Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Dalam teori sistem, keseimbangan (equilibrium) adalah kunci keberlanjutan sebuah tatanan. Begitu pula dalam kehidupan manusia, posisi tengah atau Wasathiyah secara psikologis menciptakan ketenangan karena ia membebaskan kita dari tekanan ekstremitas. Menjadi ummatan wasathan berarti menjadi "titik gravitasi" yang stabil. Saat dunia limbung oleh ketidakadilan ekonomi atau politik yang memanas, seorang Muslim hadir sebagai penyeimbang yang menenangkan jiwa, membawa objektivitas di tengah subjektivitas kepentingan yang liar.
Dalil Al-Qur'an dan Hadis
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا
"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) 'umat pertengahan' agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." (QS. Al-Baqarah: 143)
الْعَدْلُ مِيزَانُ اللهِ فِي الْأَرْضِ، فَمَنْ أَخَذَهُ قَادَهُ إِلَى الْجَنَّةِ
"Keadilan adalah timbangan Allah di bumi, maka barangsiapa yang memegangnya, maka keadilan itu akan menuntunnya menuju surga." (HR. Al-Qudha'i)
2. Pelajaran dan Pesan
Menjadi saksi (syuhada') atas manusia bukan berarti kita berdiri di menara gading untuk menghakimi. Menjadi saksi berarti menjadi contoh nyata. Di dalam keluarga, jadilah penengah yang adil. Di dunia politik dan ekonomi, jadilah penjaga amanah. Keadilan bukan hanya soal hukum di pengadilan, tapi soal bagaimana kita menempatkan hak orang lain di atas ego pribadi kita setiap hari.
Ingatlah saat pembebasan kota Makkah (Fathu Makkah). Rasulullah ﷺ yang selama belasan tahun disakiti, diusir, dan dibunuh keluarganya, kini berdiri sebagai pemenang mutlak. Logika politik dunia akan mengatakan "saatnya balas dendam". Namun, dengan keadilan wasathiyah yang mengharukan, beliau bersabda kepada penduduk Makkah yang gemetar ketakutan: "Pergilah, kalian semua bebas!" Beliau tidak mengambil harta mereka, tidak membalas luka mereka. Itulah puncak keseimbangan antara kekuatan dan kasih sayang.
Muslim yang wasathiyah itu ibarat tiang utama di tengah tenda. Ia tidak miring ke kiri sehingga tenda rubuh, tidak pula miring ke kanan sehingga kain robek. Jika tiang itu teguh di tengah, maka semua penghuni tenda—apa pun latar belakangnya—akan merasa aman dan terlindungi di bawahnya. Tanpa tiang tengah yang adil, bangunan peradaban akan kehilangan keseimbangannya.
Seringkali kita merasa sudah paling adil, padahal baru adil kepada diri sendiri. Ada orang yang kalau makan di restoran, menuntut pelayan harus cepat dan sopan (adil versinya). Tapi giliran dia yang telat bayar utang ke teman, alasannya "Sabar dong, kan sesama Muslim harus saling memaklumi". Ini namanya bukan wasathiyah, tapi wilayah pribadiiyah—maunya menang sendiri. Adil itu kalau kita menuntut hak sesemangat kita menunaikan kewajiban.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia, tugas kita bukan hanya beribadah di dalam masjid, tapi menjadi "saksi Allah" di pasar, di kantor, dan di meja makan keluarga. Mari wujudkan Islam yang wasathiyah: adil dalam berpikir, seimbang dalam bertindak, dan jujur dalam merasa. Semoga dunia melihat keindahan Islam melalui kejujuran kita dalam timbangan dan keadilan kita dalam lisan.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie