Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Sahabat yang dirahmati Allah, dalam khazanah intelektual Islam, ilmu bukan sekadar komoditas informasi yang bisa dipahami secara instan atau otodidak tanpa bimbingan. Hambatan eksternal yang hari ini menjadi tantangan besar di berbagai daerah adalah kurangnya pengajar khusus (spesialis) untuk materi-materi fundamental tertentu, seperti guru bahasa Arab yang mumpuni, ahli Ulumul Qur'an, hingga pakar studi Islam klasik (turats). Secara ilmiah, kelangkaan pakar spesifik ini menyebabkan terjadinya pendangkalan pemahaman agama di tingkat akar rumput, karena teks-teks wahyu sering kali ditafsirkan tanpa perangkat metodologi yang kokoh.
Dalam epistemologi Islam, spesialisasi ilmu sangat dihormati. Tidak semua orang memiliki kapasitas untuk menyelami kedalaman bahasa dan perangkat ilmu alat. Oleh karena itu, keberadaan para pengajar khusus yang menguasai bidang spesifik ini adalah benteng yang menjaga kemurnian pemahaman umat dari penyimpangan.
Allah SWT memberikan isyarat tentang pentingnya merujuk pada para ahli yang memiliki spesialisasi mendalam di bidangnya:
وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۚ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Anbiya: 7)
Rasulullah SAW juga mengingatkan secara ilmiah tentang bahaya sosial yang mengancam eksistensi ilmu jika para ulama spesialis yang memegang kunci-kunci sains Islam klasik ini wafat tanpa melahirkan generasi pengganti:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya sekaligus dari hati manusia, tetapi Allah mencabut ilmu dengan wafatnya para ulama. Sehingga apabila tidak tersisa lagi seorang pun orang alim (spesialis), maka manusia akan mengangkat pimpinan-pimpinan yang bodoh. Ketika mereka ditanya, mereka memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan." (HR. Bukhari)
2. Pelajaran dan Pesan
Mari kita bayangkan sejenak suasana di sebuah madrasah atau pondok pesantren di wilayah pedalaman. Di sana, ada sekelompok santri berbakat yang memiliki kecerdasan luar biasa. Di atas meja-meja kayu mereka, tergeletak kitab-kitab klasik peninggalan para ulama terdahulu—kitab gundul yang menyimpan mutiara hukum, sastra Arab yang indah, dan rahasia Ulumul Qur'an yang agung. Mata anak-anak itu berbinar, jari-jari mereka menyentuh lembaran kitab dengan penuh takzim.
Namun, kesedihan mendalam hadir ketika ruang kelas itu dibuka; tidak ada satu pun ustadz yang mampu membimbing mereka membaca bait-bait bahasa Arab dan gramatika tinggi tersebut. Guru khusus yang mereka rindukan tak kunjung datang karena keterbatasan akses dan fasilitas. Kitab-kitab mulia itu akhirnya hanya tersimpan di lemari, berdebu, dimakan rayap, bersamaan dengan padamnya mimpi anak-anak itu untuk menjadi pembela agama di masa depan. Menyedihkan saat warisan peradaban terhenti hanya karena ketiadaan lidah yang mampu menerjemahkannya kepada generasi muda.
Kelangkaan pengajar khusus untuk materi studi klasik ini laksana sebuah "Gudang Obat Modern yang Sangat Lengkap di Sebuah Rumah Sakit, tetapi Tidak Memiliki Satu pun Apoteker atau Dokter Spesialis yang Bisa Membaca Resep Arab-nya". Gudang itu penuh dengan obat penyembuh penyakit kronis (seperti kitab-kitab turats dan ulumul Qur'an). Namun, karena tidak ada orang khusus yang paham takaran, dosis, dan cara meraciknya, obat-obat tersebut tetap terkunci rapat. Pasien di luar tetap sakit, atau jika nekat mengambil obat secara acak tanpa keahlian khusus, obat yang harusnya menyembuhkan justru berubah menjadi racun yang berbahaya.
Kita tidak boleh sekadar bangga memiliki tumpukan kitab atau perpustakaan digital yang megah. Urgensi terbesar umat hari ini adalah membiayai, mencetak, dan mendistribusikan para "apoteker rohani"—yaitu guru-guru spesialis bahasa Arab dan studi klasik—agar mutiara ilmu tersebut bisa diurai dan disajikan sebagai obat kehidupan bagi masyarakat.
Karena langkanya guru bahasa Arab dan ulumul Qur'an yang otoritatif, muncullah fenomena menggelitik zaman sekarang. Ada orang yang bermodalkan aplikasi kamus digital instan, lalu dengan percaya diri langsung membedah ayat Al-Qur'an dan mengkritik fatwa ulama madzhab. Ketika membaca teks Arab, harakat fathah dibaca dhammah, subjek tertukar dengan objek, maknanya pun langsung berubah 180 derajat.
Begitu ditegur oleh ahli bahasa, dia dengan santai menjawab, "Ah, yang penting kan niat saya baik untuk menyampaikan dakwah!" Ini adalah candaan yang pahit. Berniat baik itu wajib, tapi mengajar ilmu alat tanpa keahlian khusus itu namanya nekat. Itu sama saja seperti seseorang yang tidak pernah belajar anatomi tubuh, tapi nekat memegang pisau bedah di ruang operasi berbekal video tutorial singkat, lalu berkata pada pasiennya, "Tenang pak, yang penting niat saya tulus menyembuhkan Anda!" Bukannya sembuh, pasiennya malah langsung pindah ke alam lain!
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia, hambatan eksternal berupa kurangnya pengajar khusus untuk materi dasar Islam klasik adalah lampu kuning bagi keberlangsungan peradaban umat. Kita tidak bisa membiarkan kelangkaan ini terus berlanjut. Perlu ada gerakan strategis—baik berupa beasiswa khusus untuk kaderisasi ahli bahasa Arab dan Ulumul Qur'an, maupun penyediaan insentif dan fasilitas yang layak agar para pakar ini bersedia mengabdi di daerah-daerah yang membutuhkan.
Mempelajari dan menyediakan pengajar ilmu alat ini bukan sekadar pelengkap kurikulum, melainkan urat nadi yang menjaga kemurnian teks wahyu agar tetap membumi dan menyelamatkan generasi masa depan.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie