Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Hidup adalah sebuah harmoni. Secara ilmiah, alam semesta ini bertahan karena adanya hukum keseimbangan (homeostasis). Begitu pula dengan jiwa manusia. Wasathiyah dalam bentuk Tawazun bukanlah sebuah pilihan, melainkan kebutuhan biologis dan spiritual. Jika kita hanya mengejar materi (jasad), jiwa kita akan kering. Jika kita hanya melangit (ruh) tanpa membumi, kita akan kehilangan fungsi sebagai khalifah. Tawazun adalah jembatan yang mempertemukan cahaya wahyu dengan logika akal, serta kepentingan pribadi dengan kemaslahatan umat.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi..." (QS. Al-Qashash: 77)

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقًّا حَقَّهُ

"Sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak atasmu, dirimu mempunyai hak atasmu, dan keluargamu juga mempunyai hak atasmu. Maka berikanlah hak kepada setiap yang memilikinya." (HR. Bukhari)

2. Pelajaran dan Pesan

Keadilan yang paling sejati dimulai dari memperlakukan diri sendiri dengan adil. Jangan biarkan satu sisi kehidupanmu "menjajah" sisi yang lain. Orang yang hebat bukan mereka yang bisa menaklukkan dunia, tapi mereka yang mampu membagi waktunya dengan adil: satu waktu untuk bersujud kepada Allah, satu waktu untuk mencium kening anak istri, dan satu waktu untuk berkarya bagi sesama.

Teringat kisah Abdullah bin Amr bin Ash yang saking semangatnya beribadah, ia berpuasa setiap hari dan shalat sepanjang malam hingga tubuhnya kurus kering dan matanya cekung. Istrinya merasa terabaikan. Rasulullah SAW kemudian mendatanginya bukan untuk memuji ketekunannya, melainkan untuk menegurnya dengan penuh kasih. Rasulullah bersabda bahwa tubuhnya punya hak untuk istirahat. Di sana kita belajar: bahkan ibadah yang "paling suci" sekalipun bisa menjadi tidak baik jika merusak keseimbangan kemanusiaan kita.

Bayangkan sebuah Busur Panah.Jika tali busur ditarik terlalu kuat melampaui batasnya (ekstrem/kaku), busur itu bisa patah atau tanganmu akan gemetar karena kelelahan, sehingga anak panah melesat tak terkendali.

Namun, jika tali busur dibiarkan terlalu lemas (terlalu bebas/kendur), anak panah tidak akan punya daya untuk meluncur dan hanya jatuh di depan kakimu.Tawazun adalah tarikan yang pas—presisi dan terukur—sehingga niat baikmu meluncur tepat sasaran mengenai target kebenaran.

Ada seorang pemuda yang baru belajar agama, lalu dia ingin sangat zuhud. Dia berhenti kerja, hanya diam di masjid, dan berdoa sepanjang hari. Ketika perutnya lapar dan keroncongan, dia berdoa, "Ya Allah, turunkanlah makanan dari langit." Tiba-tiba, marbot masjid datang menyapu dan kakinya tidak sengaja menyenggol pemuda itu sambil berkata, "Mas, kalau mau makan, itu di depan ada warung lagi butuh tenaga cuci piring. Allah kasih kamu tangan buat kerja, bukan cuma buat nengadah!" Tawazun itu sederhana: Berdoa seperti akan mati besok, bekerja seperti akan hidup seribu tahun lagi.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia, ciri utama Wasathiyah adalah Tawazun (Keseimbangan). Mari kita didik akal kita dengan ilmu, jasad kita dengan nutrisi yang halal, dan ruh kita dengan dzikir. Jangan jadi orang yang saleh secara ritual tapi jahat secara sosial, atau pintar secara akal tapi buta terhadap wahyu. Seimbangkanlah, maka engkau akan menemukan kedamaian.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie