Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Secara psikologis, manusia memiliki struktur otak yang kompleks. Kita memiliki Sistem Limbik yang mengelola insting dasar dan emosi (sisi "realis hewani" untuk bertahan hidup), namun kita juga dibekali Prefrontal Cortex yang berfungsi untuk berpikir moral dan berencana jangka panjang (sisi "idealis malaikat"). Secara ilmiah, kesehatan mental tertinggi dicapai bukan dengan membunuh nafsu sama sekali, juga bukan dengan memanjakannya tanpa batas. Kebahagiaan sejati muncul dalam kondisi Integrasi, di mana akal mampu mengarahkan energi nafsu menjadi prestasi. Moderasi akhlak adalah cara otak kita menciptakan harmoni sehingga jiwa tidak merasa tertekan oleh idealisme semu dan tidak jatuh dalam kehinaan insting rendah.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
Allah SWT dan Rasul-Nya mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki potensi jalan tengah:
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
“Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya adalah pertengahan.” (QS. Al-Furqan: 67)
لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدْ أَفْلَحَ
“Setiap amal itu ada masa semangatnya, dan setiap masa semangat ada masa jenuhnya. Maka barangsiapa yang masa jenuhnya tetap dalam sunnahku (moderat), maka ia telah beruntung.” (HR. Ahmad)
2. Pelajaran dan Pesan
Janganlah engkau merasa suci bagaikan malaikat hingga meremehkan manusia yang berbuat salah, karena engkau pun masih memiliki nafsu. Namun, jangan pula memaklumi setiap perilaku burukmu dengan alasan "hanya manusia biasa" hingga engkau hidup serendah hewan. Akhlak yang moderat adalah menyadari bahwa kita adalah Hamba yang Sedang Berproses. Terimalah kemanusiaanmu dengan rendah hati, namun arahkanlah ia menuju kesucian dengan penuh perjuangan.
Teringat kisah seorang sahabat Nabi yang merasa dirinya munafik karena saat bersama Nabi ia merasa sangat suci, namun saat pulang ke rumah ia asyik bercengkerama dengan anak dan istrinya. Ia merasa sisi "hewani/manusiawi"-nya mengalahkan sisi "malaikat"-nya. Rasulullah SAW menenangkannya dengan lembut, "Wahai Hanzhalah, sesaat demi sesaat (ada waktunya ibadah, ada waktunya dunia). Seandainya kalian terus-menerus dalam kondisi (suci) seperti saat bersamaku, niscaya malaikat akan menyalami kalian di jalan-jalan." Beliau mengakui sisi kemanusiaan kita dengan penuh kasih sayang tanpa membiarkannya lepas kendali.
Akhlak moderat itu ibarat Seorang Penunggang Kuda. Kudanya adalah nafsu (realis hewani) yang kuat, dan penunggangnya adalah akal (idealis malaikat). Jika penunggangnya terlalu keras menyiksa kuda tanpa memberinya makan, kuda itu akan mati dan ia takkan sampai ke tujuan. Namun jika kuda itu dibiarkan liar tanpa kendali, penunggangnya akan terlempar ke jurang. Musafir yang cerdas adalah yang merawat kudanya dengan baik agar ia kuat berlari menuju tujuan sucinya.
Ada seseorang yang saking inginnya berakhlak seperti "malaikat", ia memutuskan untuk tidak bicara sama sekali selama setahun agar tidak berbuat ghibah. Suatu hari, kakinya tertimpa batu besar. Karena berkomitmen "suci",
dia hanya diam sambil mukanya memerah menahan sakit. Temannya bertanya, "Sakit, ya?" Dia tetap diam. Pas temannya mau pergi, dia tidak tahan lagi dan berteriak, "WOI, TOLONGIN DULU, INI SAKITNYA NYATA, BUKAN ILUSI!" Nah, itulah lucunya; mau jadi malaikat tapi lupa kalau saraf jempol kakinya masih saraf manusia. Berakhlaklah yang membumi, kalau sakit ya bilang, asal jangan memaki!
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari , Moderasi dalam akhlak adalah kunci menjadi manusia yang utuh. Kita mengakui kebutuhan raga kita tanpa menjadi budak darinya, dan kita mengejar kemuliaan jiwa tanpa menjadi angkuh karenanya. Mari kita jalan di tengah, karena di sana terdapat keindahan yang Allah ridhai.
"Ya Allah, hiasilah lahiriyah kami dengan akhlak yang santun, dan penuhilah batiniah kami dengan niat yang tulus. Jadikanlah kami hamba yang moderat dalam setiap keadaan."
Amin ya Rabbal 'Alamin.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie