Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Secara psikologis, manusia memiliki ambang batas energi yang disebut ego depletion. Jika seseorang memaksakan diri melakukan aktivitas mental atau spiritual secara ekstrem tanpa jeda (seperti ibadah non-stop tanpa memperhatikan kebutuhan raga), kemampuannya untuk mengontrol diri justru akan anjlok. Sebaliknya, jiwa yang sama sekali tidak "diberi makan" dengan ibadah akan mengalami spiritual void atau kekosongan eksistensial. Moderasi dalam ibadah secara ilmiah menjaga ritme sirkadian tubuh dan keseimbangan hormon dopamin. Dengan beribadah secara moderat namun konsisten (itqan), otak kita membentuk jalur saraf baru yang permanen, sehingga ibadah bukan lagi menjadi beban, melainkan kebutuhan biologis yang menenangkan sistem saraf pusat.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

Allah SWT mengingatkan agar kita tidak berlebih-lebihan hingga menyiksa diri, dan Rasulullah SAW memberikan batasan yang indah:

مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ

“Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah.” (QS. Taha: 2)

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا

“Sesungguhnya agama itu mudah. Tidaklah seseorang memperberat agama melainkan ia akan dikalahkan olehnya. Maka bertindaklah lurus (moderat), mendekatlah pada kesempurnaan, dan berilah kabar gembira.” (HR. Bukhari)

2. Pelajaran dan Pesan

Ibadah yang paling dicintai Allah bukan yang dilakukan dengan "meledak-ledak" dalam semalam lalu hilang selamanya, melainkan yang sedikit namun terus-menerus. Jangan hapus kewajibanmu karena merasa diri kotor, tapi jangan pula memaksakan pengabdian yang melampaui batas hingga hak tubuhmu terabaikan. Ingatlah, Tuhanmu memiliki hak, dirimu memiliki hak, dan keluargamu memiliki hak. Musafir yang cerdas tidak memacu kudanya sampai mati di tengah jalan, tapi ia mengatur langkah agar kudanya sampai ke tujuan.

Teringat kisah Abdullah bin Amr bin Ash yang sangat semangat beribadah hingga berniat shalat malam sepanjang hayat dan puasa setiap hari. Nabi Muhammad SAW kemudian mendatanginya dengan penuh kasih dan menegurnya. Beliau bersabda, "Puasa dan berbukalah, shalat malam dan tidurlah. Karena tubuhmu punya hak, matamu punya hak, dan istrimu pun punya hak atasmu." Abdullah menangis menyadari bahwa kasih sayang Nabi justru ingin melindunginya dari kejenuhan. Di hari tuanya, Abdullah sering berkata, "Aduhai, seandainya dulu aku mengambil keringanan (moderasi) yang ditawarkan Rasulullah."

Ibadah itu ibarat Menanam Pohon. Jika Anda memberi air (ibadah) secara berlebihan hingga tanahnya banjir, akar pohon itu akan busuk dan mati. Namun jika Anda tidak memberinya air sama sekali, pohon itu akan layu dan kering. Siramilah pohon imanmu dengan air yang secukupnya namun rutin setiap hari. Itulah rahasia mengapa pohon yang tumbuh di jalan tengah akan membuahkan buah yang manis dan rindang bagi orang di sekitarnya.

Ada seorang pria yang ingin terlihat sangat bertaubat. Dia shalat malam seribu rakaat dalam semalam. Besok paginya, saat shalat Subuh di masjid, dia tertidur sangat pulas sambil berdiri. Saat jemaah sudah pulang, dia baru terbangun dan kaget melihat masjid sepi. Dia mengeluh, "Ya Allah, kok Engkau tidak bangunkan hamba untuk Subuh berjamaah?" Seolah ada suara di hatinya menjawab, "Gimana mau bangun, rakaat ke-999 tadi kamu sudah 'pingsan' duluan karena sombong mau maraton ibadah!" Nah, inilah lucunya; mengejar yang sunnah sampai pingsan, malah yang wajib terlewatkan. Ibadah itu butuh iman, bukan cuma sekadar tenaga kuda!

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari, Moderasi dalam ibadah adalah jalan keselamatan. Ia menjauhkan kita dari sikap ghuluw (ekstrem) yang membinasakan, dan menjauhkan kita dari sikap meremehkan yang melalaikan. Mari kita beribadah dengan cinta, dengan takaran yang pas, agar perjalanan kita menuju-Nya terasa indah dan penuh bunga.

"Ya Allah, bimbinglah kami untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kami kepada-Mu dengan cara yang Engkau ridhai."Amin ya Rabbal 'Alamin.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie