Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Mukaddimah
Secara biologis, kematian sering dianggap sebagai akhir dari segalanya. Namun, jika kita melihat dari kacamata hakikat, dunia ini hanyalah "ruang tunggu" atau inkubator. Kematian bukanlah pemutusan eksistensi, melainkan transisi energi dari alam yang fana ke alam yang kekal. Allah menghendaki kita untuk bersaing di akhirat, karena hanya di sanalah kebahagiaan bersifat absolut dan tidak lagi terikat oleh waktu. Segala musibah di dunia—baik itu penyakit yang menggerogoti tubuh atau kemiskinan yang mencekik leher—semuanya memiliki "tanggal kedaluwarsa", yaitu kematian.
Maka, kompetisi yang sesungguhnya bukanlah di sini, melainkan pada apa yang kita persiapkan untuk setelahnya:
وَفِيْ ذٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُوْنَ
“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Mutaffifin: 26)
Untuk meraih kemenangan yang abadi inilah, setiap pribadi yang berakal seharusnya mencurahkan tenaganya:
لِمِثْلِ هٰذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُوْنَ
“Untuk kemenangan serupa ini, hendaklah beramal orang-orang yang beramal.” (QS. As-Saffat: 61)
2. Uraian
Dunia ini hanyalah panggung sandiwara di mana semua aktornya, seberapa pun hebat perannya, pasti akan meninggalkan panggung saat tirai diturunkan. Jika Anda membaca buku sejarah yang tebal, Anda akan sampai pada satu kesimpulan yang menggetarkan: tokoh yang kuat di jilid pertama mati, yang kaya di jilid kedua mati, yang jenius hingga yang bodoh pun, semuanya berakhir sama. Namun, saat tirai dunia tertutup, itulah saat lampu-lampu di "panggung abadi" baru saja dinyalakan. Kematian adalah The Great Equalizer (penyamarata agung); ia mengambil kekuatan si kuat dan menghapus penderitaan si lemah. Sangat tidak logis jika kita menghabiskan seluruh energi untuk memperebutkan sesuatu yang pasti akan diambil kembali.
Terkadang kita ini lucu; bersaing habis-habisan dengan tetangga hanya gara-gara urusan model pagar rumah atau merek kendaraan. Kita rela kurang tidur demi mengejar dunia yang sebenarnya sedang "berlari" meninggalkan kita menuju kuburan. Ibarat orang yang berada di dalam kereta api; ia bertengkar hebat memperebutkan kursi empuk di gerbong, padahal sebentar lagi kereta sampai di stasiun tujuan dan semua penumpang harus turun. Tidak peduli Anda duduk di kursi VIP atau berdiri dekat pintu, begitu sampai di stasiun kematian, semua turun dengan tangan kosong. Jadi, buat apa stres berlebihan mengejar "kursi" dunia yang sifatnya hanya pinjaman sementara?
3. Pelajaran dan Pesan
Pelajaran mendalam bagi kita adalah bahwa kesadaran akan kematian seharusnya melahirkan kemerdekaan jiwa, bukan ketakutan yang melumpuhkan. Pesan moralnya: berhentilah menjadi budak dari hal-hal yang memiliki tanggal kedaluwarsa. Gunakan waktu yang terbatas ini untuk membangun aset yang tidak akan disita oleh maut, yaitu amal jariyah dan akhlak mulia. Jika kesulitan dunia berakhir di liang kubur, maka pastikan Anda tidak memulai kesulitan baru di alam setelahnya dengan membawa bekal ketaatan yang cukup.
4. Kesimpulan dan Penutup
Saudara-saudaraku yang terkasih, kematian bukanlah hal yang perlu ditakuti jika kita tahu ke mana arah perjalanan kita. Ia hanyalah sebuah titik balik di mana penderitaan duniawi selesai dan kehidupan abadi dimulai. Jadikanlah dunia ini sebagai ladang, bukan tujuan. Bekerjalah untuk akhirat seolah-olah Anda akan kembali kepada-Nya besok, dan bersainglah dalam kebaikan karena itulah satu-satunya kompetisi yang pemenangnya akan tertawa bahagia selamanya di haribaan Tuhan yang Maha Pengasih.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Oleh : Abu Sultan Al-Qadrie