Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Secara neurobiologis dan psikologis, manusia adalah makhluk yang unik. Berbeda dengan malaikat yang diciptakan tanpa nafsu, atau hewan yang digerakkan semata-mata oleh insting bertahan hidup, manusia dibekali dengan Akal dan Syahwat.
Ketika Allah SWT menawarkan sebuah tanggung jawab besar bernama Al-Amanah (kebebasan memilih dan memikul beban syariat), makhluk lain gemetar ketakutan. Namun, manusia dengan berani—bahkan cenderung nekat—menerimanya.
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh."
Amanah inilah yang menjadi pisau bermata dua. Jika akal mampu mengendalikan nafsu, derajat kita melesat melampaui malaikat. Sebaliknya, jika nafsu mengubur akal, kita jatuh lebih dalam daripada hewan dan benda mati. Menurut sebahagian ulama Khalifah Ali bin Abi Thalib berbakata :
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ رَكَّبَ فِي الْمَلَائِكَةِ عَقْلًا بِلَا شَهْوَةٍ وَرَكَّبَ فِي الْبَهَائِمِ شَهْوَةً بِلَا عَقْلٍ وَرَكَّبَ فِي بَنِي آدَمَ كِلَيْهِمَا فَمَنْ غَلَبَ عَقْلُهُ شَهْوَتَهُ فَهُوَ خَيْرٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ وَمَنْ غَلَبَتْ شَهْوَتُهُ عَقْلَهُ فَهُوَ شَرٌّ مِنَ الْبَهَائِمِ
"Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla memasang pada malaikat akal tanpa syahwat, dan memasang pada hewan syahwat tanpa akal, serta memasang pada anak cucu Adam kedua-duanya. Maka barangsiapa yang akalnya mengalahkan syahwatnya, ia lebih baik dari malaikat; dan barangsiapa yang syahwatnya mengalahkan akalnya, maka ia lebih buruk dari hewan."
2. Pelajaran dan Pesan
Bayangkan sebuah kisah metafora yang sangat dekat dengan realitas kita:
Seorang ayah yang kaya raya memberikan penawaran kepada anak-anaknya.
Kepada anak pertama dan kedua, sang ayah berkata: "Kamu tinggal di toko saja, bantu ayah. Kamu akan mendapat gaji tetap yang aman, rumah, dan langsung dinikahkan." Ini adalah pilihan yang aman, seperti jalurnya para malaikat atau makhluk lain yang patuh dalam zona nyaman.
Namun, kepada anak ketiga, sang ayah memberikan tantangan besar: "Jika kamu berani merantau ke luar negeri, belajar dengan keras, memeras keringat, dan pulang membawa gelar Doktor (PhD), Ayah tidak hanya memberimu rumah. Ayah akan menuliskan tanah seluas 500 hektar atas namamu! Hadiah yang luar biasa dahsyat!"
Anak ketiga ini sepakat. Ia mengambil risiko itu karena tergiur dengan hadiah yang mahabesar.
Di sinilah lucunya, sekaligus ironinya... Bayangkan si anak ketiga ini berangkat ke Barat. Bukannya belajar di perpustakaan, dia malah sibuk main game, nongkrong di kafe, menghabiskan uang kiriman untuk foya-foya, dan terjebak dalam pergaulan bebas. Kuliahnya terbengkalai.
Ketika waktu habis, dia pulang dengan tangan hampa. Tanpa ijazah, tanpa ilmu, hanya membawa tumpukan utang dan moral yang rusak.
Saat melangkah masuk ke rumah, sang ayah melihatnya dengan tatapan hancur. Saudara-saudaranya yang dulu memilih tinggal di toko—yang tadinya dianggap "biasa-biasa saja"—sekarang hidup mapan, terhormat, dan aman.
Sementara si anak ketiga yang membawa ekspektasi besar, kini berada di titik paling rendah. Dia tidak punya posisi tengah (tidak ada healing atau kompromi). Dia telah gagal total. Keberaniannya mengambil tantangan besar justru berubah menjadi kehinaan yang paling dalam karena kelalaiannya sendiri.
Sungguh menyedihkan melihat makhluk yang sejatinya didesain untuk terbang tinggi ke langit menembus Arsy, justru memilih merangkak di comberan nafsu yang kotor.
Kita adalah anak ketiga itu! Kita adalah Bani Basyar yang mengajukan diri untuk memikul amanah di bumi.
Jika kita penuhi janji itu dengan takwa: Kita naik kelas menjadi makhluk tertinggi, mengalahkan kesucian malaikat karena kita beribadah menggunakan perjuangan melawan nafsu, sementara malaikat tidak punya nafsu.
Jika kita khianati amanah itu: Kita jatuh lebih rendah dari batu dan binatang. Binatang berbuat dosa tidak akan masuk neraka karena mereka tidak punya akal. Tapi manusia? Kita punya akal namun bertingkah seperti binatang, maka tempat kita adalah di kerak neraka yang paling bawah.
3. KESIMPULAN DAN PENUTUP
Saudaraku yang berbahagia, hidup ini tidak menyediakan "jalan tengah" bagi manusia. Kita tidak bisa memilih untuk menjadi biasa-biasa saja seperti batu atau pohon. Begitu kita dilahirkan sebagai manusia, pilihannya hanya dua: Menjadi super-mulia di atas malaikat, atau menjadi super-hina di bawah binatang.
Mari kita tatap diri kita di cermin. Apakah hari ini kita sedang memantaskan diri untuk hadiah "500 hektar" surga-Nya, atau justru sedang mendaftarkan diri menjadi makhluk yang lebih tidak berguna dari benda mati?
Semoga Allah SWT senantiasa menguatkan akal kita untuk membimbing syahwat kita, serta menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pulang ke kampung akhirat dengan membawa "gelar kehormatan" di sisi-Nya.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie