Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Secara sains, alam semesta ini bekerja dalam prinsip Homeostasis, yaitu kemampuan sistem untuk mempertahankan kondisi stabil agar tetap berfungsi dengan baik. Tubuh kita akan sakit jika suhu terlalu panas, namun akan beku jika terlalu dingin; ia harus berada di tengah-tengah. Begitu pula dengan jiwa. Moderasi secara psikologis menghindarkan kita dari burnout (kelelahan mental) akibat ambisi yang berlebih, dan menghindarkan kita dari apatis (masa bodoh) yang mematikan potensi. Hidup Wasathiyah adalah hidup yang selaras dengan ritme alam; ia tenang, terukur, dan berkelanjutan.

. Dalil Al-Qur’an dan Hadis

Allah SWT menjadikan umat Islam sebagai umat yang adil dan berada di jalan tengah:وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونَوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia.” (QS. Al-Baqarah: 143)

عَلَيْكُمْ بِالْقَصْدِ تُفْلِحُوا

“Hendaklah kalian bersikap moderat (tengah-tengah), niscaya kalian akan beruntung.” (HR. Al-Bazzar)

2. Pelajaran dan Pesan

Moderasi bukan berarti kompromi pada kebenaran atau bersikap plin-plan, melainkan keberanian untuk tetap adil meski di tengah emosi yang meluap. Jangan sampai kebencianmu pada suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil, dan jangan sampai kecintaanmu pada sesuatu membuatmu buta akan kesalahan. Orang yang moderat adalah ia yang memiliki hati seluas samudera; mampu menampung berbagai perbedaan tanpa harus kehilangan jati diri airnya yang murni.

Teringat kisah tiga orang sahabat yang datang ke rumah istri Nabi SAW. Yang satu bertekad shalat malam tanpa tidur, yang kedua ingin puasa selamanya tanpa berbuka, dan yang ketiga ingin membujang tanpa menikah demi totalitas ibadah. Rasulullah SAW kemudian menegur mereka dengan lembut seraya berkata, "Aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, namun aku shalat dan aku tidur, aku puasa dan aku berbuka, dan aku pun menikahi wanita." Beliau mengajarkan bahwa spiritualitas yang benar tidak harus menghancurkan sisi kemanusiaan kita. Itulah kemegahan kasih sayang dalam moderasi.

Moderasi itu ibarat Senar Gitar. Jika senar itu ditarik terlalu kencang (ekstrem keras), ia akan putus saat dipetik. Namun, jika dibiarkan terlalu kendur (ekstrem lemah), ia tidak akan mengeluarkan bunyi. Hanya ketika senar ditarik dengan ketegangan yang "pas" (moderat), gitar tersebut mampu menghasilkan melodi yang memikat jiwa. Begitulah hidup kita; harmoni hanya muncul dari keseimbangan.

Ada seseorang yang ingin sangat moderat dalam segala hal. Saat makan siang, dia ditanya oleh temannya, "Kamu mau makan pedas atau tidak?" Dia menjawab, "Saya Wasathiyah saja, tolong sambalnya ditaruh di atas meja, tapi jangan dicampur ke nasi, cukup saya pandangi saja supaya nafsu makan saya tidak ekstrem!" Akibatnya, dia tidak kenyang dan malah sakit mata karena kelilipan uap cabai. Hikmahnya: Moderasi itu menggunakan akal sehat dan syariat, bukan membuat aturan aneh yang malah menyiksa diri sendiri. Jangan terlalu kaku sampai dianggap "aneh", jangan terlalu bebas sampai dianggap "hilang arah".

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari , Al-Wasathiyah adalah keistimewaan Islam yang menjaga kita agar tidak menjadi ekstrimis yang keras, namun juga tidak menjadi pemalas yang menggampangkan segala hal. Mari kita jadikan moderasi sebagai gaya hidup, agar kita menjadi umat yang membawa rahmat, bukan umat yang membawa laknat.

"Ya Allah, hiasilah hidup kami dengan keindahan jalan tengah, jauhkanlah kami dari sikap melampaui batas dan sikap meremehkan urusan agama. Amin."

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie