Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Perngantar
Dalam dunia fisika kuantum, terdapat fenomena menarik yang disebut Dualisme Gelombang-Partikel. Sesuatu bisa nampak sebagai materi padat, namun di sisi lain ia berperilaku sebagai gelombang energi yang tak kasat mata. Secara ilmiah, memandang alam semesta sebagai "Materi Absolut" (hanya benda mati) adalah kekeliruan, karena di dalam setiap atom terdapat getaran energi yang luar biasa. Namun, menganggapnya sebagai "Ilusi Murni" (sama sekali tidak ada) juga tidak tepat karena kita berinteraksi secara nyata dengannya. Moderasi ilmiah mengajak kita memahami bahwa alam adalah Manifestasi Energi yang diatur oleh hukum yang presisi. Alam ini nyata untuk kita huni, namun ia "fana" karena keberadaannya bergantung sepenuhnya pada sumber energi utama, yaitu Sang Pencipta.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
Allah SWT menegaskan bahwa alam ini diciptakan dengan kebenaran (Al-Haq), bukan main-main atau sekadar bayangan kosong:
مَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى
“Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan.” (QS. Al-Ahqaf: 3)
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan (di dunia), ia melakukannya dengan profesional/sungguh-sungguh.” (HR. Thabrani)
2. Pelajaran dan Pesan
Jangan menjadi pemuja materi yang menganggap dunia adalah segalanya hingga Anda menghalalkan segala cara. Namun, jangan pula menjadi orang yang apatis dan menyebut dunia ini hanya ilusi hingga Anda abai menjaga kelestarian alam dan enggan bekerja keras. Jalan tengahnya adalah: jadikan alam sebagai Laboratorium Keimanan. Hormatilah alam sebagai titipan, manfaatkan materinya untuk ibadah, namun jangan biarkan hati Anda terpaku mati padanya.
Teringat kisah seorang sufi besar yang sedang berjalan di tengah padang pasir. Ia melihat seekor anjing yang kehausan hingga menjilat-jilat tanah yang basah. Ia tidak menganggap anjing atau air itu sebagai "ilusi" yang tak perlu dipedulikan, ia juga tidak menuhankan materi. Dengan penuh kasih, ia turun ke sumur, melepas sepatunya untuk mengambil air, dan memberi minum anjing itu. Ia memperlakukan "materi" (air dan anjing) dengan sangat nyata demi mencapai ridha Sang Maha Ghaib. Karena tindakan nyata pada alam materi itulah, Allah mengampuni dosanya.
Memandang alam secara moderat itu ibarat Melihat Cermin. Jika Anda menganggap cermin itu adalah "Segalanya" (Materi Absolut), Anda akan sibuk membersihkan kacanya saja tanpa sadar siapa yang berdiri di depannya. Namun jika Anda menganggap cermin itu "Tidak Ada" (Ilusi Murni), Anda tidak akan bisa bersolek dan memperbaiki diri. Cermin (alam semesta) itu nyata adanya, namun fungsinya hanyalah untuk memantulkan keberadaan dan kebesaran "Penciptanya".
Ada seorang pemuda yang terlalu mendalami filsafat "Dunia itu Ilusi". Suatu hari dia tidak mau lari saat dikejar anjing galak. Temannya teriak, "Lari, Bro! Digigit nanti!" Dia menjawab tenang, "Anjing itu ilusi, rasa sakit itu hanya konsep pikiran." Begitu digigit, dia teriak kesakitan paling kencang. Gurunya tertawa dan berkata, "Lho, katanya ilusi? Kok teriaknya nyata sekali? Ternyata teori ilusimu langsung hilang begitu ketemu gigi anjing yang materi ya!" Hikmahnya: Beragama itu harus membumi, jangan terlalu "melayang" sampai lupa kalau kaki kita masih menginjak tanah yang nyata.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari, Moderasi dalam memandang alam membuat kita menjadi pribadi yang produktif namun tetap spiritual. Kita membangun peradaban materi dengan hebat, namun hati kita tetap tertuju pada Sang Maha Abadi. Alam ini adalah jembatan; jangan hancurkan jembatannya (karena ia nyata), tapi jangan pula membangun rumah permanen di atasnya.
"Ya Allah, tampakkanlah kepada kami bahwa yang haq adalah haq dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya, serta tampakkanlah yang bathil adalah bathil dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya."Amin ya Rabbal 'Alamin.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie