Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Mukaddimah

Dalam dunia akuntansi, kita mengenal laba sebagai selisih lebih dari pendapatan. Namun dalam psikologi integritas, laba sejati adalah keselarasan antara apa yang ada di dalam hati dengan apa yang tampak di luar. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang tidak menggantungkan harga dirinya pada "validasi eksternal". Ketika kita merasa rugi hanya karena dikritik, atau merasa untung hanya karena dipuji, sebenarnya kita sedang membiarkan orang lain mengendalikan kebahagiaan kita. Laba yang hakiki adalah saat batin merasa damai karena kita tahu siapa diri kita di hadapan Sang Pencipta.

Al-Qur'an mengingatkan bahwa nasib dan tanggung jawab moral seseorang ada pada dirinya sendiri, bukan pada opini orang lain:

قَالُوْا طٰۤىِٕرُكُمْ مَّعَكُمْۗ اَىِٕنْ ذُكِّرْتُمْۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ

“Mereka (para utusan) berkata: 'Nasibmu ada pada kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas'.” (QS. Yasin: 19)

Rasulullah ﷺ pun menegaskan bahwa kemuliaan di mata Allah sering kali tersembunyi dari pandangan manusia:

رُبَّ اَشْعَثَ اَغْبَرَ مَدْفُوْعٍ بِالْاَبْوَابِ لَوْ اَقْسَمَ عَلَى اللّٰهِ لَاَبَرَّهُ

“Bisa jadi orang yang berambut kusut dan berdebu, diusir dari pintu-pintu (karena dianggap hina), namun jika ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.” (HR. Muslim)

2. Uraian

Nilai emas tidak akan berubah menjadi besi hanya karena sejuta orang menyebutnya besi. Standarmu adalah Tuhanmu; selama hubunganmu dengan Allah baik, maka seluruh dunia yang memusuhimu tidak akan bisa mengurangi setetes pun kemuliaanmu. Bayangkan seorang pembersih jalan yang diabaikan dunia; ia mungkin dianggap "rugi" secara status, namun setiap langkahnya diikuti doa malaikat karena kejujurannya. Saat kematian datang, ia pulang membawa "emas" di dada, sementara mereka yang dipuja karena kepalsuan pulang dengan tangan hampa. Laba yang sesungguhnya bukan apa yang kita bawa di kantong, tapi apa yang kita bawa di dalam jiwa.

Hidup ini ibarat memegang logam berharga. Jika Anda memegang emas murni dan orang menuduhnya logam murahan, emas itu tidak akan kehilangan nilainya. Anda tetap pemenang. Namun, jika Anda memegang besi berkarat dan berhasil meyakinkan dunia bahwa itu emas lewat pencitraan, Anda sebenarnya adalah orang yang paling merugi karena nilai asli yang Anda pegang adalah nol. Kita ini sering kali lucu; lebih takut "rating" turun di mata tetangga daripada di mata Allah. Kita sibuk check-out skincare agar wajah bercahaya di depan manusia, tapi jarang check-out tobat agar wajah bercahaya di Hari Kiamat. Ingat, pujian orang itu seperti parfum; enak untuk dicium sebentar, tapi jangan ditelan karena bisa menjadi racun yang mematikan rasa rendah hati.

3. Pelajaran dan Pesan

Pelajaran fundamental bagi kita adalah bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika kita berhenti menjadi budak dari lisan manusia. Pesan moralnya: fokuslah pada kualitas "logam" di dalam jiwamu, bukan pada "label" yang ditempelkan dunia. Jika Anda mengenal diri sendiri dengan baik di hadapan Allah, maka pujian tidak akan membuat Anda melayang (sombong), dan cacian tidak akan membuat Anda tumbang (putus asa). Jadikan rida Allah sebagai satu-satunya indikator laba dalam buku catatan kehidupan Anda.

4. Kesimpulan dan Penutup

Saudara-saudari terkasih, laba dan rugi dalam hidup ditentukan oleh ketaatan kita kepada Allah. Fokuslah pada kualitas batinmu, karena pada akhirnya kita hanya akan menghadap-Nya sendirian, tanpa membawa serta komentar-komentar atau likes dari orang lain. Fokuslah menjadi "emas" di mata Allah, meskipun dunia melihatmu sebagai debu. Karena pada akhirnya, hanya penilaian-Nya yang akan menentukan nasib kita di keabadian.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Oleh : Abu Sultan Al-Qadrie