Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Pembukaan

Sahabat yang hatinya merindukan kedamaian sejati, pernahkah kita merenung, mengapa ada orang yang rajin beribadah tetapi hatinya tetap merasa hampa dan mudah kecewa? Secara ilmiah dan esensial, itu terjadi karena mereka baru menyentuh "kulit luar" agama, belum meresapi "inti terdalamnya".

Esensi terdalam dari beragama bukanlah sekadar menggugurkan kewajiban atau rutinitas fisik semata. Inti agama adalah Wushul—yaitu mencapai Tuhan, terhubung erat dengan-Nya, membangun ketulusan mutlak (ikhlas), serta menjadikan rida-Nya sebagai satu-satunya pusat dari seluruh cakupan pengetahuan dan kesadaran kita sepanjang siang dan malam. Ketika rida Allah sudah menjadi porosnya, maka pujian manusia tidak akan membuat kita terbang, dan cercaan manusia tidak akan membuat kita tumbang.

Allah SWT menegaskan esensi keikhlasan dan pencarian ridha-Nya ini dalam Al-Qur'an:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus." (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ketulusan batin yang menjadi inti agama ini juga dijabarkan oleh Rasulullah SAW ketika mendefinisikan puncak keagamaan (Ihsan), di mana kesadaran batin kita selalu terhubung dengan Allah:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّك تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاك

"Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu." (HR. Muslim)

2. Pelajaran dan Pesan

Pesan berharga untuk jiwa kita adalah: Berhentilah menjadikan manusia sebagai tujuan. Ketika kita berbuat baik, membantu orang, atau beribadah demi mendapatkan ketukan "like", pujian, atau balasan dari manusia, kita sedang melelahkan diri sendiri. Pindahkan pusat perhatianmu dari pandangan makhluk menuju pandangan Khaliq (Sang Pencipta). Jadikan rida Allah sebagai satu-satunya target hidupmu.

Mari kita kenang sebuah kisah mengharukan dari seorang ulama tabiin besar, Uwais al-Qarni. Beliau adalah pemuda miskin yang menderita penyakit sopak, tinggal di Yaman, dan merawat ibunya yang lumpuh dengan penuh ketulusan. Di bumi, Uwais adalah pemuda yang tidak dikenal, bahkan sering diejek dan dianggap remeh oleh orang-orang di sekitarnya. Hidupnya dari sudut pandang duniawi tampak sangat menyedihkan dan sunyi.

Namun, karena ketulusan hatinya yang luar biasa dan baktinya yang murni, Rasulullah SAW sampai berpesan kepada Umar bin Khattab untuk mencari Uwais dan meminta doa darinya. Rasulullah mengatakan bahwa Uwais adalah pemuda yang "terkenal di langit". Bayangkan, batinnya terhubung begitu erat dengan Allah dalam kesunyian malam di Yaman, hingga namanya bergema di langit, meski bumi mengabaikannya. Itulah potret jiwa yang berhasil meraih inti agama.

Supaya kita bisa memahaminya dengan senyuman, mari kita bayangkan Anda sedang mengendarai Sepeda Motor di malam hari yang gelap gulita. Di bagian depan motor Anda, ada lampu sorot yang sangat terang (ini ibarat ilmu dan kesadaran rida Allah).

Ke mana pun Anda membelokkan stang motor, entah ke kanan atau ke kiri, lampu itu akan selalu menyorot ke depan untuk menerangi jalan Anda (ini ibarat aktivitas kita siang dan malam yang selalu berpusat pada Allah).

Tapi, bayangkan ada orang yang pasang lampu sorotnya bukan menghadap ke jalanan, melainkan menghadap ke mukanya sendiri biar kelihatan ganteng atau dipuji orang lain di jalan (ini ibarat orang yang ibadah demi riya/pujian manusia). Kan lucu dan ngeri? Alih-alih sampai ke tujuan dengan selamat, dia malah silau sendiri, nabrak pohon, dan masuk selokan! Nah, begitulah nasib orang yang beragama tapi fokusnya mencari rida manusia; silau oleh pujian, lalu jatuh terperosok ke dalam kekecewaan.

3. Kesimpulan dan Penutup

Sahabat sekalian, kesimpulannya, mari kita kembalikan kompas hidup kita ke jalur yang benar. Inti agama bukanlah tentang seberapa sering kita tampil saleh di depan kamera atau di mata manusia, melainkan seberapa tulus hubungan rahasia kita dengan Allah di saat tidak ada satu pun orang yang melihat.

Jadikan rida Allah sebagai pusat gravitasi jiwa kita sepanjang siang dan malam. Ketika kita bekerja, berniatlah mencari rida-Nya. Ketika kita belajar, niatkan untuk menggapai ridha-Nya. Karena pada akhirnya, hanya hati yang penuh keikhlasan yang akan disambut dengan kalimat indah: "Masuklah ke dalam surga-Ku dengan rida dan diridhai."

. والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie