepala sendiri. Iman kita begitu tinggi! Namun, begitu kita pulang ke rumah, sibuk bermain dengan anak istri, dan mengurusi ladang perniagaan, kita banyak lupa pada akhirat!"

Mendengar kejujuran batin Hanzalah, Abu Bakar tidak menghakimi. Beliau justru ikut menangis dan berkata lirik, "Demi Allah, aku pun merasakan hal yang sama."

Dua manusia mulia ini menangis bersama di pinggir jalan karena cemas akan fluktuasi imannya, hingga akhirnya mereka mengadukan hal itu kepada Nabi SAW. Menyedihkan melihat ketakutan mereka, namun sangat mengharukan melihat betapa setianya mereka dalam menjaga kesucian hati.

Supaya kita bisa menyikapi naik-turunnya iman ini dengan cara yang santai namun penuh hikmah, mari kita pakai tamsilan tentang "Sinyal Wi-Fi dan Kuota Internet".

Bayangkan iman kita ini seperti sinyal Wi-Fi di smartphone kita. Ketika kita sedang berada di "pusat pemancar" alias sedang ikut pengajian, salat berjamaah di masjid, atau membaca Al-Qur'an, sinyal iman kita langsung otomatis Full Bar, 5G, lancar jaya tanpa buffering! Kita merasa kuat banget, rasanya kalau ada godaan setan lewat langsung bisa kita smackdown.

Tapi, begitu kita pulang ke rumah, buka media sosial, liat diskon belanjaan, atau ketemu urusan kerjaan yang bikin pusing... eh, sinyalnya mendadak turun jadi satu garis, kadang-kadang malah berubah jadi tulisan No Service alias putus koneksi!

Lucunya, banyak manusia di zaman sekarang yang langsung panik guling-guling begitu sinyal imannya turun. Mereka pikir hp jiwanya sudah rusak total dan gak bisa diselamatkan lagi, lalu milih sekalian aja bolos salat.

Padahal, solusinya gampang banget: kalau sinyal lagi lemah, jangan malah dijauhkan dari pemancar! Jalan kaki lah mendekat ke "Router Utama" kehidupan, yaitu sajadah salat, zikir, dan majelis ilmu. Jangan harap sinyal imanmu penuh kalau posisi hatimu terus-terusan bersembunyi di dalam "bunker kelalaian" duniawi, Bambang! Wajar kalau sinyalnya naik turun, yang penting hp imanmu jangan sampai mati total karena kehabisan daya baterai ibadah.

3. Kesimpulan & Penutup

Sahabat sekalian, pesan moral tingkat tinggi dari dinamika fluktuasi iman ini adalah sebuah ajakan untuk berdamai dengan proses, namun tetap disiplin dalam menjaga batasan. Menjadi muslim yang baik bukan berarti kita harus menjadi malaikat yang tidak pernah merasakan kejenuhan atau penurunan semangat.

Ketika iman Anda sedang berada di puncak (fase pasang), manfaatkanlah energi itu untuk memperbanyak amalan sunnah sebanyak-banyaknya. Namun, ketika iman Anda sedang berada di titik terendah (fase surut), pasanglah rem darurat: pastikan Anda tetap disiplin menjaga amalan wajib yang lima waktu, dan jangan sampai terperosok ke dalam lembah maksiat. Lakukanlah sesaat demi sesaat secara istiqamah.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga hati kita agar terus berdenyut dalam keimanan, dan mengembalikan kita ke dalam pelukan rahmat-Nya setiap kali kita mulai melangkah menjauh.

. والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie