Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Mukaddimah
Cinta yang berlebihan tanpa batasan nilai dapat menyebabkan "bias kognitif", di mana seseorang kehilangan objektivitas demi menjaga harmoni emosional. Ketenangan jiwa sejati lahir ketika cinta kepada manusia diletakkan di bawah cinta kepada Sang Pencipta. Allah mengingatkan:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berwaspadalah kamu terhadap mereka.” (QS. At-Taghabun [64]: 14)
2. Uraian
Cinta sejati adalah yang membawa kita bersama menuju surga. Seorang pemimpin keluarga harus tetap memegang kemudi di jalur kebenaran meskipun ada rintangan emosional. Jangan sampai kita menjadi "pahlawan" di depan keluarga tetapi menjadi "pelanggar" di hadapan Allah demi menuruti keinginan yang melampaui batas. Ingatlah batasan ketaatan:
لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq (Allah).” (HR. Ahmad)
3. Pelajaran dan Pesan
Pelajaran utamanya adalah tugas kita bukan sekadar memberi makan fisik, tapi menyelamatkan jiwa keluarga. Pesan moralnya: jadilah pemimpin yang tegas dalam prinsip namun lembut dalam penyampaian. Cinta yang melalaikan dari Allah adalah jerat yang harus diwaspadai.
4. Kesimpulan dan Penutup
Saudara-saudari terkasih, didiklah keluarga dengan iman agar cinta di dunia kekal hingga ke surga. Waspadalah terhadap cinta yang menjauhkan dari Allah . Semoga Allah menjadikan keluarga kita penyejuk mata dan penyelamat di akhirat. Amin
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Oleh : Abu Sultan Al-Qadrie