Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1 . Pembukaan

Sahabat yang dirahmati Allah, pernahkah kita merenungkan mengapa dinamika batin manusia begitu rumit? Kadang kita merasa begitu suci dekat dengan Allah, namun di hari lain kita bisa jatuh dalam khilaf. Secara psikologis dan spiritual, ini terjadi karena manusia adalah makhluk hibrida—perpaduan antara dimensi samawi (langit) yang suci dan dimensi bumi yang rendah.

Allah SWT menciptakan makhluk hidup di alam semesta ini dengan cetak biru (potensi) yang berbeda-beda untuk menunjukkan keagungan-Nya. Ada makhluk yang jalurnya lurus tanpa belokan, ada yang bergerak murni dengan insting bertahan hidup, dan ada makhluk yang diletakkan di persimpangan jalan: itulah kita, manusia.

Mari kita tadaburi bagaimana Allah mengunci karakteristik ini dalam firman-Nya:

Hakikat Penciptaan Malaikat Malaikat adalah personifikasi dari ketaatan mutlak. Mereka adalah energi kesucian yang tidak memiliki konflik batin, karena Allah membekali mereka akal untuk ma'rifat, namun mencabut syahwat dari mereka.

وَلَهُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَنْ عِنْدَهٗ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِهٖ وَلَا يَسْتَحْسِرُوْنَ

"Dan milik-Nya-lah siapa yang di langit dan di bumi. Dan (malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya, tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih." (QS. Al-Anbiya [21]: 19)

Hakikat Penciptaan Hewan Sebaliknya, hewan diciptakan sebagai pelengkap ekosistem bumi yang digerakkan oleh syahwat (keinginan makan, minum, berkembang biak) tanpa dibekali akal untuk menimbang nilai moral atau masa depan akhirat.

اِنَّ اللّٰهَ يُدْخِلُ الَّذِذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَتَمَتَّعُوْنَ وَيَأْكُلُوْنَ كَمَا تَأْكُلُ الْاَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

"Sungguh, Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang yang kafir menikmati kesenangan (dunia) dan mereka makan seperti makannya hewan-hewan; dan nerakalah tempat tinggal bagi mereka." (QS. Muhammad [47]: 12)

Hakikat Keunikan Manusia. Manusia adalah mahakarya. Di dalam tubuh yang ringkih ini, Allah meniupkan ruh-Nya sekaligus membentuk jasadnya dari tanah. Kita diberikan akal sekaligus syahwat.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سَافِلِيْنَۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍۗ

"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya." (QS. At-Tin [95]: 4-6)

Rasulullah SAW juga bersabda dalam sebuah hadis yang sangat indah mengenai asal-mula penciptaan unsur-unsur ini:

خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ

"Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah disifatkan (dijelaskan) kepada kalian (tanah)." (HR. Muslim)

2. Pelajaran dan Pesan

Dari pembagian potensi ini, para ulama (salah satunya Imam Al-Ghazali) merumuskan sebuah kaidah kehidupan yang sangat mendalam bagi kita:

Jika seorang manusia mampu memenangkan akal dan imannya di atas syahwanya, maka derajatnya bisa melesat naik di atas derajat Malaikat. Mengapa? Karena Malaikat taat tanpa beban godaan, sedangkan manusia taat di tengah badai godaan.

Namun sebaliknya, jika manusia membiarkan syahwatnya menjajah akalnya, maka derajatnya merosot lebih rendah daripada hewan. Mengapa? Karena hewan tidak punya akal, sementara manusia punya akal tapi memilih untuk menjadi "binatang".

Coba kita tatap realitas hari ini dengan hati yang jernih. Betapa banyak air mata tumpah melihat potret kemanusiaan yang koyak. Kita melihat seorang anak kandung yang tega menganiaya orang tuanya hanya karena tidak diberi uang untuk memuaskan kesenangan sesaat. Kita melihat seorang ayah yang menelantarkan darah dagingnya demi mengejar ego dan kesenangan pribadi.

Saat melihat peristiwa itu, jiwa kita perih. Mengapa? Karena pada momen tersebut, kita sedang menyaksikan runtuhnya "hakikat kemanusiaan". Manusia yang seharusnya menjadi khalifah yang penuh kasih, justru membuang akal sehatnya, mematikan nuraninya, dan membiarkan syahwat hewani mengambil alih kemudi hidupnya. Sungguh, melihat manusia yang kehilangan kemanusiaannya adalah pemandangan paling menyedihkan di muka bumi.

Bayangkan diri kita ini seperti sebuah Kereta Kencana Kerajaan.

Syahwat itu adalah Kuda-kuda yang gagah dan penuh energi. Tanpa kuda, kereta tidak akan bisa berjalan. Kita butuh syahwat (keinginan makan, memiliki harta, berpasangan) agar kehidupan di bumi ini terus berjalan dan bergairah.

Akal dan Iman adalah Kusir (Pengemudi) yang memegang tali kendali.

Jika kereta kencana dikendalikan oleh kusir yang cerdas, kuda-kuda yang bertenaga itu akan membawa kereta sampai ke istana raja (Surga) dengan selamat dan terhormat. Namun, jika kusirnya tertidur atau pingsan, maka kuda-kuda itu akan berlari liar tanpa arah, membawa kereta masuk ke dalam jurang yang dalam (Neraka). Syahwat tidak untuk dibunuh, tapi untuk dikendalikan di bawah komando akal.

Ada cerita ringan yang sering kita temui sehari-hari. Kalau ada seekor kambing berjalan melewati kebun kangkung pak tani, lalu kambing itu menghabiskan seluruh kangkung di sana, apakah pak tani akan membawa kambing itu ke meja hijau atau kantor polisi? Tentu tidak. Paling-paling kambingnya dihalau sambil diomeli. Kenapa? Karena semua orang maklum, namanya juga hewan, punya syahwat lapar tapi tidak punya akal untuk tahu itu milik siapa.

Tapi, bayangkan kalau yang memakai jas rapi, naik mobil mewah, lalu diam-diam "memakan" yang bukan haknya—alias korupsi atau mengambil hak orang lain. Lucu, kan? Dia punya akal, sekolahnya tinggi, tapi kelakuannya membuat kambing di pinggir jalan menggeleng-gelengkan kepala. Hewan saja mengambil makanan karena memang tidak punya akal, lalu apa sebutan bagi makhluk berakal yang meniru tabiat hewan? Di sinilah pentingnya menertawakan kerapuhan kita agar kita segera sadar dan beristighfar.

3. Kesimpulan dan Penutup

Sebagai penutup, esensi dari penciptaan kita bukanlah menjadi makhluk yang tanpa dosa seperti malaikat, karena itu mustahil bagi kita. Bukan pula hidup tanpa aturan seperti hewan, karena itu menghinakan martabat kita.

Tugas kita sebagai manusia adalah menjadi hamba yang terus berjuang. Menjadikan akal sebagai pemimpin, dan syahwat sebagai pelayan yang patuh. Setiap kali syahwat kita mulai memberontak, ketuklah ia dengan peringatan akal dan cahaya iman.

Semoga Allah SWT senantiasa menguatkan tali kendali akal kita, melembutkan hati kita dengan iman, dan menjinakkan keliaran syahwat kita, sehingga kelak saat kita kembali kepada-Nya, kita dipanggil sebagai jiwa yang tenang (Nafsul Mutmainnah) yang layak menempati surga-Nya

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie