Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Secara psikologi kognitif, manusia memiliki kecenderungan halo effect, yaitu kecenderungan untuk memuja seseorang secara berlebihan hingga menganggapnya tak bercelah bagai Tuhan, atau sebaliknya, melakukan dehumanisasi yaitu merendahkan martabat seseorang karena menganggap mereka "hanya manusia biasa" tanpa nilai lebih. Moderasi dalam memandang para Nabi adalah bentuk kesehatan mental spiritual. Dengan menempatkan mereka sebagai manusia yang dijaga Allah (Ma’shum), jiwa kita mendapatkan teladan yang nyata namun tetap terjaga dalam batas penghambaan. Kita mencintai mereka tanpa menyembah, dan kita menghargai kemanusiaan mereka tanpa meremehkan kenabiannya.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

Allah SWT dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk bersaksi atas dua hal: kemanusiaan mereka dan kerasulan mereka.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ

“Katakanlah (Muhammad): Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” (QS. Al-Kahfi: 110)

لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

“Janganlah kalian memujiku secara berlebihan sebagaimana orang-orang Nasrani memuji Ibnu Maryam (Isa). Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari)

2. Pelajaran dan Pesan

Moderasi terhadap para Nabi mengajarkan kita tentang kerendahan hati. Jika Nabi yang paling mulia saja tetap menyebut dirinya "Hamba", lalu siapa kita yang berani sombong? Jangan pertuhankan manusia sesakti apa pun dia, karena itu adalah kesesatan. Namun, jangan pula menganggap Nabi selevel dengan orang biasa, karena di dalam dada mereka ada wahyu yang membimbing dunia. Hormatilah mereka sebagai jembatan ilmu, namun tetaplah bersujud hanya kepada Pemilik Ilmu.

Teringat peristiwa setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Umar bin Khattab yang sangat mencintai beliau sempat "hilang kendali" karena kesedihan dan mengancam siapa pun yang bilang Nabi wafat. Di situlah Abu Bakar Ash-Shiddiq tampil dengan moderasi yang luar biasa. Beliau berkata: "Barangsiapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Tapi barangsiapa menyembah Allah, maka Allah hidup dan tidak akan pernah mati." Kalimat ini mengembalikan kesadaran umat bahwa cinta kepada Nabi tidak boleh menabrak batas ketuhanan.

Memandang Nabi secara moderat itu ibarat Memandang Rembulan. Jika Anda menganggap rembulan itu adalah Matahari (sumber cahaya sendiri), Anda salah, karena ia hanya memantulkan cahaya Tuhan. Namun, jika Anda menganggap rembulan itu hanya sekadar bongkahan batu gelap yang tidak berguna, Anda juga keliru, karena tanpanya malam akan menjadi sangat gelap gulita. Nabi adalah rembulan; dia bukan Tuhan, tapi tanpanya kita kehilangan arah di tengah gelapnya dunia.

Ada seseorang yang saking ingin "memuliakan" Nabi, dia tidak mau menginjak tanah karena takut tanah itu pernah diinjak Nabi. Akhirnya dia tidak jadi shalat ke masjid karena bingung cara jalan tanpa injak tanah. Guru bijak menegurnya, "Nak, Nabi itu diutus untuk diikuti jejak langkahnya, bukan untuk membuatmu tidak bisa melangkah! Kalau kamu tidak menginjak tanah, kamu malah tidak bisa sujud di atas bumi yang beliau cintai." Nah, itulah lucunya kalau beragama pakai perasaan yang ekstrem tapi kurang ilmu; niatnya mau hormat, eh malah jadi atlet akrobat yang menyiksa diri sendiri.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari, tengah dalam meman.dang para Nabi adalah kunci keimanan yang lurus. Kita mencintai mereka lebih dari mencintai diri sendiri, kita jadikan mereka idola nomor satu, namun di puncak cinta itu, kita tetap bersaksi: Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Satu untuk disembah, satu untuk diikuti.

"Ya Allah, tancapkanlah di hati kami kecintaan yang tulus kepada para Nabi-Mu, dan jagalah kami dari sikap melampaui batas yang dapat merusak ketauhidan kami kepada-Mu. Amin."

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie