Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir- Rahim

1. Mukaddimah

Secara fisiologis, olahraga melepaskan hormon endortfin yang mampu memberikan rasa bahagia dan ketenangan jiwa. Namun, secara psikologi massa, fanatisme olahraga yang berlebihan dapat memicu pelepasan hormon adrenalin yang tidak terkendali, yang jika tidak dibarengi dengan iman, akan berubah menjadi agresi dan kebencian. Islam memandang olahraga sebagai sarana untuk menjaga amanah tubuh agar kuat dalam beribadah. Keseimbangan adalah kuncinya: raga yang kuat harus dibimbing oleh jiwa yang sehat, agar kompetisi tidak berubah menjadi permusuhan dan hobi tidak melalaikan kewajiban.

2. Uraian

Allah Swt. memerintahkan kita untuk bersatu dan menjauhi perpecahan yang sia-sia:

وَاَعِِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi...” (QS. Al-Anfal: 60)

Rasulullah ﷺ juga memperingatkan tentang bahaya lisan dan perilaku yang merusak kehormatan:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim (yang sempurna) adalah orang yang orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

3. Pelajaran dan Pesan

Kepahlawanan seorang olahragawan bukan saat ia memenangkan piala, melainkan saat ia mampu mengendalikan diri dari kata-kata kasar dan kebencian kepada lawan. Jangan biarkan sebuah permainan bola atau pertandingan memecah persaudaraan, menjauhkan suami-istri, atau melalaikanmu dari panggilan adzan. Olahraga adalah sarana, sedangkan menjaga kehormatan diri (menutup aurat) dan menjaga waktu shalat adalah tujuan yang tidak boleh dikorbankan.

Ada kisah seorang atlet muda yang sedang berada di puncak pertandingan final. Saat jam shalat tiba dan pertandingan belum usai, ia tetap tenang dan tidak emosional. Namun, begitu peluit akhir berbunyi, hal pertama yang ia lakukan bukan merayakan kemenangan dengan hura-hura, melainkan bersujud syukur di lapangan dan segera mencari tempat shalat. Baginya, sorak-sorai ribuan penonton tidak lebih berharga daripada satu kali ruku' di hadapan Penciptanya. Itulah martabat manusia yang sesungguhnya.

Berolahraga tanpa etika ibarat mobil balap yang melaju kencang tanpa rem. Ia mungkin terlihat hebat di lintasan, namun ia sangat berbahaya bagi dirinya sendiri dan orang lain karena sewaktu-waktu bisa hancur menabrak tembok kebencian. Etika adalah "rem" yang membuat kekuatanmu terkendali, membuatmu tetap berada di jalur kemanusiaan yang terhormat.

Lucu sekali jika ada suami istri yang sampai bertengkar bahkan bercerai hanya karena membela tim sepak bola yang berbeda. Padahal, tim yang mereka bela bahkan tidak tahu kalau mereka ada! Si pemain bola digaji milyaran dan hidup mewah, sementara si suporter rela sariawan karena teriak-teriak dan musuhan sama pasangan sendiri. Ingat ya, tim favoritmu tidak akan menemanimu di liang lahat, tapi istrimu yang akan mendoakanmu!

4. Kesimpulan dan Penutup

Islam mendukung raga yang kuat, namun Islam membenci fanatisme yang buta dan pamer aurat. Mari kita berolahraga dengan cerdas: tetap menutup aurat, menjaga lisan dari kata-kata kasar, dan jangan sampai bola mengalahkan kewajiban pada agama dan keluarga. Jadilah pemenang di lapangan, dan pemenang dalam menjaga akhlak mulia.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie