Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Sahabat yang dirahmati Allah, dalam mengarungi kehidupan, hambatan eksternal terbesar sering kali bukan karena kita tidak punya waktu, melainkan karena kita terjebak dalam pusaran aktivitas yang tidak produktif. Secara ilmiah, khususnya dalam ilmu manajemen strategis, ada sebuah formula terkenal yang disebut Eisenhower Matrix—sebuah metode yang memisahkan antara hal yang mendesak, penting, dan hal-hal sekadar interupsi yang tidak bernilai jangka panjang. Kegagalan kita dalam mengatur prioritas membuat energi kita habis untuk hal-hal sepele, sehingga ruang untuk menuntut ilmu dan memperbaiki diri menjadi terpinggirkan.
Islam mendidik kita menjadi pribadi yang visioner. Solusi dari tersitanya waktu adalah keberanian untuk menyaring aktivitas, mengerem hal yang sia-sia, dan mendahulukan apa yang membawa maslahat dunia maupun akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman mengenai ciri-ciri hamba yang beruntung, yaitu mereka yang mampu menjaga diri dari hal yang tidak berguna:
وَٱلَّذِينَ هُمْ عَنِ ٱللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
"Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna." (QS. Al-Mu'minun: 3)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga menegaskan bahwa tanda kebaikan Islam seseorang adalah kemampuannya menyortir prioritas hidupnya:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
"Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya." (HR. Tirmidzi)
2. Pelajaran dan Pesan
Mari kita renungkan sebuah kisah yang barangkali dekat dengan sekitar kita. Bayangkan seorang ibu atau seorang ayah yang terduduk lesu di sudut rumahnya yang sederhana setelah seharian lelah bekerja di tengah masa-masa pemulihan pasca-ujian hidup yang berat. Di sampingnya, sang anak mendekat membawa sebuah buku, memohon dengan mata berbinar, "Ayah, Ibu, ajarkan aku bab ini sebentar saja..."
Namun, karena gawai di tangan sang orang tua sedang berdenting menampilkan notifikasi grup obrolan yang ramai atau video hiburan yang melintas tanpa henti, sang orang tua menghardik pelan, "Nanti dulu, Ayah sibuk, Ibu capek." Sang anak pun menunduk, menutup bukunya dengan pelan, lalu berjalan pergi dengan pundak yang lesu. Sungguh menyedihkan ketika kita mengorbankan masa depan generasi kita dan hak ilmu, hanya demi memuaskan pandangan kita pada hal-hal maya yang tidak memberikan manfaat apa pun bagi timbangan amal kita di hadapan Allah.
Sahabat, bayangkan sebuah toples kaca kosong. Di meja Anda, ada beberapa buah batu besar, sekantong kerikil kecil, dan segelas pasir lembut. Jika Anda memasukkan pasir lembut dan kerikil kecil terlebih dahulu hingga memenuhi toples, maka ketika Anda mencoba memasukkan batu-batu besar, batu tersebut tidak akan pernah muat lagi. Toplesnya sudah penuh sesak.
Namun, bayangkan jika polanya dibalik. Masukkan batu-batu besar terlebih dahulu ke dalam toples. Setelah itu, tuangkan kerikil, mereka akan terselip di celah-celah batu. Terakhir, tuangkan pasir, dan pasir itu akan mengisi ruang-ruang kosong yang tersisa.
Toples itu adalah umur kita. Batu-batu besar adalah urusan prioritas kita: ibadah, menuntut ilmu, dan amanah keluarga. Sedangkan kerikil dan pasir adalah hiburan, obrolan kosong, dan aktivitas kurang penting lainnya. Jika kita tidak mendahulukan "batu besar" ilmu dalam jadwal hidup kita, maka sisa hidup kita akan habis tenggelam dalam "pasir" kesia-siaan.
Ada seorang pemuda yang mengeluh kepada gurunya, "Ustadz, saya ini herandengan diri sendiri. Tiap kali saya membuka kitab atau buku pelajaran, baru baca dua baris, mata saya langsung berat, mengantuknya seperti belum tidur tiga hari. Tapi anehnya, kalau saya buka media sosial untuk melihat gosip atau video lucu, saya kuat melek sampai jam dua malam tanpa berkedip sedikit pun! Itu kenapa ya, Ustadz?"
Sang ustadz tersenyum simpul lalu menjawab, "Wahai anak muda, itu tanda bahwa setannya sedang bekerja sama dengan matamu secara profesional. Saat kamu buka buku ilmu, setannya memijat kelopak matamu supaya tidur karena dia takut kamu jadi pintar. Tapi saat kamu buka gawai melihat hal sia-sia, setannya memasang pasak di matamu agar terus melotot menemani dia mengumpulkan dosa!"
Candaan ini membawa hikmah mendalam: kita harus sadar kapan diri kita sedang ditipu oleh rasa malas, lalu dengan tegas mengambil kendali atas prioritas kita sendiri.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia, hambatan eksternal berupa waktu dan komitmen yang tersita sebenarnya bisa diatasi jika kita memiliki keberanian untuk memilah dan memilih. Mulai hari ini, mari kita audit kembali aktivitas harian kita. Kurangi waktu-waktu yang terbuang untuk hal yang kurang penting, batasi durasi bermain gawai yang tidak menghasilkan karya, dan berikan ruang utama bagi majelis ilmu serta buku-buku pelajaran. Mengatur prioritas bukan berarti kita tidak boleh beristirahat, melainkan memastikan bahwa setiap detik umur kita berjalan di atas rel yang diridai Allah.
Mari kita bersihkan toples kehidupan kita dari pasir kesia-siaan, agar cahaya ilmu bisa bertahta di dalamnya.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie