Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Penghantar
Secara etimologis, Wasathiyah sering disalahpahami sebagai sikap "abu-abu" atau kompromi yang lemah. Padahal, dalam timbangan ilmu akidah dan akhlak, Wasath adalah titik keseimbangan tertinggi (ekuilibrium). Bayangkan sebuah busur panah; kekuatan terbaiknya bukan saat tali kendur, bukan pula saat ditarik hingga putus, melainkan tepat di tengah yang memberikan daya dorong paling akurat. Menjadi moderat berarti menjadi kuat secara prinsip namun luas dalam kasih sayang. Ia adalah posisi tegak lurus di tengah badai ekstremisme.
Dalil Al-Qur'an dan Hadis
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ
"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia..." (QS. Al-Baqarah: 143)
خَيْرُ الْأُمُورِ أَوْسَطُهَا
"Sebaik-baik urusan adalah yang paling tengah (moderat)." (HR. Al-Baihaqi)
2. Pelajaran dan Pesan
Keberagamaan yang benar tidak diukur dari seberapa keras kita menghakimi orang lain, melainkan seberapa mampu kita menyeimbangkan antara Haqqun Nafsi (hak diri), Haqqullah (hak Allah), dan Haqqun Naas (hak sesama manusia). Wasathiyah mengajarkan kita untuk tegas pada prinsip, namun lembut dalam penyampaian.
Suatu ketika, ada tiga orang sahabat yang datang ke rumah istri Nabi SAW. Yang satu berkata akan shalat malam terus tanpa tidur, yang kedua akan puasa terus tanpa berbuka, dan yang ketiga tidak akan menikah. Mendengar itu, Rasulullah SAW tidak memuji "semangat" mereka, melainkan meluruskan dengan lembut: "Aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, tapi aku shalat dan tidur, aku puasa dan berbuka, dan aku pun menikah. Siapa yang membenci sunnahku, ia bukan golonganku." Betapa indahnya, Rasulullah menjaga agar kita tetap menjadi "manusia" di hadapan Tuhan, bukan menjadi malaikat yang dipaksakan.
Bayangkan sebuah Pesawat Terbang. Agar bisa terbang stabil di ketinggian, ia membutuhkan dua sayap yang seimbang. Jika berat ke kanan (ekstrim kanan), ia akan jatuh berputar. Jika berat ke kiri (ekstrim kiri), ia pun akan jatuh. Wasathiyah adalah mesin dan kemudi di tengah yang memastikan kedua sayap bekerja harmonis sehingga penumpang sampai ke tujuan dengan selamat.
Ada orang yang saking inginnya "khusyuk" dan "zuhud", dia membiarkan rumahnya berantakan dan tidak bekerja. Ketika ditegur istrinya, dia menjawab, "Dunia ini hanya titipan, wahai Istriku." Sang istri dengan cerdas menjawab, "Betul Bang, tapi kalau abang tidak kerja, tidak ada yang bisa dititipkan di dapur kita!" Inilah hikmahnya: Islam tidak menyuruh kita meninggalkan dunia, tapi meletakkan dunia di tangan, bukan di hati.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia, Wasathiyah bukanlah jalan bagi mereka yang malas atau penakut. Ia adalah jalan bagi ksatria yang mampu mengendalikan hawa nafsu dari dua tarikan ekstrim: fanatisme buta dan liberalisme yang kebablasan. Jadilah umat yang moderat, karena di titik tengah itulah kemuliaan berada.
Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita untuk tetap berada di jalan yang lurus dan seimbang.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie