Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Secara psikologi kognitif, manusia memiliki dua sistem kebutuhan: kebutuhan fisik untuk bertahan hidup dan kebutuhan eksistensial untuk menemukan makna. Orang yang hanya mengejar materi (materialisme) akan mengalami hedonic treadmill, di mana kebahagiaan fisik hanya bertahan sesaat dan selalu menuntut lebih, hingga jiwa merasa kosong. Sebaliknya, orang yang terlalu asketis (meninggalkan dunia secara ekstrem) tanpa persiapan mental dapat mengalami tekanan psikis dan kegagalan fungsi sosial. Moderasi atau wasathiyah adalah titik "Homeostasis" jiwa. Secara ilmiah, keseimbangan antara mencukupi kebutuhan duniawi dan menjaga kesehatan spiritual akan melepaskan hormon serotonin yang stabil, menciptakan ketenangan jangka panjang yang tidak bergantung pada jumlah saldo tabungan, namun tetap realistis dalam menjalani kehidupan.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

Allah SWT dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk berjalan di tengah-tengah, tidak terlalu condong ke satu sisi:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qashas: 77)

لَيْسَ بِخَيْرِكُمْ مَنْ تَرَكَ دُنْيَاهُ لِآخِرَتِهِ وَلَا آخِرَتَهُ لِدُنْيَاهُ حَتَّى يُصِيبَ مِنْهُمَا جَمِيعًا

“Bukanlah yang terbaik di antara kalian orang yang meninggalkan dunianya demi akhiratnya, dan tidak pula yang meninggalkan akhiratnya demi dunianya, sampai ia memperoleh keduanya.” (HR. Ibnu Asakir dari Anas bin Malik)

2. Pelajaran dan Pesan

Jadilah pribadi yang meletakkan dunia di tanganmu, bukan di hatimu. Dengan meletakkan dunia di tangan, Anda mudah untuk mengelolanya dan mudah pula untuk melepaskannya guna menolong sesama. Jangan menjadi hamba materi yang diperbudak harta, tapi jangan pula menjadi beban bagi orang lain dengan dalih zuhud. Kemandirian ekonomi yang digunakan untuk ketaatan adalah puncak dari kemuliaan akhlak.

Teringat kisah seorang sahabat Nabi, Abdurrahman bin Auf. Beliau adalah salah satu orang terkaya di Madinah, namun kekayaannya tidak sedikit pun mengurangi kualitas ibadahnya. Suatu hari beliau menangis di depan hidangan makanan yang lezat. Ketika ditanya mengapa, beliau menjawab, "Mush'ab bin Umair wafat, dia lebih baik dariku, tapi kain kafannya tidak cukup menutupi kakinya jika kepalanya ditutup. Aku takut kebaikanku telah disegerakan di dunia ini." Kekayaan yang melimpah tidak membuatnya angkuh, melainkan membuatnya semakin takut dan rendah hati di hadapan Allah. Inilah wajah wasathiyah; kaya harta namun tetap miskin (merasa butuh) di hadapan Penciptanya.

Wasathiyah antara materi dan asketisme itu ibarat Perahu di Atas Samudera. Agar perahu bisa sampai ke pulau tujuan (akhirat), ia harus berada di atas air (materi duniawi). Tanpa air, perahu tidak bisa jalan. Namun, jika air itu masuk ke dalam perahu, maka perahu itu akan tenggelam. Gunakanlah dunia sebagai media perjalanan, tapi jangan biarkan ia masuk dan menenggelamkan hatimu.

Ada seorang pemuda yang mengaku ingin zuhud ekstrem. Dia meninggalkan pekerjaannya, tidak mau makan enak, dan hanya duduk di masjid sambil menunggu mukjizat. Saat lapar, dia berdoa, "Ya Allah, hamba-Mu yang asketis ini butuh asupan." Tiba-tiba ibunya datang membawa rantang sambil mengomel, "Nak, zuhud itu jangan sampai bikin ibu repot masak tiap hari buat kamu yang pengangguran! Kamu itu bukan zuhud, kamu cuma malas cari kerja pakai dalil!" Pemuda itu tersipu malu. Hikmahnya: Jangan sampai "keshalihan" kita justru menjadi beban pengeluaran bagi orang lain. Ibadah paling keren itu adalah ibadah dari hasil keringat sendiri!

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia wasathiyah adalah jalan keluar dari kegelisahan zaman ini. Kita tetap bekerja keras, kita tetap menikmati karunia Allah, namun kita tidak pernah lupa bahwa semua itu hanyalah sarana untuk menjemput ridha-Nya. Mari kita hidup dengan proporsi yang pas; bekerja dengan profesional, beribadah dengan khusyuk.

"Ya Allah, cukupkanlah kami dengan yang halal dari-Mu agar kami tidak mencari yang haram, dan penuhilah hati kami dengan rasa syukur agar dunia tidak menguasai jiwa kami. Amin."

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie