Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pembukaan

Secara sains, alam semesta diatur oleh hukum-hukum tetap yang kita kenal sebagai Laws of Physics (Hukum Fisika). Gravitasi, rotasi planet, hingga interaksi atomik tidak berjalan secara acak, melainkan tunduk pada konstanta yang sangat presisi. Jika hukum ini berubah sedikit saja, semesta akan runtuh. Manusia, secara biologis, juga memiliki hukum "fitrah". Sel-sel kita tahu kapan harus membelah dan kapan harus mati. Keseimbangan ekosistem dalam tubuh dan jiwa kita akan terjaga hanya jika kita tunduk pada sistem yang telah dirancang oleh "Insinyur Agung" alam semesta. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang berhenti memberontak terhadap hukum alamiah penciptaannya.

Allah SWT menegaskan bahwa otoritas mutlak untuk mengatur ciptaan adalah hak penuh Sang Pencipta:

أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

"Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Al-A'raf: 54)

Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa ketetapan Allah adalah panduan mutlak bagi setiap hamba:

وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ

"Ketahuilah, bahwa apa saja yang (ditakdirkan) meleset darimu tidak akan pernah menimpamu, dan apa saja yang (ditakdirkan) menimpamu tidak akan pernah meleset darimu." (HR. Tirmidzi)

2. Pembukaan

Pesan moral yang paling dalam adalah tentang Kedaulatan. Jika kita mengakui bahwa Allah yang menciptakan kita dari ketiadaan, maka secara logika dan etika, hanya Dia yang berhak menentukan aturan pakai bagi diri kita. Mengikuti aturan selain aturan-Nya adalah bentuk kesombongan intelektual. Menjadi hamba yang taat bukanlah kehinaan, melainkan pengakuan jujur atas keterbatasan kita di hadapan Kebijaksanaan yang Tak Terbatas.

Seorang mualaf yang merupakan mantan ilmuwan ateis pernah bercerita bahwa ia menemukan kedamaian saat sujud untuk pertama kalinya. Ia berkata, "Selama ini aku merasa menjadi tuhan atas hidupku sendiri, dan itu sangat melelahkan karena aku harus memikirkan segalanya. Namun, saat aku mengakui bahwa ada Sang Pencipta yang lebih berhak mengatuku, beban di pundakku seketika hilang. Aku merasa seperti bayi yang tenang dalam dekapan ibunya; aku tidak lagi takut karena aku tahu Aku diatur oleh Yang Maha Mengetahui."

Bayangkan Anda membangun sebuah gedung pencakar langit dengan biaya miliaran. Siapa yang berhak menentukan di mana letak pipa air, kabel listrik, dan pintu darurat? Tentu Anda sebagai pemilik dan arsiteknya. Jika ada orang asing masuk dan memindah-mindahkan kabel listrik ke saluran air, gedung itu akan hancur. Begitulah manusia; kita adalah "gedung" milik Allah. Jika kita membiarkan hawa nafsu atau pendapat orang asing mengatur "kabel" syariat dalam diri kita, maka kehancuran hanyalah masalah waktu.

Kita ini sering sok hebat. Beli motor baru, disuruh pakai oli merek A oleh pabriknya, kita patuh setengah mati. Padahal yang bikin motor itu manusia biasa yang juga bisa sakit gigi. Tapi saat Allah yang menciptakan mata, jantung, dan nyawa kita menyuruh kita "pakai" aturan shalat dan jujur, kita malah banyak tanya, "Emangnya kenapa harus gitu? Emang nggak bisa pakai cara lain?" Aneh kan? Lebih percaya sama teknisi bengkel daripada sama Pemilik Nyawa!

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudaraku yang berbahagia , hiduplah dengan tenang di bawah naungan aturan Sang Pencipta. Berhenti mencoba mengatur apa yang sudah diatur oleh-Nya, dan mulailah mengatur apa yang Dia perintahkan kepada kita. Al-Qur'an dan Sunnah adalah hak cipta dan hak atur dari Allah untuk keselamatan kita. Pakailah aturan-Nya, maka Anda akan selamat sampai tujuan akhir.