Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Sahabat yang dirahmati Allah, dalam mengelola lembaga pendidikan atau komunitas, kita sering berbenturan dengan kenyataan pahit: keterbatasan kuantitas dan kualitas Sumber Daya Manusia. Jumlah ustadz atau guru sangat sedikit, dan kapasitas mereka pun terbatas karena jarang tersentuh penyegaran keilmuan. Secara ilmiah dalam manajemen organisasi dan psikologi industri, solusi utama dari keterbatasan SDM bukanlah terus-menerus mencari orang baru, melainkan melakukan capacity building—yaitu meningkatkan mutu SDM yang sudah ada melalui pelatihan berkala. Saat kompetensi seorang guru meningkat, efisiensi dan efektivitas mengajar akan berlipat ganda, sehingga keterbatasan jumlah bisa ditutupi oleh tingginya kualitas.
Islam adalah agama yang sangat mendorong peningkatan kapasitas diri secara berkelanjutan. Guru atau ustadz bukanlah menara kaku yang berhenti belajar setelah mendapat gelar. Solusi terbaik untuk umat adalah terus melatih para pendidik kita agar mereka memiliki bekal metode pengajaran terbaik, berwawasan luas, dan mampu merangkul hati generasi muda dengan bijak.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman mengenai pentingnya peningkatan derajat bagi orang-orang yang beriman dan terus memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan:
يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadilah: 11)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga mengingatkan bahwa seorang mukmin, terutama para pengajar kebaikan, tidak boleh merasa puas dengan kapasitas yang dimilikinya saat ini, melainkan harus terus mengasah kemampuannya:
أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ
"Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu terlaknat dan terlaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali zikir kepada Allah dan apa yang dicintai-Nya, atau seorang yang alim (guru) yang terus mengajar, atau seorang muta'allim (murid) yang terus belajar." (HR. Tirmidzi)
2. Pelajaran dan Pesan
Mari kita bayangkan sebuah madrasah atau sekolah di pedalaman pasca-ujian bencana yang berat. Di sana hanya ada dua orang ustadz tua yang harus mengajar seratus orang anak dari berbagai tingkatan kelas. Setiap hari, wajah kedua ustadz itu tampak sangat lelah, rambutnya kian memutih, dan suaranya parau karena harus berpindah dari satu kelompok anak ke kelompok anak lainnya dengan metode seadanya yang mereka pelajari puluhan tahun lalu.
Suatu sore, salah seorang ustadz terduduk di sudut kantor darurat yang bocor, memijat keningnya seraya meneteskan air mata. Beliau berbisik kepada sahabatnya, "Demi Allah, aku tidak lelah badanku, tapi aku menangis karena merasa berdosa... ilmu dan caraku mengajar terlalu kuno, aku takut anak-anak ini tidak mendapatkan apa-apa dari kebodohanku." Sungguh menyedihkan melihat ketulusan yang terbentur oleh keterbatasan kapasitas.
Namun, betapa indahnya ketika lembaga atau komunitas mengadakan program pelatihan berkala untuk mereka. Saat kedua ustadz itu diajarkan metode multimedia, manajemen kelas yang seru, dan psikologi anak, air mata mereka berubah menjadi senyuman penuh harapan. Mereka kembali ke kelas dengan energi baru yang luar biasa
Sahabat, bayangkan seorang penebang pohon di dalam hutan yang lebat. Di tangannya hanya ada sebilah kapak besi yang sudah sangat tumpul dan berkarat. Karena jumlah penebang sedikit dan kapaknya tumpul, ia harus mengayunkan kapak itu ribuan kali dengan mandas dan menguras seluruh keringatnya hanya untuk merobohkan satu pohon kecil. Ia kelelahan, stres, dan hasilnya sangat minim.
Tetapi, apa yang terjadi jika sang pemilik hutan memanggil penebang itu untuk beristirahat sejenak selama beberapa jam, lalu memberikannya mesin pengasah (batu asahan) kualitas terbaik untuk menajamkan kapaknya? Hanya dalam waktu singkat, kapak itu menjadi sangat tajam. Saat kembali ke hutan, dengan tenaga yang jauh lebih hemat, ia bisa menebang puluhan pohon dengan cepat dan rapi.
Pelatihan berkala bagi guru dan ustadz adalah "proses mengasah kapak" tersebut. Jangan biarkan pejuang ilmu kita berjuang di medan dakwah dengan "kapak kompetensi" yang tumpul. Tajamkan keterampilan mengajar mereka secara berkala, agar keterbatasan jumlah SDM bisa diatasi dengan kedahsyatan kualitas hasil pangkasannya.
Ada seorang ustadz senior di sebuah kampung yang terkenal sangat kaku. Gaya mengajarnya sejak tahun 1980-an tidak pernah berubah: duduk tegak, memegang rotan, dan semua murid harus menghafal tanpa boleh bertanya. Akibatnya, kelas selalu sepi karena murid-muridnya kabur.
Suatu hari, beliau diwajibkan mengikuti pelatihan metode mengajar modern berbasis digital dan games islami. Pulang dari pelatihan, beliau mencoba mempraktikkannya di kelas. Beliau membagi anak-anak menjadi beberapa tim, menggunakan kuis interaktif, dan memberikan hadiah bagi yang menang.
Melihat perubahan drastis itu, seorang pengurus yayasan menggoda beliau, "Wah, Ustadz sekarang sudah gaul ya, tidak bawa rotan lagi." Sang ustadz tertawa renyah lalu menjawab, "Iya, alhamdulillah setelah ikut pelatihan saya baru sadar. Ternyata selama ini yang salah bukan muridnya yang bandel, tapi 'sistem operasi' di kepala saya yang sudah kedaluwarsa dan minta di-update! Untung belum di-uninstall sama anak-anak!"
Candaan ini membawa hikmah besar: tidak ada kata terlambat untuk belajar bagi seorang pendidik. Kunci sukses mengatasi keterbatasan adalah kerendahan hati untuk terus memperbarui keterampilan diri.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia , kekurangan jumlah Sumber Daya Manusia bukan akhir dari segalanya, selama kita mau bergerak untuk melipatgandakan kualitas SDM yang ada. Solusi konkretnya adalah dengan menyelenggarakan pelatihan berkala bagi para guru, ustadz, dan instruktur kita. Mari investasikan waktu, pikiran, dan anggaran lembaga kita untuk meningkatkan kompetensi mengajar mereka. Ketika kompetensi guru kita tajam dan mutakhir, maka dari rahim keterbatasan itu akan lahir generasi-generasi cerdas yang siap memimpin umat dengan gemilang.
Mari kita rawat pelita-pelita ilmu kita agar cahayanya semakin terang benderang menerangi kegelapan.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie