Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Sahabat yang dirahmati Allah, Selama ini, mungkin banyak di antara kita yang salah memahami kata "zuhud". Ketika mendengar kata zuhud atau asketisme, yang terbayang di benak kita adalah sosok yang mengisolasi diri di puncak gunung, memakai pakaian yang compang-camping, menolak pernikahan, atau hidup dalam kemiskinan ekstrem hingga akhirnya menjadi beban finansial bagi orang lain.
Ketahuilah, itu bukanlah zuhud yang diajarkan oleh Islam! Melepaskan dunia bukan berarti kita harus menjadi miskin atau pasif dalam kehidupan. Letak zuhud yang sejati bukanlah pada kosongnya dompet kita, melainkan pada kemampuan kita untuk menyingkirkan dunia dari dalam hati kita, lalu memindahkannya cukup sampai di tangan saja.
Secara psikologis dan mental, menaruh dunia di tangan dan membiarkan hati tetap bersih adalah seni mengendalikan kepemilikan (art of detachment). Ketika harta berada di tangan, kita yang mengendalikannya untuk berbuat kebaikan. Namun jika harta sudah masuk ke dalam hati, maka hartalah yang akan menyetir, menjajah, dan membuat jiwa kita selalu diliputi kecemasan.
Islam justru sangat mendorong umatnya untuk menjadi pribadi yang mandiri, bekerja keras, dan produktif agar bisa memberikan manfaat yang luas bagi sesama manusia.
Rasulullah SAW bersabda mengenai pentingnya kemandirian ekonomi ini:
اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى
"Tangan yang di atas (memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (meminta)." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kriteria kedisiplinan seorang muslim yang kuat—baik secara spiritual, mental, maupun finansial—adalah karakter yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Rasulullah SAW menegaskan hal tersebut dalam sebuah hadis yang menyejukkan jiwa:
اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْؤْمِنِ الضَّعِيفِ
"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah." (HR. Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Mari kita menengok kisah tentang kehidupan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Sebelum menjadi khalifah, beliau adalah seorang pemuda yang sangat kaya raya, penikmat fasilitas duniawi terbaik, dan mengenakan pakaian yang paling mahal. Namun ketika amanah kekhalifahan jatuh ke pundaknya, beliau langsung mengembalikan seluruh harta pribadinya ke kas negara. Beliau memilih hidup sangat sederhana, bahkan hanya memiliki selembar pakaian yang sering kali harus ditambal.
Suatu hari, putri kecilnya menangis tersedu-sedu di hari raya Idulfitri. Ketika Umar bertanya, "Mengapa engkau menangis, wahai putriku?" Sang putri menjawab dengan sedih, "Teman-temanku memakai baju baru di hari raya, sedangkan aku hanya memakai baju lama yang sudah usang ini." Umar ikut meneteskan air mata, lalu memeluk putrinya dengan penuh kasih sambil berbisik, "Wahai anakku, keindahan hari raya bukanlah pada baju yang baru, melainkan pada ketakwaan kita yang bertambah kepada Allah." Umar adalah contoh nyata orang yang menguasai dunia di tangannya, namun mengosongkan hatinya dari kilauan dunia demi meraih rida Allah. Sungguh sebuah keteguhan jiwa yang mengharukan.
Supaya kita bisa membedakan mana dunia di tangan dan mana dunia di hati secara gampang, mari kita buat analogi sederhana yang agak menggelitik.
Bayangkan Anda sedang naik sebuah perahu kayu di tengah lautan yang luas. Di sekeliling perahu Anda, ada air laut yang melimpah ruah. Apakah perahu Anda akan tenggelam jika air laut itu hanya berada di sekeliling dan di bawah perahu? Tentu tidak! Justru air laut itulah yang menopang perahu Anda agar bisa berlayar sampai ke pulau tujuan.
Tapi, apa yang terjadi jika perahu itu mengalami kebocoran, lalu air laut mulai masuk dan menggenang di dalam lambung perahu? Hanya tinggal menunggu waktu, perahu itu pasti akan karam dan tenggelam ke dasar lautan!
Lucunya, banyak manusia zaman sekarang yang tidak sadar kalau perahu hatinya bocor. Air laut itu adalah harta, jabatan, dan popularitas (dunia). Menaruh dunia di tangan itu ibarat membiarkan air tetap berada di luar perahu: Anda punya mobil mewah, punya rumah megah, uangnya banyak, tapi semua itu dipakai untuk membantu orang dan beribadah.
Sementara orang yang hubbud dunya (cinta dunia) adalah orang yang perahu hatinya bocor. Uang kagak seberapa, tapi gayanya setinggi langit, kalau barangnya hilang sedikit langsung stres, nangis guling-guling di lantai, dan menyalahkan takdir. Itu namanya dunia sudah masuk ke lambung hati! Jangan sampai perahu kehidupan kita tenggelam hanya karena kita lupa menambal kebocoran hati kita dari jerat duniawi.
3. Kesimpulan & Penutup
Sahabat sekalian, pesan moral yang tinggi dari rumus zuhud sejati ini adalah sebuah ajaran untuk menjadi muslim yang kuat, kokoh, dan mandiri. Silakan kejar cita-cita Anda, silakan berbisnis, silakan menjadi orang sukses dan kaya raya. Jadilah tangan yang di atas untuk menolong agama Allah dan membantu sesama.
Namun, ingat selalu rumusnya: taruhlah semua kesuksesan dunia itu cukup di telapak tangan Anda, jangan pernah izinkan ia masuk dan bertahta di dalam hati Anda. Dengan begitu, ketika dunia itu datang, kita tidak akan sombong; dan ketika dunia itu pergi atau diambil kembali oleh Allah, hati kita tetap tenang karena yang hilang hanya apa yang ada di tangan, bukan apa yang ada di dalam hati.
Semoga Allah SWT mengaruniakan kepada kita kekuatan untuk menjadi mukmin yang kuat, mandiri, dan memiliki jiwa zuhud yang sejati.
. والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie