Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Secara psikologis dan sosiologis, manusia diciptakan dengan kecenderungan untuk berkumpul dengan yang sefrekuensi. Namun, kedewasaan spiritual justru diuji saat kita berinteraksi dengan mereka yang berbeda "warna". Islam mengenalkan konsep Wasathiyah (pertengahan), yang diibaratkan seperti jantung dalam tubuh manusia—posisinya di tengah, menjaga aliran kehidupan tetap stabil. Bersikap moderat bukan berarti mengabaikan prinsip akidah, melainkan memanusiakan manusia lain tanpa harus kehilangan jati diri kita sebagai Muslim.
Dalil Al-Qur'an dan Hadis
لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ
"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Mumtahanah: 8)
مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا
"Barangsiapa yang membunuh orang kafir mu’ahad (yang berada dalam perjanjian damai), maka ia tidak akan mencium wangi surga, padahal wanginya sudah tercium dari jarak empat puluh tahun perjalanan." (HR. Bukhari)
2. Pelajaran dan Pesan
Keadilan adalah bahasa universal yang melampaui batas agama. Memberi hak kepada tetangga non-muslim, tersenyum dengan tulus, atau menolong mereka saat kesulitan bukanlah tanda "lemah iman". Justru itu adalah diplomasi akhlak. Kita tidak sedang membenarkan keyakinannya, tapi kita sedang menjalankan perintah Allah untuk menjadi rahmat bagi semesta.
Teringat kisah di zaman Rasulullah ﷺ saat jenazah seorang Yahudi lewat di depan beliau. Rasulullah berdiri sebagai bentuk penghormatan. Para sahabat terheran dan bertanya, "Ya Rasulullah, itu kan jenazah orang Yahudi?" Beliau dengan tenang menjawab, "Bukankah dia juga seorang manusia?". Bayangkan keagungan hati ini; beliau melihat sisi kemanusiaan sebelum melihat label keyakinan.
Bayangkan sebuah orkestra. Ada biola, selo, tiup, dan perkusi. Masing-masing memegang partitur yang berbeda. Jika biola memaksakan perkusi untuk bersuara seperti dirinya, musik akan hancur. Islam adalah konduktor yang bijak; ia membiarkan setiap alat musik memainkan perannya selama tidak mengganggu harmoni besar kemanusiaan. Kita tidak perlu menjadi "sama" untuk bisa menghasilkan "harmoni".
Terkadang ada orang yang terlalu kaku sampai lupa cara tersenyum pada tetangga beda agama. Maunya ngajak ke surga, tapi muka sudah seperti penjaga neraka. Padahal, kalau kita ketus, orang bukan malah masuk Islam, tapi malah masuk angin karena kedinginan melihat sikap kita! Beragama itu bikin tenang, bukan bikin orang lain tegang.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia, prinsip Wasathiyah mengajarkan kita untuk tidak ekstrem kiri (mengorbankan akidah) dan tidak ekstrem kanan (bersikap keras/zalim). Mari menjadi Muslim yang kuat tauhidnya, namun lembut pergaulannya. Karena sesungguhnya, keindahan Islam lebih sering terlihat dari adab pemeluknya daripada sekadar kata-kata di mimbar.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie