Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Mukaddimah

Sahabat religius yang luar biasa, dalam psikologi terdapat fenomena yang disebut Self-Serving Bias, di mana seseorang cenderung menilai dirinya lebih baik dan memberikan standar yang lebih ringan untuk kesalahannya sendiri, namun sangat ketat menilai orang lain. Secara ilmiah, orang yang memiliki "dua standar" atau "dua timbangan" dalam hidupnya akan mengalami ketidakstabilan emosional karena ia hidup dalam ketidakjujuran intelektual. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang memiliki satu timbangan yang adil atau integritas. Ketika kita memperlakukan orang lain dengan standar yang sama seperti kita memperlakukan diri sendiri, otak kita akan mencapai harmoni, dan nurani kita akan merasa damai karena kita telah memanusiakan manusia.

Hal ini sebagaimana peringatan keras Allah SWT dalam Al-Qur'an bagi mereka yang berbuat curang:

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَۗ

“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam timbangan)! (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan, dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.” (QS. Al-Mutaffifin: 1-3)

Rasulullah SAW pun memberikan standar keimanan yang sangat jelas:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari & Muslim)

2. Uraian

Keadilan sejati dimulai dari caramu memandang hak dan kewajiban. Jika Anda percaya bahwa Anda memiliki hak istimewa yang tidak dimiliki orang lain, atau menganggap orang lain punya beban kewajiban yang tidak berlaku bagi Anda, maka sesungguhnya Anda sedang membiarkan benih rasisme tumbuh dalam jiwa. Menjadi manusia yang bertaqwa berarti membuang jauh-jauh "dua timbangan" dari dada; ukurlah rasa sakit orang lain dengan rasa sakitmu, dan ukurlah hak orang lain dengan hakmu sendiri. Bayangkan seorang pria yang sepanjang malam mengejek ibu mertuanya di hadapan istrinya, namun seketika murka saat istrinya sedikit saja menyinggung ibu dari pria tersebut. Pria ini tidak menyadari bahwa air mata istrinya sama pedihnya dengan amarah yang ia rasakan. Ketidaksamaan standar ini adalah bentuk rasisme emosional yang menghancurkan rumah tangga. Ia mencintai ibunya, tapi ia lupa bahwa istrinya pun seorang anak yang mencintai ibunya.

Memiliki dua standar dalam hidup ibarat seseorang yang memiliki dua meteran kain yang berbeda. Satu meteran yang lebih pendek ia gunakan saat membeli agar mendapat lebih banyak, dan satu meteran yang lebih panjang ia gunakan saat menjual agar pelanggan mendapat lebih sedikit. Orang ini mungkin merasa untung di dunia, namun ia sebenarnya sedang membangun hidup di atas pasir hisap. Tanpa satu ukuran yang jujur, seluruh bangunan karakter akan runtuh karena tidak ada keadilan di pondasinya. Kita ini terkadang lucu; kita ingin orang lain bersabar saat kita salah, tapi tidak bisa sabar saat orang lain telat satu menit. Kita ingin bos pengertian saat kita sakit, tapi marah-marah saat asisten rumah tangga izin karena anaknya demam. Kita seperti orang yang membawa timbangan rusak ke mana-mana; ke arah kita timbangannya enteng, tapi ke arah orang lain berat sekali. Ingatlah, malaikat pencatat amal tidak menggunakan timbangan rusak kita. Standar langit itu cuma satu: Adil!

3. Pelajaran dan Pesan

Pelajaran besar bagi kita adalah bahwa integritas berarti memiliki satu standar moral yang berlaku di mana saja dan kepada siapa saja. Pesan moralnya: jangan pernah menuntut pengertian yang tidak pernah Anda berikan, dan jangan meminta keadilan yang tidak pernah Anda lakukan. Memperbaiki "timbangan" dalam dada adalah langkah awal untuk memperbaiki hubungan kita dengan manusia dan dengan Sang Pencipta.

4. Kesimpulan dan Penutup

Saudara-saudari terkasih, bertaqwalah kepada Allah dengan menggunakan satu timbangan yang sama untuk semua orang. Jangan biarkan ego membuatmu menjadi rasis dalam bersikap. Jadilah manusia yang utuh, yang memberikan hak orang lain sebagaimana kamu menuntut hakmu sendiri.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Oleh : Abu Sultan Al-Qadrie