Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Secara psikologi kognitif, keyakinan adalah jangkar bagi kesehatan mental manusia. Memiliki prinsip yang kokoh tentang kebenaran agama sendiri (eksklusivitas internal) memberikan stabilitas emosional dan arah hidup yang jelas. Namun, secara sosiologis, kita hidup dalam ekosistem yang majemuk. Moderasi beragama mengajarkan kita untuk memiliki "dinding yang kokoh" dalam akidah, namun memiliki "pintu yang terbuka" dalam muamalah. Toleransi bukan berarti menganggap semua agama itu sama (sinkretisme), melainkan mengakui adanya perbedaan tanpa harus kehilangan jati diri.
Dalil Al-Qur'an dan Hadis
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Maidah: 8)
أَلَا مَنْ ظَلَمَ مُعَاهِدًا، أَوِ انْتَقَصَهُ، أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ، أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ، فَأَنَا حَجِيجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Ketahuilah, barangsiapa yang menzalimi seorang mu'ahad (non-muslim yang berdamai), melecehkannya, membebaninya di luar kemampuannya, atau mengambil sesuatu darinya tanpa kerelaan hatinya, maka aku (Rasulullah) adalah lawan tandingnya bagi orang itu di hari kiamat." (HR. Abu Dawud)
2. Pelajaran dan Pesan
Keadilan adalah mahkota seorang beriman. Iman kita diuji bukan saat kita berbuat baik kepada kawan, tapi saat kita dipaksa tetap adil kepada lawan. Menyakiti orang lain hanya karena perbedaan keyakinan bukanlah bentuk pembelaan terhadap Tuhan, melainkan bentuk kekalahan terhadap ego sendiri.
Ingatlah saat Khalifah Ali bin Abi Thalib kehilangan baju besinya yang dicuri oleh seorang Nasrani. Ali tidak menggunakan kekuasaannya untuk merampas kembali. Beliau membawa masalah ini ke pengadilan. Hakim Syuraih memenangkan si Nasrani karena Ali tidak memiliki bukti kuat. Melihat keadilan Islam yang begitu tinggi—di mana seorang pemimpin negara bisa kalah di pengadilan melawan rakyat jelata yang berbeda agama—si Nasrani tersebut bergetar hatinya, mengembalikan baju besi itu, dan akhirnya memeluk Islam. Keadilan lebih efektif memanggil hidayah daripada pedang.
Toleransi itu ibarat kita bertamu ke rumah tetangga. Kita mengakui bahwa itu rumah mereka, kita menghormati aturan di sana, dan kita tidak merusaknya. Namun, menghormati rumah orang lain bukan berarti kita harus pindah alamat atau mengakui bahwa rumah mereka adalah rumah kita. Kita tetap punya alamat rumah sendiri yang kita yakini paling nyaman, tanpa perlu membakar rumah orang lain.
Ada orang yang saking inginnya disebut toleran, malah jadi bingung sendiri. Ditanya, "Agama apa yang benar?", jawabnya, "Semua benar, tergantung selera!". Ini bukan toleransi, ini namanya bingung ideologi. Kalau semua benar, buat apa ada ujian sekolah? Kalau semua jawaban benar, guru matematika pasti sudah lama pensiun karena stres. Kita tetap yakin 1+1=2, tapi kita tidak perlu memukul orang yang bersikeras jawabannya 11. Cukup doakan, siapa tahu dia butuh kacamata atau kalkulator baru.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia, sebagai Muslim, akidah kita adalah harga mati, namun akhlak kita terhadap sesama adalah bukti nyata dari iman tersebut. Kita yakin Islam adalah jalan keselamatan, dan cara terbaik menunjukkan kebenaran itu adalah dengan menjadi pribadi yang paling adil dan paling bermanfaat bagi manusia lainnya, tanpa memandang apa agamanya.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie