Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Sahabat yang dirahmati Allah, ketika jarak geografis, infrastruktur yang rusak, atau keterbatasan fisik menjadi benteng tebal yang menghalangi kita untuk hadir secara langsung di pusat-pusat ilmu, dunia modern menawarkan resolusi yang luar biasa. Secara ilmiah, pemanfaatan teknologi digital melalui e-learning, video instruksional, dan aplikasi edukasi mampu meruntuhkan dinding pembatas ruang dan waktu. Teknologi bertindak sebagai perpanjangan tangan manusia yang efisien untuk mendistribusikan pengetahuan secara instan ke berbagai belahan dunia.
Dalam pandangan Islam, teknologi adalah wasilah atau sarana. Ketika sarana digital ini kita isi dengan konten-konten kebaikan, kelas online, dan syiar agama, maka kita sedang mengubah perangkat teknologi menjadi jalan tol menuju rida Allah. Jarak yang jauh tidak lagi menjadi pemutus sanad ilmu, melainkan menjadi saksi bagaimana gelombang elektromagnetik dan internet digunakan untuk mengagungkan nama-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang karunia-Nya yang menundukkan berbagai sarana agar manusia bisa menempuh jarak dan ruang dengan kemudahan:
وَٱلْخَيْلَ وَٱلْبِغَالَ وَٱلْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
"Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak ketahui." (QS. An-Nahl: 8)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga menyampaikan bahwa di akhir zaman, ilmu dan pesan-pesan Islam akan menjangkau setiap sudut bumi, masuk ke setiap rumah, tanpa ada tempat yang terlewatkan:
لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الْأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ
"Sungguh, urusan (agama) ini akan membawa hasil (menjangkau) apa yang dijangkau oleh malam dan siang." (HR. Ahmad)
2. Pelajaran dan Pesan Moral
Mari kita bayangkan seorang penuntut ilmu di sebuah daerah yang baru saja dilanda ujian berat, di mana sekolah dan jalanan runtuh tak lagi bisa dilalui. Anak itu duduk di bawah reruntuhan teras rumahnya yang retak. Di tangannya, ada sebuah gawai pinjaman yang layarnya tergores dalam.
Ketika kuota internetnya yang minim berhasil terhubung, layar itu menampilkan wajah gurunya yang sedang tersenyum dalam sebuah video pembelajaran atau ruang kelas online. Air mata anak itu menetes menyentuh permukaan layar gawai. Ia menangis bukan karena meratapi rumahnya yang rusak, melainkan karena haru bahwa di tengah isolasi fisik dan reruntuhan batu, cahaya ilmu tetap bisa menembus masuk melalui seberkas sinyal digital, memberinya harapan baru untuk kembali bangkit. Teknologi telah menyelamatkan jiwanya dari rasa putus asa.
Sahabat, bayangkan sebatang pohon rindang yang berbuah sangat lezat di puncak gunung yang sangat terjal dan dikelilingi jurang yang dalam. Orang-orang yang berada di lembah tidak akan pernah bisa mencicipi buah tersebut karena jalurnya terlalu berbahaya untuk didaki.
Namun, bagaimana jika sang pemilik pohon mengikatkan buah-buah itu pada kawanan burung merpati yang terbang dengan cepat, lalu menerbangkannya turun ke lembah untuk dibagikan kepada setiap warga? Tentu semua orang bisa menikmatinya tanpa harus bertaruh nyawa mendaki jurang.
Teknologi digital, kelas online, dan materi video pembelajaran adalah "burung-burung merpati" modern kita. Mereka membawa buah manis ilmu melintasi jurang keterbatasan fisik, lalu menjatuhkannya tepat di pangkuan siapa saja yang membuka gawainya dengan niat yang tulus.
Ada cerita tentang seorang kakek yang ikut mendaftar di kelas online majelis ilmu melalui aplikasi pertemuan video demi mengatasi susahnya transportasi ke kota. Karena baru pertama kali menggunakan teknologi, si kakek lupa mematikan mikrofoni (unmute) saat kelas sedang berlangsung khidmat.
Tiba-tiba terdengar suara si kakek berteriak keras ke arah dapurnya, "Nenek! Kopi mana kopi? Ini ustadznya di dalam HP sudah bicara satu jam, tapi kopinya belum melompat keluar dari layar!" Seluruh peserta kelas online tertawa, termasuk sang ustadz.
Candaan ini membawa hikmah yang mendalam: teknologi memang tidak bisa memindahkan secangkir kopi fisik, tetapi ia memiliki keajaiban untuk memindahkan keberkahan ruang kelas dan kehangatan silaturahmi langsung ke dalam ruang tamu rumah kita, asalkan kita mau belajar menggunakannya dengan benar.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia , hambatan berupa akses yang sulit dan terisolasi telah dipatahkan oleh Allah melalui wasilah Pemanfaatan Teknologi. Jangan lagi jadikan jarak sebagai alasan untuk berhenti belajar. Solusinya kini ada di jemari kita: instal aplikasi islami yang bermanfaat, buka video pembelajaran yang bermutu, dan hadirilah kelas-kelas online yang membawa kebaikan. Ketika fisik kita terikat di tempat yang terbatas, biarkan akal dan ruhani kita melesat jauh menembus batas ruang melalui jembatan teknologi digital yang berkah.
Mari kita jadikan gawai di tangan kita sebagai saksi pembela di hadapan Allah bahwa ia digunakan untuk menjemput cahaya ilmu.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie