Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, dalam lingkaran pendidikan dan dakwah, sarana fisik yang megah tidak akan banyak berarti jika tidak ditopang oleh penggerak utamanya, yaitu Sumber Daya Manusia (SDM). Hambatan eksternal yang hari ini banyak dihadapi oleh umat adalah terbatasnya jumlah guru atau ustadz yang kompeten dan berpengalaman. Secara ilmiah dan psikologi perkembangan, seorang pendidik yang kurang menguasai materi atau belum matang secara metodologi cenderung melahirkan kejenuhan, memicu salah paham terhadap agama, bahkan bisa memadamkan potensi besar yang dimiliki oleh para muridnya.

Namun, menyadari hambatan ini bukan untuk membuat kita saling menyalahkan. Islam memandang profesi guru sebagai amanah yang teramat berat sekaligus mulia. Diperlukan kesadaran kolektif untuk terus menempa diri dan menaikkan kapasitas (upgrading), karena mengajar bukan sekadar mentransfer teks teks hafalan, melainkan membentuk cara berpikir dan karakter jiwa.

Allah SWT mengingatkan kita pentingnya menyerahkan urusan belajar-mengajar ini kepada mereka yang benar-benar memiliki otoritas ilmu dan kompetensi di bidangnya:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl: 43)

Rasulullah SAW juga memberikan peringatan keras secara ilmiah mengenai dampak sosiologis yang terjadi di tengah masyarakat jika suatu urusan bimbingan ilmu diserahkan kepada SDM yang tidak memiliki kompetensi memadai:

إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعةَ

"Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya." (HR. Bukhari)

2. Pelajaran dan Pesan

Mari kita merenungkan sebuah potret nyata di sebuah wilayah terpencil atau madrasah pinggiran. Ada seorang pemuda tulus yang terpaksa ditunjuk menjadi ustadz tunggal hanya karena di kampung itu dialah satu-satunya yang bisa membaca huruf hijaiyah, meski ia sendiri belum pernah belajar ilmu tajwid maupun cara mendidik anak. Dengan segala keterbatasannya, ia mencoba mengajar.

Suatu hari, seorang murid kecilnya yang kritis bertanya tentang sebuah persoalan hidup yang berat atau keraguan dalam beragama. Karena kurangnya pengalaman dan rendahnya kompetensi, ustadz muda ini merasa tersudut, lalu dengan kaku ia menghardik anak tersebut, "Jangan banyak tanya! Pertanyaanmu itu bisa membuatmu sesat!"

Anak itu terdiam, menundukkan wajahnya dengan mata berkaca-kaca. Rasa ingin tahunya patah seketika, dan sejak hari itu ia kehilangan selera untuk mempelajari agamanya lagi. Sungguh menyedihkan melihat sebuah potensi iman yang cerdas harus layu, bukan karena anak itu nakal, melainkan karena keterbatasan kapasitas sang guru yang belum siap membimbingnya.

Keterbatasan kompetensi dan pengalaman pengajar ini laksana seorang "Sopir Bus yang Baru Belajar Menyetir Kemarin Sore, tetapi Langsung Disuruh Membawa Bus Berisi Penuh Penumpang Melewati Jalan Pegunungan yang Terjal dan Berkelok". Niat sang sopir sangat baik (ingin mengantarkan penumpang sampai tujuan), busnya juga bagus (seperti materi agama yang mulia). Namun, karena ia belum memiliki kecakapan, jam terbang, dan keahlian mengendalikan kemudi, maka setiap tikungan tajam akan menjadi ancaman yang membuat seluruh penumpang di dalamnya menjerit ketakutan, atau bahkan berujung pada kecelakaan massal.

Keikhlasan saja tidak cukup untuk menjadi modal mengajar. Keikhlasan adalah mesin utamanya, tetapi kompetensi dan pengalaman adalah kemudinya. Kita wajib membekali para pejuang dakwah di garis depan dengan pelatihan dan bimbingan yang matang agar mereka tidak salah dalam mengemudikan arah pemikiran umat.

Kita ini kadang sering melihat fenomena menggelitik di media sosial atau lingkungan sekitar. Ada orang yang baru pulang daurah atau pelatihan agama selama tiga hari dua malam, tapi gayanya saat mengajar di majelis taklim sudah seperti ulama besar yang menguasai puluhan kitab suci. Begitu ada jamaah yang bertanya tentang masalah fiqih kontemporer yang rumit, karena gengsi mau bilang "Saya belum tahu", ia malah menjawabnya dengan jawaban yang "super kreatif" alias dikira-kira sendiri hukumnya.

Walhasil, jamaah pulang ke rumah dengan membawa fatwa baru yang bikin geleng-geleng kepala. Ini menjadi sentilan jenaka berhikmah bagi kita: menjadi guru atau pengajar itu bukan soal seberapa percaya diri kita tampil di depan panggung dengan jubah yang indah, melainkan tentang seberapa dalam sumur ilmu kita agar saat jamaah datang membawa ember kosong, mereka pulang membawa air yang jernih, bukan malah membawa lumpur keraguan!

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia, hambatan eksternal berupa keterbatasan SDM dan rendahnya kompetensi pengajar adalah tanggung jawab besar yang harus kita pikul bersama. Kita tidak boleh membiarkan para guru dan ustadz kita berjuang sendirian di ruang-ruang kelas tanpa adanya upaya peningkatan kapasitas (up-skilling). Kurikulum pelatihan yang berkelanjutan, sertifikasi kompetensi yang sehat, serta pendampingan dari yang berpengalaman adalah kunci utama untuk menyelamatkan mutu pendidikan umat.

Bagi kita yang dipercaya menjadi pengajar, mari rendahkan hati untuk terus belajar dan menimba pengalaman. Jangan pernah berhenti menjadi murid, bahkan ketika kita sudah berdiri di depan kelas sebagai seorang guru.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie