Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Secara psikologis dan sosiologis, pemaksaan keyakinan hanya akan melahirkan kemunafikan, bukan keimanan. Iman adalah produk dari kebebasan berpikir dan kejernihan hati. Wasathiyah dalam toleransi beragama adalah titik keseimbangan antara sikap eksklusif yang memusuhi dan sikap inklusif yang kebablasan. Kita meyakini kebenaran mutlak agama kita, namun kita juga memberikan ruang hidup bagi orang lain untuk meyakini pilihan mereka. Inilah "Ruang Harmoni": kita bisa duduk di meja yang sama untuk urusan kemanusiaan, meski kita bersujud di arah yang berbeda untuk urusan ketuhanan.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ
"Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas perbedaan antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat..." (QS. Al-Baqarah: 256)
لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ
"Untukmu agamamu, dan untukku agamaku." (QS. Al-Kafirun: 6)
2. Pelajaran dan Pesan
Kemuliaan seorang Muslim diuji saat ia berinteraksi dengan mereka yang berbeda. Toleransi bukan berarti kita membenarkan semua keyakinan, tetapi kita menghargai hak asasi manusia untuk memilih keyakinannya. Jangan menjadi Muslim yang merasa berhak menghakimi lahir batin orang lain, karena tugas kita adalah menebar rahmat, bukan menjadi panitia hari kiamat bagi sesama ciptaan-Nya.
Saat Khalifah Umar bin Khattab ra. menaklukkan Yerusalem, beliau diundang oleh Patriark Sophronius untuk shalat di dalam Gereja Makam Kudus (Holy Sepulchre). Namun, Umar menolak dengan sangat lembut. Beliau memilih shalat di luar gereja. Beliau berkata, "Jika aku shalat di dalam, aku khawatir kelak orang-orang Muslim sepeninggalku akan mengambil alih gereja ini dengan alasan 'Umar pernah shalat di sini'." Umar menjaga tempat ibadah umat lain bahkan dari bayang-bayang masa depan. Inilah puncak perlindungan hak beragama yang lahir dari hati yang besar.
Toleransi itu ibarat Bertetangga di Perumahan. Anda sangat yakin bahwa interior rumah Anda adalah yang terbaik dan paling nyaman (keyakinan agama). Tetangga Anda pun berhak merasa rumahnya adalah yang terbaik. Toleransi bukan berarti Anda harus pindah tidur ke rumah tetangga atau merobohkan tembok rumah masing-masing agar menjadi satu. Toleransi adalah Anda menjaga agar musik di rumah Anda tidak mengganggu tidurnya, dan Anda menyapanya dengan ramah saat bertemu di jalan, tanpa harus mencampuri isi lemari bajunya.
Ada seseorang yang bertanya, "Ustadz, kalau saya toleransi, bolehkah saya ikut ibadah ke tempat ibadah agama lain supaya dibilang modern?" Ustadz menjawab, "Begini, Nak. Kalau kamu punya istri yang sangat kamu cintai, lalu ada tetangga merayakan ulang tahun istrinya, apakah cara kamu toleransi adalah dengan ikut menganggap istri tetangga itu sebagai istrimu juga? Tentu tidak, kan? Kamu cukup kirim kue atau ucapkan selamat tanpa harus ikut masuk ke kamar mereka. Toleransi itu tahu batas pagar, bukan merobohkan pintu rumah!"
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia, mari kita pegang prinsip Laa Ikraha fid Diin (tidak ada paksaan) dalam berdakwah, dan teguhkan Lakum Dinukum wa Liya Diin dalam berakidah. Jadilah Muslim yang kokoh imannya namun teduh akhlaknya. Jangan paksa orang lain masuk ke rumah kita, tapi jangan biarkan pula orang lain mengatur apa yang harus kita imani di dalam rumah kita. Itulah indahnya moderasi.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie