Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Secara ontologis, Islam bukanlah agama yang lahir dari reaksi terhadap ekstremisme modern. Islam adalah sistem nilai yang memiliki mekanisme keseimbangan otomatis (self-regulating balance). Dalam kajian sosiologi agama, konsep "Jalan Tengah" atau Wasathiyah adalah posisi puncak stabilitas. Seperti orbit planet yang menjaga alam semesta dari kehancuran; jika terlalu dekat dengan matahari ia akan terbakar, jika terlalu jauh ia akan membeku. Begitulah jiwa manusia; ia membutuhkan syariat yang tidak kaku namun juga tidak cair, sebuah moderasi yang menyatukan logika dan rasa agar tetap waras di tengah dunia yang makin ekstrem.

Dalil Al-Qur'an dan Hadis

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) 'umat pertengahan' agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." (QS. Al-Baqarah: 143)

عَلَيْكُمْ بِالْقَصْدِ تُفْلِحُوا ، عَلَيْكُمْ بِالْقَصْدِ تُفْلِحُوا ، عَلَيْكُمْ بِالْقَصْدِ تُفْلِحُوا

"Hendaklah kalian menempuh jalan tengah (moderat), niscaya kalian akan beruntung. Hendaklah kalian menempuh jalan tengah, niscaya kalian akan beruntung. Hendaklah kalian menempuh jalan tengah, niscaya kalian akan beruntung." (HR. Ahmad)

2. Pelajaran dan Pesan

Menjadi moderat bukan berarti kita ragu-ragu dalam beragama, melainkan kita terlalu mencintai kedamaian sehingga menolak untuk menjadi ekstrem. Kekuatan seorang Muslim bukan pada kerasnya suara atau tajamnya lisan, melainkan pada kemampuannya berdiri teguh di atas prinsip tanpa harus menginjak martabat orang lain. Wasathiyah adalah tentang keberanian untuk menjadi adil, bahkan ketika emosi sedang meluap.

Suatu ketika, ada seorang Arab Badui yang kencing di pojok Masjid Nabawi. Para sahabat marah dan ingin segera menghajarnya. Namun, Rasulullah ﷺ menahan mereka dan bersabda, "Biarkan dia, lalu siramlah bekas kencingnya dengan seember air." Setelah tenang, beliau mendekati Badui itu dan menasehatinya dengan sangat lembut bahwa masjid adalah tempat suci. Lelaki itu begitu terharu dengan kelembutan beliau hingga ia berdoa, "Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad saja, jangan Engkau rahmat yang lain!" Rasulullah tersenyum mendengar doa itu, menunjukkan betapa wasathiyah (sikap proporsional) mampu mengubah kebencian menjadi cinta yang murni.

Wasathiyah itu ibarat garam dalam masakan. Jika kurang, masakan menjadi hambar tak berasa. Jika berlebihan, masakan menjadi asin dan tak bisa dinikmati. Namun jika pas, ia tidak menonjolkan dirinya sendiri, melainkan membuat semua bumbu lain menjadi terasa nikmat. Seorang Muslim Wasathiyah adalah mereka yang kehadirannya membuat suasana menjadi "sedap", bukan menjadi sumber konflik yang menusuk lidah.

Zaman sekarang, ada orang yang saking semangatnya beragama tapi lupa prinsip wasathiyah. Baru belajar satu ayat, sudah merasa memegang kunci surga. Kalau melihat orang beda sedikit, langsung dicap "penduduk neraka". Ini ibarat orang yang baru punya satu baut, tapi sudah merasa paling jago merakit pesawat. Beragama itu membuat kita jadi manusia yang bijak, bukan jadi "polisi Tuhan" yang sibuk merazia dosa orang lain sampai lupa mencuci dosa sendiri di rumah.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia , Wasathiyah adalah warisan murni dari Allah dan Rasul-Nya, bukan tren buatan manusia. Ia adalah jati diri asli kita sebagai Ummatan Wasatha. Mari kita berislam dengan cara yang indah: kuat dalam keyakinan, namun santun dalam pergaulan. Karena sesungguhnya, dunia tidak butuh lebih banyak orang yang pandai berdebat, tapi dunia butuh lebih banyak orang yang mampu menebar rahmat.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie