Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Secara psikologi kognitif, manusia sering terjebak dalam false dichotomy atau dikotomi palsu, seolah-olah kita harus memilih: menjadi orang suci yang meninggalkan dunia, atau menjadi budak materi yang melupakan Tuhan. Namun, otak manusia memiliki sistem Dual-Processing. Kita dibekali Sistem Limbik untuk merasakan emosi dan spiritualitas, serta Prefrontal Cortex untuk logika dan pemenuhan kebutuhan hidup. Secara ilmiah, kebahagiaan sejati (well-being) hanya tercapai ketika kedua sistem ini sinkron. Jiwa yang terlalu mengawang tanpa sandaran materi akan rapuh secara sosial, sementara raga yang terlalu bergelimang materi tanpa ruh akan mengalami kekosongan eksistensial. Moderasi adalah frekuensi terbaik bagi kesehatan mental manusia.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
Allah SWT mengajarkan kita untuk tidak melupakan porsi dunia dalam perjalanan menuju akhirat:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qashas: 77)
لَيْسَ بِخَيْرِكُمْ مَنْ تَرَكَ دُنْيَاهُ لِآخِرَتِهِ وَلَا آخِرَتَهُ لِدُنْيَاهُ
“Bukanlah orang yang terbaik di antara kalian, orang yang meninggalkan dunianya demi akhiratnya, dan tidak pula orang yang meninggalkan akhirat demi dunianya.” (HR. Ibnu Asakir dari Anas bin Malik)
2. Pelajaran dan Pesan
Jadilah pribadi yang tangannya bekerja keras seolah akan hidup selamanya, namun hatinya terpaut pada Tuhan seolah akan mati esok pagi. Materialisme tanpa spiritualitas akan menjadikanmu "serigala" bagi sesama, sementara spiritualitas tanpa kemandirian materi akan menjadikanmu beban bagi orang lain. Kekuatan sejati muncul ketika harta ada di tanganmu untuk memberi, bukan di hatimu untuk dipuja.
Teringat kisah seorang sahabat Nabi, Abdurrahman bin Auf. Beliau adalah salah satu orang terkaya di masanya, namun kekayaannya tidak sedikit pun mengurangi kualitas sujudnya. Saat beliau jatuh pingsan karena terlalu lama shalat malam, orang-orang khawatir beliau wafat. Ketika sadar, kalimat pertama yang keluar adalah tentang kerinduannya pada Allah. Beliau membuktikan bahwa seseorang bisa menjadi "Sultan" di bumi namun tetap menjadi "Hamba" yang paling rendah di hadapan langit. Itulah harmonisasi yang menyentuh sanubari.
Moderasi antara spiritualitas dan materialisme itu ibarat Burung yang Terbang. Sayap kanannya adalah spiritualitas, sayap kirinya adalah materialisme (usaha duniawi). Jika sayap kanan saja yang bergerak, burung itu hanya akan berputar-putar di tempat tanpa arah. Jika sayap kiri saja yang bergerak, ia akan jatuh ke tanah. Hanya dengan kepakan kedua sayap secara seimbang, burung itu bisa terbang tinggi melintasi cakrawala menuju tujuan akhirnya.
Ada seorang pemuda yang saking inginnya "fokus akhirat", dia tidak mau bekerja dan hanya duduk di masjid seharian. Saat jam makan siang, dia berdoa, "Ya Allah, hamba hanya ingin fokus pada-Mu, turunkanlah nasi padang dari langit." Tiba-tiba perutnya berbunyi "kruuuk". Temannya yang baru pulang kerja lewat sambil membawa bungkus sate dan berkata, "Bro, Allah memang tidak menurunkan nasi dari langit, tapi Allah menurunkan 'kaki' buat kamu jalan ke warung dan 'tangan' buat kerja nyari duit!" Pemuda itu tersenyum kecut. Ternyata, doa tanpa usaha itu namanya bukan tawakal, tapi "tunggu-akal-sehat" kembali!
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari , Hidup wasathiyah (moderat) adalah jalan ninja bagi mereka yang ingin bahagia dua kali; bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Jangan biarkan duniamu menghalangi sujudmu, dan jangan biarkan ibadahmu membuatmu abai pada tanggung jawab sosial dan ekonomi. Mari kita jalan di tengah, karena di tengah-tengah itulah rahmat Allah bersemi.
"Ya Allah, perbaikilah urusan dunia kami yang merupakan tempat penghidupan kami, dan perbaikilah urusan akhirat kami yang merupakan tempat kembali kami. Amin."
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie