Membumikan Ilmu : Menyentuh Realitas Kehidupan (109 )
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Sahabat yang dirahmati Allah, salah satu hambatan eksternal yang sering membuat para penuntut ilmu kehilangan motivasi adalah materi atau kurikulum yang kurang relevan dan terlalu abstrak. Secara psikologi kognitif, otak manusia akan kesulitan menyerap dan menginternalisasi suatu informasi jika informasi tersebut tidak memiliki kaitan logis dengan realitas kehidupan sehari-hari mereka. Ketika ilmu hanya melayang-layang di awang-awang teori tanpa menyentuh bumi kenyataan, ia akan dirasa sebagai beban hafalan belaka, bukan sebagai pemandu kehidupan.
Islam adalah agama yang sangat praktis dan solutif. Kurikulum yang dibawa oleh Rasulullah SAW tidak pernah memisahkan antara teori keimanan dengan realitas sosial. Al-Qur'an diturunkan secara bertahap (tanzil) justru untuk merespons kejadian nyata yang dihadapi umat manusia, sehingga setiap ayatnya langsung terasa relevan dan aplikatif.
Allah SWT menegaskan bahwa Rasul-Nya diutus dengan membawa penjelasan yang gamblang dan mudah dipahami, bukan sesuatu yang membuat manusia bingung:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.(QS. Ibrahim: 4)
Rasulullah SAW juga selalu berdoa agar dilindungi dari jenis ilmu yang hanya menjadi tumpukan teori kognitif namun tidak membuahkan manfaat nyata bagi karakter dan kehidupan sehari-hari:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan." (HR. Ahmad)
2. Pelajaran dan Pesan
Mari kita bayangkan potret seorang pemuda di sebuah desa yang sedang dilanda krisis ekonomi dan keretakan sosial. Ia duduk di sebuah majelis ilmu atau ruang kelas dengan harapan besar bisa mendapatkan solusi atas beban hidupnya, cara berbakti pada orang tua yang sedang sakit, atau bagaimana mengelola emosinya yang labil.
Namun, apa yang ia dapatkan? Sepanjang hari ia disuguhi materi perdebatan teologis yang rumit dari abad pertengahan, atau rumus-rumus abstrak yang sama sekali tidak menyentuh realitas kampung halamannya. Pemuda itu menopang dagunya dengan tatapan kosong. Air matanya hampir menetes bukan karena khusyuk, melainkan karena merasa terasing di dalam majelis ilmu sendiri. Ia pulang dengan ruang hampa yang sama, merasa bahwa agama dan pendidikan tidak hadir untuk menyelesaikan jeritan hidupnya. Sungguh menyedihkan saat kurikulum gagal membumi, ia justru menjauhkan manusia dari solusi nyata.
Materi yang terlalu abstrak dan tidak relevan ini laksana seorang ayah yang "Menghadiahkan Cetak Biru (Blueprint) Kapal Pesiar Mewah kepada Anaknya yang Sedang Tenggelam di Sungai". Cetak biru itu sangat mahal, ilmiah, dan dirancang oleh arsitek hebat (seperti ilmu yang tinggi). Namun, anak yang sedang megap-megap di dalam air tidak butuh teori pembuatan kapal pesiar; dia hanya butuh sebatang kayu kecil atau pelampung sederhana untuk bisa bertahan hidup saat itu juga.
Kurikulum dan materi pengajaran harus disusun berdasarkan skala prioritas kebutuhan audiens (fikhul waqi'). Berikan mereka "pelampung" iman dan akhlak praktis terlebih dahulu sebelum mengajari mereka membangun "kapal pesiar" teori yang rumit.
Kadang-kadang kita sebagai pendidik atau pemateri suka terlalu "tinggi" dalam membawakan materi agar terlihat keren dan intelektual. Jamaahnya adalah para petani perkebunan yang sedang pusing memikirkan harga pupuk yang naik, tapi materi ceramah yang dibawakan bertema: "Dekonstruksi Epistemologi Modern dan Dampak Globalisasi Terhadap Metafisika Barat."
Sepanjang ceramah, para petani itu hanya saling pandang sambil berbisik, "Ini Ustadz ngomong pakai bahasa planet mana ya?" Walhasil, bukannya bertambah iman, pulang dari majelis para jamaah malah terkena penyakit baru, yaitu sakit kepala sebelah alias migrain! Ini menjadi sentilan jenaka bahwa ilmu yang hebat itu bukan ilmu yang bahasanya paling rumit hingga tak ada yang paham, melainkan ilmu yang paling tinggi nilainya namun mampu disederhanakan hingga menyentuh hati masyarakat awam.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia , hambatan berupa materi yang kurang relevan atau terlalu abstrak mendesak kita—para pendidik, dai, dan penyusun kurikulum—untuk melakukan reorientasi besar. Ilmu dalam Islam bukan sekadar hiasan otak atau pajangan gelar akademik, melainkan panduan amal nyata (al-'ilmu lil 'amal). Tugas kita adalah membumikan materi yang abstrak menjadi konkret, dan mendekatkan kurikulum dengan tantangan riil yang dihadapi oleh umat saat ini.
Ketika ilmu berhasil dijembatani dengan realitas kehidupan, maka belajar tidak akan lagi menjadi beban yang menjemukan, melainkan menjadi kebutuhan yang dinanti-nanti untuk menuntun jiwa menuju keselamatan dunia dan akhirat.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie