Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
. 1. Pengantar
Secara yuridis dan psikologis, hukum diciptakan bukan untuk membelenggu, melainkan untuk melindungi ruang gerak manusia agar tidak saling berbenturan. Dalam ilmu saraf, perasaan diperlakukan secara adil memicu pelepasan Oksitosin yang membangun rasa percaya (trust) dalam masyarakat. Sebaliknya, penegakan hukum yang ekstrem tanpa rasa kemanusiaan, atau pemberian hak tanpa batas, akan memicu stres kolektif. Moderasi dalam hukum (Legal Moderation) memastikan bahwa setiap aturan memiliki "ruh" keadilan. Hukum tanpa hak adalah tirani, sedangkan hak tanpa hukum adalah anarki. Jiwa manusia hanya akan merasa tenang ketika ia tahu bahwa haknya dilindungi oleh hukum yang adil dan bermartabat.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
Allah SWT dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk menegakkan keadilan sebagai pilar utama kehormatan manusia:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat.” (QS. An-Nahl: 90)
كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ
“Setiap muslim bagi muslim lainnya adalah haram; darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Kehormatan manusia adalah "Ka'bah" yang harus dijaga dalam setiap interaksi hukum. Jangan menggunakan hukum sebagai alat untuk menjatuhkan martabat orang lain, dan jangan menuntut hakmu dengan cara menginjak hak orang lain. Keadilan yang sejati adalah ketika Anda berani mengakui kesalahan diri sendiri sebelum menunjuk kesalahan orang lain. Moderasi mengajarkan kita bahwa di atas hukum tertulis, masih ada hukum langit yang bernama "Adab dan Kasih Sayang".
Teringat kisah Khalifah Ali bin Abi Thalib yang kehilangan baju besinya dan menemukannya dibawa oleh seorang warga non-muslim. Ali tidak menggunakan kekuasaannya untuk mengambil paksa, melainkan mengajak orang itu ke pengadilan. Di depan hakim, Ali kalah karena tidak memiliki cukup bukti. Hakim memutuskan baju besi itu milik si warga tersebut. Melihat sang pemimpin tertinggi tunduk pada hukum tanpa marah sedikit pun, warga itu menangis dan berkata, "Ini adalah hukum para Nabi! Sang pemimpin kalah di pengadilannya sendiri demi kebenaran." Ia pun masuk Islam dan mengakui bahwa baju besi itu memang milik Ali yang terjatuh. Keadilan yang moderat mampu menyentuh hati lebih dalam daripada kekerasan.
Hukum dan Hak itu ibarat Rel Kereta Api. Rel sebelah kanan adalah hukum (kewajiban), dan rel sebelah kiri adalah hak. Kereta kehidupan hanya bisa berjalan stabil dan cepat jika kedua rel ini sejajar, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih dominan. Jika hukum terlalu kaku tanpa memberikan hak, kereta akan terguling. Jika hak menuntut bebas tanpa rel hukum, kereta akan keluar jalur dan hancur. Moderasi adalah bantalan yang mengikat kedua rel tersebut agar tetap kokoh.
Ada seorang pria yang menuntut "Hak Kebebasan" secara ekstrem. Dia menari-nari sambil mengayunkan tangannya dengan lebar di tengah pasar hingga tangannya mengenai hidung orang lain. Saat ditegur, dia berteriak, "Ini hak saya untuk menggerakkan tangan di negeri yang merdeka!" Orang yang kena pukul menjawab santai, "Betul, Pak. Hak Anda untuk mengayunkan tangan berakhir tepat di batas ujung hidung saya!" Nah, itulah moderasi; kebebasanmu adalah hakmu, tapi hidung orang lain adalah wilayah kedaulatan hukum yang tidak boleh kau langgar tanpa izin!
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia, Moderasi dalam hukum dan hak adalah kunci martabat sebuah bangsa. Mari kita jadikan hukum sebagai jalan untuk memuliakan manusia, bukan untuk merendahkannya. Hormatilah hak sesama sebagaimana kita ingin hak kita dihormati. Dengan keseimbangan ini, kita tidak hanya selamat di mata hukum dunia, tapi juga mulia di hadapan Hakim Maha Adil di akhirat kelak.
"Ya Allah, hiasilah lisan kami dengan kebenaran, kuatkanlah tangan kami untuk menegakkan keadilan, dan penuhilah hati kami dengan rasa hormat kepada sesama hamba-Mu. Amin."
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie