Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Sahabat yang dirahmati Allah,
Mengapa di zaman sekarang banyak orang yang secara akademis sangat pintar, namun tindakannya sering kali tidak masuk akal? Korupsi tak ragu dilakukan, hak orang lain tega dirampas, dan persaudaraan bisa putus hanya karena urusan warisan atau materi. Mengapa bisa demikian?
Para ulama dan muslim terdahulu telah menegaskan sebuah rahasia besar: pintu utama untuk meraih kebijaksanaan sejati adalah dengan meninggalkan apa yang dilarang Allah dan mengikis keterikatan yang berlebihan terhadap dunia. Ketika seseorang membiarkan hatinya dikuasai oleh Hubbud Dunya (cinta dunia), seketika itu pula terjadi kebutaan spiritual. Dunia yang dikejar secara membabi buta akan bertindak sebagai tirai yang membutakan mata batin dan membuat telinga ruhani tuli dari suara kebenaran.
Secara psikologis dan mental, ketika fokus utama manusia hanyalah materi (duniawi), otaknya akan terus berada dalam mode scarcity—perasaan selalu kurang dan cemas akan masa depan. Kondisi ini merusak ketenangan jiwa karena kebahagiaan digantungkan pada benda mati yang sifatnya fana. Agama hadir untuk menyembuhkan penyakit ini dengan cara mendudukkan dunia di tangan kita, bukan di dalam hati kita.
Allah SWT mengingatkan kita dengan sangat indah mengenai hakikat kehidupan dunia dalam Al-Qur'an:
وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ
"Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. Ali 'Imran: 185)
Kecintaan yang berlebihan pada dunia adalah induk dari segala kehancuran moral. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang menjadi alarm bagi batin kita:
حُبُّ ٱلدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ
"Cinta dunia adalah akar dari segala kesalahan (dosa)." (HR. Baihaqi)
2. Pelajaran dan Pesan
Mari kita merenungkan sebuah kisah nyata yang menyayat hati tentang dampak keduniawian. Ada seorang ayah yang bekerja siang dan malam, menimbun harta demi gengsi dan kemewahan keluarga. Ia jarang pulang, tak punya waktu mendengarkan cerita anak-anaknya, bahkan melewatkan waktu salatnya demi mengejar tender proyek.
Hingga suatu hari, sang ayah jatuh sakit parah dan terbaring di ranjang kematiannya. Di saat-saat terakhirnya, ia melihat anak-anaknya justru sibuk di sudut ruangan berbisik-bisik membahas bagaimana pembagian aset rumah, mobil, dan tabungannya kelak. Tak ada satu pun yang menuntunnya membaca syahadat, tak ada yang menangis tulus mendoakan jiwanya. Sang ayah menangis tersedu-sedu menatap langit-langit, menyadari bahwa dunia yang ia kejar mati-matian dengan mengorbankan akhiratnya, ternyata meninggalkannya dalam kesendirian yang paling tragis bahkan sebelum ia masuk ke dalam liang kubur.
Agar kita tidak terjebak dalam kebutaan spiritual yang sama, mari kita pakai tamsilan sederhana yang agak menggelitik.
Bayangkan ada seekor monyet yang menemukan sebuah stoples kaca berisi kacang goreng yang sangat wangi di tengah hutan. Sang monyet yang kelaparan langsung memasukkan tangannya ke dalam lubang stoples yang sempit itu, lalu menggenggam kacang sebanyak-banyaknya.
Tapi apa yang terjadi? Ketika dia mau menarik tangannya keluar, kepalan tangannya yang penuh kacang itu tersangkut di leher stoples. Tangan si monyet terjebak!
Lucunya, si monyet ini tidak mau melepaskan segenggam kacang itu karena saking cintanya pada makanan. Sambil memegang stoples yang berat, dia berteriak-teriak ketakutan, tidak bisa memanjat pohon, tidak bisa lari, sampai akhirnya dengan mudah ditangkap oleh pemburu.
Padahal, solusi selamatnya gampang banget: cukup buka genggaman tangannya, lepaskan kacangnya, maka tangannya bebas!
Manusia yang hubbud dunya persis seperti monyet itu. Lubang stoples itu adalah dunia, dan kacang itu adalah hiasannya. Kita sering kali stres, lelah, dan terjebak dalam lingkaran dosa bukan karena dunianya yang jahat, tapi karena tangan hati kita menggenggam dunia terlalu erat dan gengsi untuk melepaskannya!
3. Kesimpulan & Penutup
Sahabat sekalian, pesan moral yang tinggi dari materi hari ini adalah sebuah ajakan untuk mengevaluasi isi hati kita. Dunia ini diciptakan untuk melayani kebutuhan hidup kita, bukan untuk merajai hati kita. Jadikan dunia sebagai ladang tempat kita menanam kebaikan, bukan sebagai berhala yang kita sembah siang dan malam.
Kebijaksanaan tertinggi adalah ketika kita mampu memperlakukan dunia seperti air dan kapal. Biarkan air dunia berada di bawah dan di sekeliling kapal kita untuk mengantarkan kita sampai ke tujuan (akhirat). Namun, jangan sekali-kali membiarkan air dunia itu bocor dan masuk ke dalam lambung kapal hati kita, karena ia pasti akan menenggelamkan kita ke dasar kehancuran.
Semoga Allah SWT menyembuhkan mata batin kita dari kebutaan spiritual dan membersihkan hati kita dari jerat cinta dunia yang semu.
. والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie