Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Sahabat yang dirahmati Allah, salah satu ujian eksternal terberat bagi seorang penuntut ilmu adalah ketika ia harus berjuang di dalam lingkungan sosial dan budaya yang tidak mendukung. Secara sosiologi dan psikologi lingkungan, kepribadian dan motivasi seseorang sangat dipengaruhi oleh ekosistem terdekatnya—baik itu keluarga, teman, maupun masyarakat sekitar. Ketika seorang hamba mulai mengetuk pintu ilmu agama, namun justru dihadapkan pada sikap acuh tak acuh, cemoohan, atau ketiadaan dukungan dari orang-orang tercinta, maka beban mental yang dipikulnya akan terasa berlipat ganda.
Namun, ketahuilah bahwa jalan para nabi dan orang-orang shalih terdahulu hampir selalu melewati fase keterasingan sosial ini. Keimanan dan pencarian ilmu yang sejati tidak pernah digantungkan pada tepuk tangan manusia, melainkan pada rida Allah semata. Lingkungan yang dingin justru menjadi laboratorium langit untuk menyaring ketulusan niat kita.
Allah SWT memberikan penyejuk jiwa dalam Al-Qur'an agar kita tidak merasa lemah dan sedih ketika lingkungan sekitar tidak sejalan dengan visi akhirat kita:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتمْ مُؤْمِنِينَ
"Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (QS. Ali 'Imran: 139)
Rasulullah SAW juga telah memprediksi secara ilmiah fenomena sosial ini melalui sabdanya, memberikan kabar gembira bagi jiwa-jiwa yang tetap memilih jalan ilmu dan kebenaran di tengah lingkungan yang asing:
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
"Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana munculnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu." (HR. Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Mari kita bayangkan kisah nyata seorang pemuda atau seorang anak perempuan di sebuah rumah. Hatinya baru saja digerakkan oleh Allah untuk berhijrah, ingin serius belajar membaca Al-Qur'an, menghadiri majelis ilmu, dan memperbaiki akhlak. Namun, ketika ia pulang ke rumah dengan membawa kitab atau mukena barunya, bukan pelukan hangat yang ia terima. Orang tuanya justru mencibir dengan dingin, "Mau jadi sok suci kamu ya? Mau ikut aliran apa?" Teman-teman nongkrongnya pun mulai menjauh dan menjadikannya bahan tertawaan di grup percakapan, "Wah, ustadz kita sudah lahir nih, jangan dekat-dekat nanti ketularan alim."
Ia duduk menyendiri di sudut kamarnya yang gelap pada sepertiga malam. Sambil memeluk mushaf Al-Qur'an, air matanya tumpah membasahi sajadah. Ia merasa sangat kesepian, terasing di rumahnya sendiri, dan seolah tidak punya tempat lagi di dunia ini hanya karena ia ingin mendekat kepada Tuhannya. Menyedihkan sekali ketika benteng pertahanan pertama—yaitu keluarga dan lingkaran pertemanan—justru menjadi pihak pertama yang mematahkan semangat hijrah seseorang.
Seorang penuntut ilmu yang hidup di tengah lingkungan sosial yang kurang mendukung ini laksana sebutir "Benih Pohon Kurma yang Tertimbun di Bawah Batu-Batu Cadas yang Keras di Padang Pasir". Batu-batu cadas di atasnya tidak memberikan ruang, tidak memberikan air, dan seolah menekan benih itu agar mati di dalam tanah (seperti lingkungan yang beracun).
Pesan Moral: Namun, keunikan benih kurma adalah ia tidak menyerah pada tekanan. Ia justru menghunjamkan akarnya sedalam mungkin ke dalam bumi untuk mencari sumber air sendiri. Tekanan dari batu di atasnya justru memaksa akarnya menjadi sangat kuat, hingga akhirnya ia tumbuh menjulang menjadi pohon yang kokoh, berbuah manis, dan memberi teduh bagi musafir. Jangan biarkan cadasnya lingkungan mematikan potensimu; gunakan tekanan itu untuk memperdalam akar keimananmu langsung ke sumbernya.
Fenomena kurangnya dukungan lingkungan ini kadang membawa situasi yang menggelitik kalau kita bawa santai. Ada orang yang baru pulang mengaji, mencoba mempraktikkan sunnah nabi untuk makan menggunakan tiga jari. Sesampainya di rumah, pas jam makan bersama keluarga, ia pun mulai makan perlahan dengan tiga jari.
Melihat hal itu, ibunya langsung menatap heran lalu menyentil tangannya sambil berkata, "Kamu ini sejak ikut pengajian malah jadi susah makan ya? Itu sayur kuah lodeh sama sambal terasi mana bisa diambil pakai tiga jari, nak! Habis semua nanti tumpah di lantai!" Ini adalah candaan berhikmah. Kadang lingkungan kita tidak mendukung bukan karena mereka benci agama, tapi karena kita yang belum luwes dalam menerapkan ilmu. Belajar ilmu agama itu harus membuat kita semakin bijaksana dan tahu menempatkan diri, bukan malah membuat kita terlihat aneh dan kaku di depan orang-orang terdekat.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia, hambatan eksternal dari lingkungan sosial dan budaya memang sebuah ujian yang nyata dan berat bagi konsistensi (istiqamah) dalam belajar ilmu agama. Namun, pesan moral tertingginya adalah: manusia tidak bisa memilih di lingkungan mana ia dilahirkan atau dibesarkan, tetapi manusia selalu punya pilihan untuk menentukan ke lingkaran mana ia akan menambatkan hatinya.
Jika keluarga belum mendukung, ketuklah hati mereka dengan akhlak yang jauh lebih lembut setelah kita belajar agama. Jika teman-teman menjauh, carilah komunitas baru, majelis taklim, dan sahabat-sahabat hijrah yang siap menggandeng tangan kita menuju jannah. Ingatlah, Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya berjalan sendirian di jalan ilmu.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie