Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Mukaddimah
Secara sosiologis, terdapat fenomena yang disebut Selective Humanism atau kemanusiaan yang tebang pilih. Secara ilmiah, ketika sebuah peradaban memuja ras atau bangsanya sendiri di atas nilai keadilan universal, mereka sebenarnya sedang membangun struktur ego kolektif yang sangat rapuh.
Ketenangan jiwa sejati tidak akan pernah lahir dari kemakmuran yang dibangun di atas penderitaan bangsa lain. Kedamaian adalah sebuah ekosistem global; jika ada satu bagian dunia yang terbakar oleh ketidakadilan, maka asap rasisme itu pada akhirnya akan meracuni paru-paru kedamaian di seluruh dunia tanpa mengenal batas negara.
2. Uraian
Kemanusiaan tidak mengenal paspor ataupun warna kulit. Selama dunia masih membedakan nilai nyawa berdasarkan letak geografis, maka perdamaian hanyalah sebuah fiksi yang mahal harganya. Prinsip terpenting dalam hidup adalah menjadi manusiawi kepada setiap makhluk Tuhan. Rasisme global ibarat penghuni apartemen mewah yang membakar lantai bawah demi keuntungan pribadi; ia lupa bahwa ketika struktur bangunan itu runtuh, ia pun akan ikut terhempas.
Mari kita hayati firman Allah SWT dan pesan terakhir Rasulullah ﷺ yang secara tegas menghapuskan sekat-sekat rasisme:
A. Dalil Al-Qur'an (Tentang Keberagaman dan Kemuliaan Taqwa)
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13)
B. Sabda Rasulullah ﷺ (Dari Khutbah Wada')
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى
“Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian itu satu, dan bapak kalian satu (Adam). Ketahuilah, tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang non-Arab, tidak pula orang non-Arab atas orang Arab. Tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, dan tidak pula orang berkulit hitam atas orang berkulit merah, melainkan dengan ketakwaannya.” (HR. Ahmad No. 23489)
3. Pelajaran dan Pesan
Dari nilai-nilai universal ini, kita dapat memetik pelajaran moral yang mendalam:
Kemanusiaan Tanpa Batas: Belajarlah dari anak kecil di kamp pengungsian yang membagi rotinya kepada relawan. Ia menyadari bahwa rasa lapar itu sama sakitnya di perut siapa pun, tanpa melihat asal-usul atau warna kulit.
Bahaya Ego Kolektif: Kepahlawanan seorang pemimpin diuji dari bagaimana ia memperlakukan bangsa lain. Menindas bangsa lain demi kemewahan bangsa sendiri adalah bentuk rasisme yang akan menghancurkan tatanan dunia.
Konsistensi Kemanusiaan: Jangan sampai rasisme hanya hilang saat kita sedang butuh atau sedang sakit. Kemanusiaan sejati harus dipraktikkan dalam kondisi sehat maupun sakit, lapang maupun sempit.
Kacamata Iman: Bersihkan hati dari sisa-sisa rasisme yang terselubung dan mulailah melihat setiap hamba Allah sebagai saudara dalam kemanusiaan.
4. Kesimpulan dan Penutup
Dunia tidak akan pernah berhenti bergejolak selama rasisme masih menjadi ideologi tersembunyi di balik kemajuan peradaban. Mari kita akhiri praktik kemanusiaan yang tebang pilih dan mulailah mencintai semua hamba Allah tanpa batas dan sekat.
Dengan menjunjung tinggi nilai ketakwaan di atas segala perbedaan fisik, kita sedang membangun pondasi kedamaian yang kokoh bagi anak cucu kita. Semoga Allah senantiasa melembutkan hati kita untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العا
Abu Sultan Al-Qadie